Sabtu, 25 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Features

Seniman Solo Sampaikan Pesan Kebhinekaan lewat Lukisan Payung

Minggu, 27 Aug 2017 09:25 | editor : Bayu Wicaksono

Chosaeri menggoreskan kuas di atas payung hingga menjadi lukisan yang cantik dan menarik.

Chosaeri menggoreskan kuas di atas payung hingga menjadi lukisan yang cantik dan menarik. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Bila kebanyakan pelukis mengekspresikan hasil karyanya di atas kanvas, berbeda dengan Chosaeri. Seniman lukis asal Kota Bengawan ini memilih payung sebagai medianya untuk mewujudkan karya seni yang indah.

Ditemui di rumahnya yang berada di Kampung Tegalrejo RT 01 RW 01, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, pria dengan rambut gondrong yang mulai memutih ini sedang asyik menyelesaikan lukisan di atas payung. Lukisan tersebut rencananya akan turut dipamerkan dalam festival payung bulan depan.

Payung yang awalnya berwarna putih berhasil disulapnya dengan warna-warni menandakan keberagaman Indonesia. Ya, memang tema yang diusung dalam lukisannya kali ini adalah Sepayung Indonesia.

“Jadi ini memang menggambarkan kebhinekaan. Di mana ada orang dari berbagai suku saling bergandengan dengan membawa mendera merah putih. Di atas mereka diteduhkan dengan payung dan di puncaknya ada burung garuda sebagai lambang negara,” terang pria yang akrab dipanggil Pak Cho ini.

Bakat Pak Cho di dunia lukis memang sudah terlihat sejak kecil, bahkan sejak umur 4 tahun, dia mulai menggambar tulisan-tulisan dipertokoan di kawasan Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari. “Waktu itu saya belum bisa baca, tapi sudah bisa gambar tulisannya. Waktu itu memang banyak yang ngece, tapi saya cuek saja,” kelakarnya.

Bakat seninya ini ternyata memang sudah mengalir di dalam tubuhnya. Pasalnya sang kakek memang seorang pelukis. Melihat ada potensi dari sang cucu, sang kakek pun tidak segan-segan menularkan ilmu seninya. Dalam menularkan ilmu, lanjut Pak Cho, sang kakek kerap mengajaknya melihat pertunjukan wayang orang.

Di sela-sela menonton, sang kakek meminta dirinya untuk menghafal satu tokoh wayang yang diperankan. Setibanya di rumah, barulah Pak Cho dimintan untuk melukis karakter tokoh wayang tersebut. “Satu hari satu karakter, terus besoknya nonton lagi, melukis lagi, begitu terus menerus, sampai akhirnya terbiasa. Habis dari wayang orang lanjut diajar melukis pemandangan sosial masyarakat,” ungkap pria kelahiran 16 April 1952 ini.

Berbeda dengan pelukis lain, Pak Cho memilih motif batik sebagai tema lukisannya. Hal ini tidak terlepas dari pekerjaan dia sebagai desainer batik di salah satu butik batik ternama di Kota Bengawan. “Karena orang yang bisa membatik belum tentu bisa melukis, begitu juga sebaliknya. Ini yang coba saya kombinasikan. Selain itu, motif batik juga indah dan yang pasti asli Indonesia,” katanya.

Karena sering diasah, kebiasaan dia dalam dunia lukis pun semakin tajam. Tangannya semakin luwes dalam mengayunkan kuas. Bahkan dirinya bisa melukis tema dari suatu pertunjukan musik, karya ini disebutnya dengan melukis bunyi. “Jadi misal ada pertunjukan musik, kemudian tema musik itu saya visualkan. Melukisnya selama musik itu dimainkan, kalau musiknya selesai, saya juga selesai,” terangnya.

Pak Cho mengaku dari ratusan lukisan yang pernah dibuatnya, satu lukisan yang paling dikenangnya ketika melukis sosok Ratu Pantai Selatan atau yang lebih dikenal dengan Nyi Roro Kidul. Karena untuk membuat lukisan tersebut butuh beberapa tahap dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memunculkan karakter tersebut.

“Harus puasa dulu, harus menyiapkan sesaji dan lain sebagainya. Dan waktu melukisnya juga ada ketentuannya, dan juga harus lewat perantara paranormal sebagai penghubung saya dengan Kanjeng Nyai. Setelah tahu gambarannya secara detail dari paranormalnya, baru saya lukiskan,” ungkapnya.

Puluhan tahun berkecimpung di dunia seni ternyata membuat namanya semakin tenar, sudah tidak bisa dihitung lagi pameran yang dia ikuti, baik di Kota Bengawan hingga luar kota. Dengan mengikuti pameran, satu persatu lukisannya pun habis dibeli peminat lukisan. Harga untuk satu lukisan dibanderol Rp 10 hingga 20 juta..

Pembeli lukisannya juga bukan hanya dari kalangan pengusaha hingga pecinta seni, pejabat seperti Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo beserta Wakil Wali Kota Ahmad Purnomo juga pernah  membeli lukisannya. Bahkan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso juga pernah membeli lukisannya secara langsung.

“Kebetulan beliau satu angkatan waktu SMA. Nah, pas reuni sekolah saya bawa lukisan yang menggambarkan suasana sekolah kita dulu ketika pagi. Tanpa banyak omong, saya langsung diberi uang untuk membeli lukisan tersebut,” kenangnya.

Di usia senjanya, Pak Cho masih memiliki mimpi untuk dapat memamerkan hasil karyanya di tingkat dunia. Dia masih memiliki obsesi untuk membuka sekolah lukis buat anak-anak.

(rs/atn/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia