Senin, 11 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Features

Mobil Astaka Rakitan UNS Moncer di Jepang

Sabtu, 30 Sep 2017 10:41 | editor : Bayu Wicaksono

Mobil Astaka Rakitan UNS

Mobil Astaka Rakitan UNS (DOKUMEN PRIBADI)

Pantas bila Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyebut bulan ini September ceria. Sebab, sejumlah mahasiswa baru saja mengkuti kompetisi Formula Student yang digelar Society of Automotive Engineering (SAE) di Jepang.

Kompetisi bergengsi itu hanya diikuti perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Selain UNS, ada UNY, UGM, ITS, dan UI. Julian Wisnu Wirawan dan Farlian Rizky Sinaga keduanya mahasiswa jurusan Teknik Mesin UNS berbagi pengalaman ketatnya persaingan selama di Negeri Sakura

mobil astaka, teknik mesin UNS

Mahasiswa dan dosen pendamping UNS saat mengikuti kompetisi SAE di Jepang. (DOKUMEN PRIBADI)

Mereka adalah desainer mobil formula Astaka yang dilombakan pada Formula Student SAE. ”12 mahasiswa dan tiga orang dosen pembimbing berada di Jepang dari 5-9 September,” jelas Julian.

Sebelumnya, UNS pernah berpartisipasi dalam pembuatan mobil Bandung Bondowoso yang juga diikutkan dalam kompetisi serupa. Tapi, karena proses perakitannya terburu-buru, Bandung Bondowoso tidak mendapatkan prestasi.

Dari pengalaman tersebut, Astaka dipersiapkan lebih matang. Sejak akhir Desember 2016, sudah disusun rancangan perakitannya. ”Proses yang lama justru pengujian mandiri untuk mengukur kekuatan dan kecepatan mobil,” jelasnya.

Tantangan melahirkan Astaka berbuah manis. Pada 5-9 September, mobil tersebut mantap diusung ke Jepang bersama 15 tim. Sebenarnya, tim pembuatan Astaka mencapai 30 mahasiswa dan 13 dosen pembimbing. Namun, karena beragam keterbatasan, akhirnya yang berangkat ke Negeri Sakura hanya 12 mahasiswa dan tiga dosen.

Di awal keberangkatan, kelengkapan dokumen administrasi mobil Astaka cukup rumit. Pada hari H kompetisi, tantangan lainnya adalah bahasa yang digunakan untuk presentasi.

”Ada dua bahasa yang menjadi petunjuk. Ketika bahasa Inggris tidak dipahami, maka bahasa lain yang digunakan adalah bahasa Jepang. Sehingga kami harus kehilangan 12 poin karena kendala bahasa saat presentasi,” urai Julian lagi.

Tapi akhirnya tim Astaka dapat masuk ke dalam peringkat 100 besar dari seluruh perguruan tinggi di dunia. Astaka bertengger di peringkat ke-84, bersama enam perguruan tinggi di Indonesia lainnya.

Peringkat pertama dari Indonesia ditempati UNY, disusul UGM dan ITS. Di peringkat keempat, kembali diraih UGM karena mereka mengirimkan dua perwakilan. ”Kami ada di peringkat kelima dan terakhir peringkat keenam adalah UI,” terang Farlian.

Prestasi tersebut menjadi pelecut bagi tim Bengawan FSAE UNS menjadi lebih baik pada kompetisi serupa tahun depan. ”Kalau bisa mobil rancangan kami mendapatkan poin tertinggi. Minimal dari perwakilan Indonesia saja,” tuturnya.

(rs/vit/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia