Minggu, 22 Oct 2017
radarsolo
icon featured
Features

Mas Ngabehi Agustinus Daliman, Empu Keris yang Terus Berkarya

Rabu, 04 Oct 2017 16:18 | editor : Bayu Wicaksono

pembuatan keris

Proses menempa besi untuk dibuat keris. (IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI - Keris merupakan salah satu warisan budaya yang berakar kuat dalam tradisi masyarakat Indonesia. Namun tidak banyak orang yang mau terjun menjadi pembuat (empu) keris. Salah satunya adalah Mas Ngabehi Agustinus Daliman Puspo Budoyo. Seperti apa kiprahnya? 

 Suara besi ditempa terdengar bertalu-talu dari kejauhan. Tampak tiga pemuda sedang menempa besi membara secara bergantian. Dua orang memegang palu besar dan satu lainnya menjepit besi merah menyala dengan tang. 

Pemandangan tidak seperti biasanya ini ditemui di Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Minggu lalu (1/10). Acara ini merupakan jamasan pusaka milik Pemkab Wonogiri.

“Ya tidak biasanya, kami diundang ke sini,” kata Mas Ngabei Agustinus Daliman Puspo Budoyo yang merupakan empu keris.

Hari itu, Daliman lengkap membawa para pemande besi dan perangkatnya. Tak lupa, dirinya juga membawa serta keris-keris hasil karyanya. Puluhan keris itu sengaja dipajang di meja pameran disusun rapi. “Ini adalah keris-keris baru, tapi digarap dengan cara-cara tradisional,” kata pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Kemampuan membuat keris ini didapat tidak dalam waktu singkat. Layaknya keris yang ditempa, kemampuan ini juga ditempa sejak 1983 lalu. Saat itu dirinya bergabung di bengkel kerja seni rupa. Seperti uji coba percontohan dalam mengenalkan seni rupa tradisi, termasuk pembuatan keris dan perangkatnya.

“Sampai saat ini, kami masih menggeluti keris, baik pemesanan keris ataupun latihan membuat keris,” katanya.

Untuk pembuatan sebilah keris lengkap dengan waranka dan pendoknya memakan waktu sekitar tiga pekan. Mulai dari penempaan, membuat pamor sampai dengan finishing. “Penempaan ada batu meteor, pasir besi, baja dan nikel. Tapi saat ini besi sudah bentuk cetak, sudah bagus kualitasnya,” katanya.

Selain menerima pesanan, di sanggar seninya juga menerima latihan membuat keris. Banyak anak-anak muda yang datang berlatih membuat keris. Tak hanya dari dalam negeri, warga asing pun ada yang tertarik membuat pusaka warisan bangsa ini.

“Kalau turis, biasanya hanya mencari pengalaman. Maka latihan dipercepat, paling tiga hari. Karena mereka bukan untuk profesi,” katanya.

Biaya produksi untuk pembuatan keris tidak murah. Mulai dari arang, bahan baku seperti baja, besi dan nikel. Kemudian kayu untuk pendok dan warangka. Maka, harga jualnya pun cukup mahal.

“Yang paling murah Rp 1,5 juta dan paling mahal saya pernah buat Rp 50 juta. Tergantung permintaan. Seperti jenis kayu, pamor, ukirannya,” terangnya.

Daliman sangat mengapresiasi para generasi muda yang peduli dengan keris. Bahkan, para perajin keris kini banyak yang muda-muda dengan karya yang luar biasa. Karena itu, pihaknya optimistis warisan budaya leluhur ini akan bertahan di masa mendatang.

(rs/kwl/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia