Rabu, 18 Oct 2017
radarsolo
icon featured
Features

Arif Purwanto, Perajin Jimbe yang Mendunia

Selasa, 08 Aug 2017 09:48 | editor : Bayu Wicaksono

Arif Purwanto, Perajin Jimbe yang Mendunia

Penampilannya sederhana. Tapi tidak dengan hasil karyanya. Djembe atau akrab disebut jimbe buatan Arif Purwanto sudah mendunia.

Pria bertubuh gempal dan berambut gondrong ini memanfaatkan rumahnya yang dinamakan Omah Tuo di kawasan Palur Kulon, Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo sebagai tempat pembuatan alat musik dari Afrika tersebut.

Profesi membuat jimbe diawali Arif dari kegemarannya menggambar dan mengukir. Hobi tersebut dikembangkan selama dirinya berada di Pulau Bali.

“Ini (pembuatan Jimbe) hasil dari ngobrol dan belajar sama orang Afrika Barat yang waktu itu juga di Bali. Mereka sangat open sekali, tidak ada satu pun yang ditutupi. Dari situ mulai banyak tanya mengenai budaya mereka. Salah satunya memperdalam jimbe,” bebernya kemarin (7/8).

Sebelumnya, Arif hanya mengetahui jimbe sebagai alat musik atau suvenir. Namun, anggapannya tidak sepenuhnya benar. Rasa penasaran mendorongnya mempelajari lebih jauh kebudayaan Afrika Barat.

“Ketika saya berada di sana (Afrika Barat) dalam upacara kematian, ternyata sungguh berbeda. Kalau di sini (Indonesia) kan pasti berkabung. Kalau di sana justru bersukacita. Karena leluhur atau saudara yang meninggal satu langkah lebih dekat dengan Tuhan. Ada hal yang kalau dipikir bener juga ya,” urai penyuka kopi hitam tersebut.

Menghabiskan waktu sekitar empat tahun di Afrika, Arif kembali ke Kota Solo dengan membawa segundang ilmu. Ternyata cukup sulit mengenalkan jimbe dengan rasa asli Afrika. Butuh waktu dua tahun menarik minat masyarakat membuka diri dengan musik-musik Afrika. Tak hanya musiknya, tapi juga nyanyiannya.

Sembari terus belajar, proses pembuatan jimbe tidak berhenti. Dia pun berinovasi dengan menyematkan ukiran pada karyanya. Dan yang lebih spesial, tidak ada jimbe buatan Arif menggunakan aksesori senada. Alias one djembe, one design.

“Teman-teman luar negeri menjuluki the special one. Karena saya ingin menaikkan derajat atau nilai jimbe tersebut. Memiliki jimbe dengan desain tiada duanya akan menjadi spesial. Dan pemiliknya akan lebih menghargai,” ujar pria kelahiran 14 Maret 1976 itu.

Hingga sekarang, karya jimbe Arif sudah menembus pasar ekspor. Selain kualitas kayu dan bahan, desain yang unik menjadi daya tarik serta senjata untuk bertahan dengan produk serupa karya seniman lainnya.

Namun, bagi Arif, bisa menjual jimbe ke luar negeri bukan satu-satunya goals. Tujuan utamanya adalah mengenalkan jimbe secara maksimal. Bukan sekadar alat musik. Sebab, dia menilai jimbe ikut mengajarkan tentang leadership.

Berangkat dari situ, mengantarkan Arif mendapatkan restu dari mertua ketika melamar sang kekasih, Desti Hayu Puspanegara. Jiwa leadership yang terbangun dari bermain perkusi membuktikan dirinya sebagai pria penuh tanggung jawab.

Ditegaskan Mas Pur sapaan akrab Arif, apapun yang dilakukan, harus bermanfaat bagi orang lain. Termasuk kehadiran Omah Tuo yang diharapkan bisa menjadi wadah generasi muda memperdalam segala budaya.

(rs/gis/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia