Senin, 20 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Solo

Awas Ketiban Pohon di Jalan Slamet Riyadi

Jumat, 20 Oct 2017 14:21 | editor : Perdana

Awas Ketiban Pohon di Jalan Slamet Riyadi

 SOLO – Proyek revitalisasi drainase di Jalan Slamet Riyadi berdampak pada kekuatan akar pohon. Sebab, lahan di sekitarnya dikeruk sehingga akar tak mencengkeram tanah secara maksimal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surakarta mendata terdapat puluhan pohon sepanjang jalan protokol tersebut rawan tumbang.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Sumarno menjelaskan, proyek drainase dikerjakan di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi mulai dari simpang empat Gandekan hingga simpang empat Ngapeman. Yakni dengan pengerukan dan pemasangan box cover berukuran besar.

“Mau tidak mau banyak akar pohon yang harus terpotong. Akhirnya pohon tidak kuat menopang dan kalau jatuh pasti ke sisi utara,” katanya. Artinya, dikhawatirkan menimpa pengguna jalan.

Itu terbukti satu pohon di seberang Hotel Dana Jalan Slamet Riyadi tumbang pada Sabtu (14/10). Padahal, siang itu tidak terjadi hujan maupun angin kencang. Untungnya, nihil korban luka.

“Apalagi usia pohon itu terbilang cukup tua. Kalau akar sudah tidak ada, pasti tidak bertahan lama,” imbuhnya.

Sebab itu, BPBD berpesan kepada masyarakat untuk ekstrahati-hati saat melintas sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Terlebih saat ada angin kencang dan hujan lebat yang berpotensi menyebabkan beban pohon semakin berat.

Saat ini upaya untuk memangkas dahan pohon juga telah dilakukan, meskipun tidak berpengaruh banyak. “Kalau lewat sana (sekitar proyek drainase Jalan Slamet Riyadi, Red) lebih baik bergeser ke sisi utara. Sampai kalau drainase sudah selesai dikerjakan seperti di depan Loji Gandrung,” jelas Sumarno.

Sementara itu, berdasar data BPBD, dari Januari hingga Oktober, terjadi 42 kasus pohon tumbang. Dari jumlah tersebut, tidak ada korban jiwa maupun luka. Adapun titik rawan pohon tumbang yakni Jalan Slamet Riyadi, Jalan Adi Sucipto, Jalan Ir Sutami, dan jalan ring road utara Mojosongo.

Meski banyak potensi pohon tumbang, BPBD memastikan siap melakukan pencegahan dan evakuasi. “Peralatan kita sudah ready semua,” ujar staf logistik dan kedaruratan Arief Fahmi Rahmansyah.

Sementara itu, mulai memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten berupaya mengurangi risiko bencana. Yakni dengan pemetaan daerah rawan. Hasilnya, 76 desa di 13 kecamatan masuk zona merah banjir, tanah longsor dan banjir lahar hujan.

“Kekuatan yang kita miliki hingga saat ini terdapat sekitar 80 personel yang juga sudah termasuk tim reaksi cepat (TRC). Ada sekitar lima hingga tujuh personel setiap sif yang kita siagakan selama 12 jam di pos induk,” jelas Kepala BPBD Klaten Bambang Giyanto, Kamis (19/10).

Terkait daerah rawan bencana, lanjut Bambang, akan terus disosialisasikan kepada masyarakat agar lebih waspada. Dengan begitu dapat mengurangi risiko kebencanaan. “Penduduk yang tinggal di daerah rawan longsor diharapkan pindah sementara ke lokasi aman jika terjadi hujan deras. Penambang pasir manual juga selalu waspada ketika musim hujan. Karena terjadinya hujan di puncak Gunung Merapi bisa terjadi sewaktu-waktu dan berpotensi mengakibatkan lahar hujan di aliran Kali Woro,” bebernya.

Soal anggaran, BPBD Klaten telah membelanjakan Rp 375 juta untuk persiapan kebutuhan logistik, Seperti makanan siap saji, lauk pauk hingga makanan ringan. Termasuk menyiagakan dua perahu karet dan satu perahu dolphin.

Sesuai prakiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak hujan terjadi Desember 2017 hingga Januari 2018. Musim penghujan sudah datang lebih awal dari prediksi sebelumnya.

“Kita juga merencanakan susur sungai terutama di Kali Dengkeng. Untuk memetakan rawan tanggul jebol dan banjir. Penyusuran mulai dari Sengon, Kecamatan Prambanan hingga daerah Juwiring,” jelasnya.

Sebelumnya, 19 organisasi relawan di Kabupaten Klaten menggelar latihan gabungan  di Lapangan Lemah Miring, Desa Paseban, Kecamatan Bayat. Fokus utamanya adalah penerapan pola penanganan korban bencana melalui koordinasi dan pembagian tugas bersama lintas institusi lainnya.

“Tidak semuanya relawan memahami dalam pola penanganan kebencanaan yang kita lakukan selama ini. Maka itu diperlukan latihan tim gabungan. Diharapkan bisa meningkatkan kapasitas masing-masing relawan,” terang Komandan SAR Klaten Pandu Wirabangsa. (irw/ren/wa)

(rs/irw/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia