Senin, 25 Sep 2017
radarsolo
Features
Radar Solo Award 2017

Pertumbuhan Ekonomi Boyolali Melesat 6,08 Persen

Pelopor Inovasi Perizinan dan Ramah Investasi

Senin, 11 Sep 2017 09:49 | editor : Bayu Wicaksono

Bupati Boyolali Seno Samodro.

Bupati Boyolali Seno Samodro.

BOYOLALI - Program Boyolali pro investasi yang dicanangkan Bupati Boyolali Seno Samodro mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Boyolali cepat berubah ke arah yang lebih positif. Mulai dari perizinan yang ramah dan mudah, ketersediaan infrastruktur memadai, serta luasnya ketersediaan lahan kering.

Proses izin mendirikan usaha yang berbelit-belit tinggal kenangan. Bupati dua periode tersebut memangkas birokrasi sehingga perizinan bisa lebih cepat dan mudah. Itu dibuktikan dengan merampingkan peraturan daerah (perda) yang mengatur perizinan, dari 33 perda, hanya tinggal tiga perta.

“Apalagi sekarang ini dengan adanya program Smart Citty, semua bisa dilakukan dengan cepat dan transparan,” tegas Bupati Seno.

Seno menyebut, pada 2016, total nilai investasi di Boyolali tercatat mencapai Rp 7,92 triliun. Dan tahun ini diproyeksikan lebih besar lagi. Lewat program Boyolali pro investasi, lanjut bupati, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Susu tersebut tumbuh hingga 6,08 persen. Angka itu mengalahkan Solo, Semarang, Surabaya, Bandung, bahkan Jakarta yang pertumbuhan ekonominya rata-rata melambat sekitar 5 persen.

“Tahun lalu, Boyolali memecahkan rekor nasional. Sekelas kabupaten, pertumbuhan ekonomi Boyolali mengalahkan kota-kota besar di Indonesia. Saya sendiri kaget pertumbuhan ekonomi Boyolali bisa 6,08 persen. Sampai-sampai Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengundang saya untuk ke Jakarta,” beber Seno.

Seno optimistis bahwa pembangunan Boyolali saat ini bukan sia-sia. Dengan tersedianya infrastruktur yang baik dan pembangunan besar-besaran, bakal mendongkrak investasi dan menggerakkan sektor riil ekonomi masyatakat.

“Artinya pembangunan Boyolali ini menyentuh masyarakat banyak, menumbuhkan iklim bisnis baru,” ujar bupati.

Dengan begitu, masalah pengangguran cepat teratasi karena penyerapan tenaga kerja dari masuknya investor cukup luar biasa. Berdasar data dari Kementerian Tenaga Kerja, Boyolali menjadi wilayah dengan indeks penempatan tenaga kerja tertinggi di Indonesia. Tercatat ada 647 perusahaan skala besar, menengah, dan kecil yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.  

Bahkan, hingga saat ini, permintaan kebutuhan tenaga kerja yang mencapai 25 ribu orang untuk mengisi posisi di berbagai perusahaan di Boyolali, terutama industri garmen, belum terpenuhi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Bandoe Widiarto menyatakan, pertumbuhan ekonomi di Boyolali cukup atraktif. Selain belanja modal pemerintah yang cukup tinggi, faktor pendorong lainnya adalah iklim investasi naik pesat. “Investasi di Boyoali cukup besar, belanja modal juga dominan,” jelasnya.

Menurut Bandoe, meski pertumbuhan ekonomi tinggi, namun inflasi di Boyolali sangat rendah, yakni 1,8 persen. Padahal, inflasi nasional rata-rata 3,4 persen. Hal ini mengindikasikan harga-harga cukup stabil. “Ini harus dipertahankan. Saya kira tahun ini, tak berbeda dengan tahun lalu,” pungkasnya.

(rs/wid/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia