Sabtu, 21 Oct 2017
radarsolo
icon featured
Klaten

BATAN Terus Pantau Pengembangan Padi Rojolele

Selasa, 10 Oct 2017 20:05 | editor : Fery Ardy Susanto

Tim BATAN memantau uji coba varietas rojolele di Desa Glagahwangi, Polanharjo, Selasa (10/10).

Tim BATAN memantau uji coba varietas rojolele di Desa Glagahwangi, Polanharjo, Selasa (10/10). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Rojolele dikenal sebagai varietas padi yang pulen dan wangi. Namun, varietas ini terkendala lamanya masa panen yang mencapai enam bulan. Serta ketinggian tanaman yang 170 cm. Tak heran Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan pemulian mutasi radiasi pada bibit rojolele untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sejak 2013, Pemkab Klaten menggandeng BATAN, telah melakukan kerja sama riset pengembangan varietas rojolele. Hasilnya, dari 834 varietas, terpilihlah 20 terbaik. Masuk tahapan uji coba tahan hama. Ditanam di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Desa Glagahwangi, Kecamatan Polanharjo, serta Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari.

”Dari masa tanam 1-6, kami fokus memendekkan umur panen dan ketinggian. Kami melihat masa tanam keenam sudah melihatkan indikasi homogen. Tetapi masih diperlukan pengujian lagi, apakah hasil pemulian mutasi radiasi ini tahan hama atau tidak?” kata Kepala Kelompok Pemulian Tanaman Bidang Pertanian BATAN, Sobrizal kepada Jawa Pos Radar Klaten, kemarin (10/10).

Sobrizal mengungkapkan, saat ini pengujian tahan hama dilakukan di Balai Besar Penelitian Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Jika lolos, maka harus dilakukan penanaman di 16 sentra padi se-Indonesia untuk proses . Ini merupakan syarat benih rojolele yang dikembangkan bisa digunakan para petani secara nasional.

Selama uji coba, BATAN intensif melakukan pengawasan. Hasilnya dievaluasi yang nantinya sebagai dasar pengajuan pelepasan bibit rojolele hasil pemulian mutasi radiasi diajukan kepada Menteri Pertanian. Sebab bibit yang dilepas secara nasional harus memiliki SK dari Menteri Pertanian.

Marjono, petani asal Desa Glagahwangi ikut menguji coba rojolele. Dia mengaku perkembangannya mengalami kemajuan. Dia berharap bisa melahirkan varietas padi rojolele berkualitas.

”Kendalanya selama ini hanya burung saja yang memakan bulir-bulir padinya. Sudah saya semprotkan pestisida, burung-burung tetap datang lagi sehari berselang,” ucap Marjono. (ren/fer)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia