Jumat, 20 Oct 2017
radarsolo
icon featured
Features

Orkes Melayu Sera: Lahir di Gang Dolly, Besar di THR Sriwedari

Rabu, 04 Oct 2017 15:32 | editor : Bayu Wicaksono

Abah Sholeh

Abah Sholeh

Taman hiburan rakyat (THR) Sriwedari mendapatkan tempat khusus bagi personel orkes melayu (OM) Sera. Grup orkesasal Gresik, Jatim itu tak bisa menolak jika diminta tampil meskipun tidak dibayar.

Loket masuk THR Sriwedari pada Rabu malam (27/9) penuh sesak oleh lautan manusia yang mengantre mendapatkan selembar tiket. Malam itu tampil hiburan musik dangdut yang menghadirkan group dangdut koplo yang tengah naik daun, OM Sera.

Lima biduan juga siap menggoyang antara lain Ina Samanta dan Fibri Viola serta biduan yang kini wira-wiri di televisi, Via Vallen. Pukul 18.30, ribuan Seramania -sebutan penggemar OM Sera, dan Vyanisty, sebutan penggemar Via Vallen yang datang dari berbagai daerah di Eks Karesidenan Surakarta sudah berdiri di depan panggung.

Berbagai poster, spanduk dan bendera dibentangkan. Mereka rela menunggu satu jam demi bergoyang bersama OM Sera dan Via Vallen.

Di belakang panggung, delapan musisi Sera tengah duduk santai sembari bercengkerama ringan. Sesekali gelak tawa terdengar di antara mereka sambil mengeluarkan umpatan sebagai tanda keakraban.

Momen santai itu bubar saat seorang pria paruh baya meminta kru musik untuk cek sound. Dia sendiri hanya duduk santai sembari sesekali memainkan smartphone-nya.

Abah Sholeh, begitu dia akrab disapa. Memiliki nama lengkap Mohammad Sholeh, pria berambut sebahu ini adalah pemilik OM Sera. Ya, berkat tangan dinginnya, Sera yang awalnya hanya nama untuk persewaan sound system untuk hajatan kampung itu kini menjelma menjadi orkes melayu terbesar di Indonesia.

“Tahun 1988 punya usaha sewa sound (system), namanya Sera. Tahun 95 punya orgen tunggal, baru tahun 2000 punya orkes Sera,” ujar Sholeh.

 Sera, diakuinya bukanlah orkes koplo pertama di Indonesia. Dia menyebut ada seniornya, Moneta yang terlebih dulu besar dan merajai dangdut koplo pada zamannya. Niat awal didirikan Sera hanya untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

Sholeh pun tidak berniat menciptakan penyanyi dangdut berkelas yang bisa tampil di televisi setiap hari. Dia memilih untuk mengajak biduan kampung berusia belia sebagai regenerasi penyanyi dangdut.

“Sampai saat ini saya masih punya enam anak SMP dan SMA yang ikut electone dengan saya. Tampil di hajatan kecil-kecil. Nanti kalau sudah jadi, saya ikutkan Sera,” terang pria kelahiran 1973 itu.

Liku-liku menekuni orkes melayu diakuinya tidaklah mudah. Tak kurang dari satu dekade Sera melakukan babat alas di Jatim. Awalnya Sholeh yakin bahwa pasar dangdut koplo bakal meledak di Jatim. Alasanya simpel, dangdut koplo lahir di sana. Otomatis penggemarnya banyak dan pasti pundi-pundi yang didapatkan juga besar.

“Dangdut koplo itu sudah sejak lama. Lahir pertama itu di gang Dolly, lokalisasi di Surabaya. Mereka setiap hari memainkan genre koplo, hingga menyebar ke seantero Jawa Timur,” katanya.

Soal bayaran, bisa dikatakan ironis. Sekali show, Sera membawa tujuh musisi, tujuh biduan dan beberapa kru sound system. Totalnya sekitar 20 orang. Pada 2000, mereka hanya dibayar Rp 3 juta sekali tampil. Praktis angka tersebut hanya habis untuk operasional dan biaya perjalanan kru.

Seiring berjalannya waktu, Sera semakin dikenal oleh masyarakat di Jatim. Mereka juga mengikuti perkembangan teknologi dengan mempromosikan penampilannya melalui dokumentasi dalam bentuk compact disc (CD) yang dijual bebas di pasaran.

Permintaan tampil secara rutin di sejumlah tempat di Surabaya pun disanggupi. Setidaknya 3.000 penonton selalu setia menyaksikan. Tak puas dengan capaian itu, Abah Sholeh mencoba peruntungan mengembangkan dangdut koplo ke luar Jatim. Dia mencari lokasi untuk menggelar konser perdana diluar habitat aslinya.

“Show pertama kali diluar Jatim ya di THR sini, tahun 2001. Kebetulan THR satu manajemen dengan taman hiburan di Surabaya. Kita juga main di sana,” kata Sholeh.

Datang ke Solo pertama kali, Sera mendapatkan respon sangat positif dari pecinta dangdut di Eks Karesidenan Surakarta. Bahkan jumlah penonton di THR memecahkan rekor terbanyak selama Sera manggung.

Girang bukan kepalang Abah Sholeh saat itu melihat 7.000 penonton tumplek blek menonton orkesnya. Diakuinya, sampai saat ini jumlah penonton Sera di THR belum bisa dikalahkan daerah lain. Solo pun menjadi fans base andalan Sera.

“Bahkan nama Seramania dan Vyanisty itu juga dibuat oleh penonton Solo sini. Saat tampil di THR sini juga. Pokoknya luar biasa di sini,” ungkapnya.

Dia tak henti-hentinya berucap jika THR menjadi titik balik Sera menuju kejayaan sampai sekarang. Tak ingin melupakan sejarah tersebut, Sera berkomitmen tetap manggung di THR hingga akhir.

Sholeh selalu siap jika manajemen THR meminta tampil. Saat ini jadwal manggung Sera di THR adalah setiap tiga bulan sekali. “THR tinggal panggil kita, biasanya cuma SMS saja, kita sanggup. Nggak perlu ribet-ribet,” tandas dia.

Kesuksesan Sera otomatis berbanding lurus dengan pundi-pundi yang didapat. Abah Sholeh mengaku sekali show mematok minimal Rp 40 juta. Rata-rata Sera tampil 20 kali dalam sebulan. Bahkan Sera pernah dibayar dengan nilai yang fantastis saat tampil di Freeport Papua. Rp 140 juta.

Ya, nominal tersebut belum transportasi gratis yang disediakan oleh perusahaan tambang itu. Sera dijemput dengan pesawat carter dari Surabaya menuju Bumi Cenderawasih.

Mahal ya untuk mengundang Sera? Kembali Abah Sholeh menegaskan, untuk tampil di THR Sriwedari dia tidak mematok harga. Bahkan jika diminta secara gratis pun Sera akan berangkat.

“Ini demi THR. Kita dibesarkan di sini. Jujur saja, bayaran di sini seadanya. Pasti kita tolak kalau itu yang mengundang bukan THR,” tegasnya.

(rs/irw/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia