Kamis, 23 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Features

Berawal dari SLB di Ruang Tamu, Eko Setiyoasih Jadi Tokoh Inspiratif Radar Solo Award 2017

Senin, 11 Sep 2017 09:20 | editor : Bayu Wicaksono

Eko Setiyoasih (tiga dari kir) bersama guru dan anak-anak berkutuhan khusus SLB Anugerah

Eko Setiyoasih (tiga dari kir) bersama guru dan anak-anak berkutuhan khusus SLB Anugerah (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

KARANGANYAR - Jalan yang dipilih Eko Setiyoasih terjal dan penuh duri. Tangis dan hampir menyerah, pernah dirasakannya. Itu menjadi bekal memantapkan perhatiannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dari keluarga kurang mampu.

Didirikan pada 2010, Sekolah Luar Biasa (SLB) Anugerah di Dusun Kepoh RT 05/06 Tohudan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar cukup banyak mengalami perubahan. Dari sisi fasilitas maupun daya tampung ABK.

"Ada 86 ABK yang dibina di sini. 37 di antaranya tinggal di asrama kami," jelasnya Eko kemarin.

Single parents ini fokus memperhatikan kualitas pendidikan bagi ABK sejak 2005. Kala itu, perempuan kelahiran 20 April itu melakukan sistem jemput bola. Di awali memetakan keberadaan ABK yang mudah dijangkaunya. Eko mengunjungi satu per satu keluarga. Pola tersebut berlangsung hingga 2010. Hingga jumlah ABK yang dididik terus bertambah. Kebutuhan bangunan sekolah pun mendesak.

Akhirnya Eko merelakan ruang tamu rumahnya yang tidak begitu luas sebagai tempat darurat mendidik ABK. "Yah kalau dicacimaki, diusir itu sudah biasa," kenangnya.

Pelan tapi pasti, dengan mandiri Eko memenuhi kebutuhan sekolah agar lebih lengkap. Termasuk para pengajarnya. Kini, Eko dibantu tiga orang relawan.  "Kawan-kawan relawan saat itu (usianya) semua di bawah 30 tahun. Awalnya mereka sering berkunjung hingga pada akhirnya meminta izin membantu," jelasnya

Namanya juga relawan, mereka lebih sering tidak mendapatkan honor. Ternyata, hal tersebut diterima dengan ikhlas demi menolong sesama dan berharap rida Allah. "Saya merasa bersyukur ternyata masih ada orang-orang semacam ini yang peduli akan kehidupan anak berkebutuhan khusus," ucap Eko.

Seiring berjalannya waktu, perjuangan Eko sampai ke telinga para donatur. Dia tidak meminta dibantu, tapi ketika ada bantuan, juga tak ditolak. Sebab, keluarga kurang mampu yang menyekolahkan anaknya di SLB Anugerah tidak dipungut biaya. Sebab itu, biaya operasional yang dibutuhkan Eko cukup besar.

"Satu hal yang masih ingin saya raih, yakni pengakuan dari dinas pendidikan tentang sekolah yang saya bina. Karena asrama serupa sudah mendapat pengakuan dari dinas sosial setempat," tutur dia.

Eko dibantu para relawan berusaha mendapatkan legalitas SLB Anugerah. Dimulai Desember 2012, pihaknya mengajukan proposal pendirian SLB Anugerah kepada kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Colomadu.

Surat pertama direspons, kemudian pada 8 Juli 2013 pihaknya mengirimkan surat kepada kepala Dinas pendidikan pemuda dan olahraga Karanganyar. Disusul dengan peninjauan lokasi dan evaluasi. Hasilnya , setahun kemudian Eko mendapatkan izin mendirikan SLB.

Dengan bekal surat tersebut, Eko menyurati dinas pendidikan Provinsi Jateng. Tidak berbalas manis, Eko malah dituduh ada “main” dengan dinas pendidikan Karanganyar yang mengeluarkan surat izin pendirian SLB.

Tak patah arang, Eko tetap memberikan pelayanan kepada ABK. Dia membagi sistem pendidikan menjadi dua tahap. Tahap pertama kelas kecil dengan materi terapi dan kemandirian. Kedua, kelas besar dengan materi keakademikan. 

Cita-cita Eko agar SLB Anugerah mendapatkan legalitas terbuka pada  2016 setelah diundang Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan Ke-72 RI di Istana Negara. Kepada presiden, Eko curhat tentang masalah yang dihadapi. Yakni, agar bisa mendirikan SLB secara resmi harus ada lahan seluas sekitar 3.200 meter persegi. “Saat itu saya disarankan menyurati langsung Pak Gubernur (Ganjar Pranowo)," katanya.

Saran presiden dilaksakanan. Eko bersyukur Gubernur Jateng Ganjar Pranowo merespons dengan melakukan kunjungan ke SLB Anugerah pada Juli 2017. “Beliau berjanji membantu membangun gedung SLB. Sementara tanahnya bisa memakai tanah khas desa (di depan rumah Eko)," jelas dia.

Janji Ganjar tersebut kembali dikukuhkan pada event Radar Solo Award 2017 di The Alana Hotel and Convention Center Solo, Rabu (6/9). Di hadapan ratusan tamu undangan gubernur menyatakan kesiapannya membangunkan gedung untuk SLB Anugerah.

Sedangkan Pemkab Karanganyar bertugas membebaskan tanah khas desa di depan SLB Anugerah saat ini. Bahkan Ganjar mengajak Bupati Karanganyar Juliyatmono naik ke atas panggung lalu keduanya melakukan salam komandio sebagai tanda sepakat membantu SLB Anugerah. Eko berharap, janji tersebut segera terealisasi. Baginya legalitas sekolah adalah hal utama.

Sementara itu, jika memakai nalar, Eko tidak bisa membayangkan dirinya dan para relawan bisa mendidik puluhan ABK secara gratis. Dalam sehari, dia harus menyediakan uang senilai Rp 2.000 untuk 86 murid. Belum termasuk makan siang dan tiga kali makan untuk murid yang tinggal di asrama. “Rezeki itu di tangan Tuhan. Saya nggak tahu bagaimana bisa berlangsung. Yang jelas saya selalu dimudahkan sama yang di atas," pungkasnya.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia