Rabu, 20 Sep 2017
radarsolo
Wonogiri

Menguak Sejarah Pipo Londo di Kasihan, Wonogiri

Rabu, 13 Sep 2017 10:27 | editor : Bayu Wicaksono

Cerobong asap peninggalan Belanda pada 1800-an masih berdiri hingga sekarang.

Cerobong asap peninggalan Belanda pada 1800-an masih berdiri hingga sekarang. (IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI - Sebuah bangunan tua berupa cerobong asap peninggalan zaman penjajahan Belanda menjadi saksi bisu kejayaan perkebunan kopi di Wonogiri. Warga setempat menyebut cerobong asap itu dengan nama pipo londo yang ternyata bekas pabrik pengolahan kopi.

Pipo londo, demikian masyarakat Kelurahan Kasihan, Kecamatan Ngadirojo menyebut cerobong asap yang terletak di tengah-tengah kebun tebu, tak jauh dari lapangan Kasihan itu. Bangunan masih berdiri gagah. Hanya semen pelapis batu bata yang mengelupas. Dinding yang menghitam, sebagai bukti cerobong itu benar-benar sibuk beroperasi kala itu.

”Ya, pipo londo itu peninggalan Belanda. Kata orang-orang tua, bekas pabrik kopi yang berdiri pada 1800-an,” kata Harsiman, 84, sesepuh Lingkungan Kasihan, Kelurahan Kasihan, Kecamatan Ngadirojo. 

Pria kelahiran 1933 itu mengaku saat dirinya kecil, bangunan itu sudah terbengkalai. Padahal, menurut cerita para tetua desa, saat itu pabrik kopi tersebut cukup besar. Bahkan, daerah Kasihan dulu dikenal sebagai perkebunan kopi. Sebagai bukti, kala itu ada tiga pabrik kopi besar yang berdiri di sekitar Ngadirojo, salah satunya di Kasihan. 

Namun, kebangkrutan sang pemilik menjadi titik awal kehancuran pabrik di Kasihan. Itu terjadi sekitar 1900-an. ”Setelah kopi, dipakai pabrik pewarna. Lalu bangkrut. Kemudian dikelola Mangkunegaran, entah Mangkunegoro berapa, saya tidak tahu,” papar Harsiman. 

Seiring berjalannya waktu, cerobong bekas pabrik kopi itu makin terbengkalai. Bangunan induk pabrik sudah lenyap lebih cepat. Dikatakan Harsiman, material bangunan pabrik diambil penduduk sekitar kala itu untuk membangun rumah-rumah pribadi. Tak jauh dari pipo londo, juga tampak makam cikal bakal penduduk Kasihan. 

”Pada 1960-an ada orang Belanda datang. Tapi mau apa, saya juga tidak tahu. Sampai sekarang ya masih seperti itu,” kata Harsiman.

Selain cerobong, ada peninggalan lain yang menguatkan Kelurahan Kasihan sebagai daerah penghasil kopi kala itu. Sebab, banyak tinggalan bangunan fondasi bekas irigasi kebun kopi peninggalan Belanda. Bahkan, di belakang rumah Harsiman juga terdapat bekas fondasi bangunan yang informasinya merupakan rumah pemilik pabrik kopi. 

”Dulu tidak seperti ini, masih banyak tanaman kopi. Lama-lama jadi seperti ini (gersang),” pungkas Harsiman.

(rs/kwl/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia