Sabtu, 25 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Olahraga

450 Atlet Panahan Bakal Serbu Benteng Vastenburg

Sabtu, 14 Oct 2017 16:17 | editor : Bayu Wicaksono

Solo Open Archery Competition

Jumpa pers panitia Sipas Solo Open Archery Competition (SSOAC) 2017. (ADI PRASETYAWAN/RADAR SOLO)

SOLO – Sebanyak 450 atlet panahan akan unjuk kebolehan di kejuaraan panahan Sipas Solo Open Archery Competition (SSOAC) 2017 di Benteng Vastenburg (20-22/10) mendatang. Mereka akan bersaing memperebutkan piala bergilir Wali Kota Solo.

Ketua panitia Bayu Adikusuma mengatakan, kejuaraan panahan Semut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS) Solo Open, bertujuan untuk mempromosikan olahraga panahan di Indonesia. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lombok, hingga Kalimantan Utara. Kejuaraan akan dibagi dalam beberapa kategori, yakni ronde standard bow dan panahan tradisional.

Peserta akan dibagi dalam beberapa kategori usia. Mulai dari standard bow U-10, U-15 dan umum. Sedangkan ronde panahan tradisi (jemparingan) terdiri dari kelas individu, dan beregu untuk setiap kategori pertandingan.

”Ada keunikan dalam kejuaraan besok, khusus kelas panahan tradisi diwajibkan mengenakan pakaian tradisional masing-masing,” jelasnya.

Jemparingan sendiri masih sering dilestarikan di sejumlah tempat latihan di Kota Solo. Sebut saja di daerah Sriwedari. Hampir setiap hari ada beberapa masyarakat berlatih panahan tradisional di samping Gedung Wayang Orang Sriwedari.

”Dari dua kategori, kelas tradisi paling banyak diikuti,” bebernya.

Total ada 88 medali plus enam medali khusus best score putra maupun putri yang siap diperebutkan. Total hadiah mencapai Rp 50 juta. Pemilihan Benteng Vastenburg sebagai lokasi kejuaraan, jelas untuk mengenalkan salah satu bangunan bersejarah di Kota Solo kepada atlet pendatang.

Ketua harian Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Solo, Idya Putra menambahkan, kejuaraan ini untuk mempromosikan kembali panahan tradisi agar kembali dimasukkan dalam cabang olahraga (cabor) Pekan Olahraga Nasional (PON). Sebab, panahan tradisi mulai dihilangkan sejak PON 2012 di Riau.

”Sekaligus sebagai persiapan menatap Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Kota Solo 2018 mendatang. Karena tuan rumah, kami harus mempersiapkan diri dengan baik,” jelasnya.

Dilain sisi, tim tuan rumah mengirimkan 30-an atlet terbaiknya di kelas standard bow, dan 50-an atlet di kelas panah tradisi.

(rs/adi/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia