Senin, 23 Oct 2017
radarsolo
icon featured
Features

Bripka Furi Mulcahyadi, Polisi Teladan Gemar Turun ke Masyarakat

Rabu, 11 Oct 2017 14:57 | editor : Bayu Wicaksono

Bripka Furi Mulcahyadi

Bripka Furi Mulcahyadi (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SRAGEN)

SRAGEN - Salah satu kewajiban seorang polisi adalah mengayomi masyarakat. Prinsip ini benar-benar diterapkan Bripka Furi Mulcahyadi yang saat ini bertugas di Purlat Bagian Sumda Polres Sragen. Atas dedikasinya, dia akhirnya diganjar penghargaan dari Kapolda. Berikut kisahnya.

Wajah Bripka Furi Mulcahyadi tampak berseri-seri ketika menerima penghargaan dari Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono melalui Kapolres dalam bidang penggerak revolusi mental dan tertib sosial di ruang publik bersama sejumlah anggota dari polres lain.

Bertugas di bagian sumda, otomatis menempatkan pria sederhana dan bersahaja ini banyak bertugas di balik meja. Namun demikian, dedikasinya sebagai anggota Polri tetap dilaksanakan untuk mengayomi masyarakat. Meskipun itu di luar jam tugas.

Saat koran ini menemui di ruang kerjanya, dia tampak masih duduk menghadap komputer dan sedang mengetik sesuatu. Namun begitu disapa, dia langsung menghentikan sejenak pekerjaannya dan membalas sapaan.

Pria kelahiran 34 tahun lalu ini mengaku bahwa sebagai anggota Polri, dirinya tetap harus mengayomi masyarakat, meskipun tidak dalam kondisi berdinas. Tugas di balik meja, tidak menghalangi pria ini yang menjabat ketua RW 17 Perum KCVRI Kecamatan Jaten, Karanganyar ini untuk berbuat baik sekaligus beribadah.

Banyak yang dia lakukan untuk berbuat baik. Seperti mengajak para tahanan mengaji dan memberi tausiyah kepada mereka. Tidak hanya itu, setiap Jumat, Bripka Furi menjadi khatib keliling di 20 kecamatan di Bumi Sukowati. Bahkan untuk kegiatan di lingkungan rumahnya, Furi menggerakkan kegiatan warga di kampung yang mulai pudar rasa kebersamaannya.

”Setiap Senin dan Kamis sore usai saya pulang kerja, biasanya mengajar madrasah atau TPA untuk anak-anak di Masjid Al Hidayah di lingkungan rumah, termasuk juga ada jadwal mengaji bersama orang tua, dan mengajar silat untuk anak-anak setiap Minggu,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Furi juga sering membantu masyarakat melakukan rukyah masal. Hal tersebut dilakukan kepada warga yang terkena gangguan gaib. Bahkan jam berapapun dia siap untuk membantu meskipun waktu istirahatnya banyak tersita.

Dia banyak bercerita cukup sering dimintai tolong warga yang terkena gangguan gaib. Bahkan hingga malam hari, dia siap untuk membantu. ”Saya tidak bisa menyembuhkan, hanya Allah yang menyembuhkan. Saya cuma berdoa saja,” jelasnya.

Selain itu Furi juga tidak segan membantu orang untuk bekam. Bahkan dirinya tidak meminta tarif untuk praktik bekam yang dilakukannya. ”Kalau bekam, saya cuma bantu saja. Kebetulan itu salah satu upaya medis yang diajarkan nabi,” tutur Furi yang mulai aktif merukyah sejak 2008 lalu.

(rs/din/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia