Kamis, 21 Sep 2017
radarsolo
Solo

Semangat Anak dengan HIV dan AIDS, Selalu Dapat Ranking di Sekolah

Senin, 17 Jul 2017 16:13 | editor : Bayu Wicaksono

Anak-anak di Yayasan Lentera Surakarta.

Anak-anak di Yayasan Lentera Surakarta. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

SOLO - Keceriaan menyambut tahun pelajaran baru juga dirasakan anak-anak Yayasan Lentera Surakarta. Meskipun virus Human Immunodefiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Defiency Syndrome (AIDS) menggeroti kekebalan tubuhnya, mereka tak kehilangan cita-cita.


Ada 13 anak yang ditampung Yayasan Lentera Surakarta. Sebagian dari mereka, duduk di sekolah dasar (SD). Sore kemarin (16/7), setelah libur panjang, bocah-bocah ini sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang memilah buku tulis baru, meraut pensil, dan lainnya. 

Begitu pula anak yang usianya paling tua, sebut saja Roy. Dia secara mandiri menyampuli buku tulis dan menyiapkan perlengkapan sekolah lainnya. "Tahun ini saya naik kelas enam. Jadi harus bisa lebih mandiri," ujarnya.

Roy memiliki sikap lebih dewasa dibandingkan teman-temannya yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Ya, lebih banyak mengalah dan mengutamakan kepentingan anak-anak Yayasan Lentara Surakarta lainnya.

Begitu pula dalam hal belajar. Roy menjadi solusi ketika anak lainnya mengalami kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah mata pelajaran Matematika. "Saya paling suka belajar Matematika. Kalau ada yang nggak bisa (menyelesaikan pekerjaan rumah), biasanya tanya saya," bebernya.

Memang tak berlebihan ketika Roy menjadi andalan teman-temannya saat belajar bersama. Sebab, dia selalu ranking sejak kelas satu hingga lima SD. "Tahun ini saya ranking dua di kelas," jelasnya.

Dia pun tak sabar segera bertemu teman-teman sekolah dan para guru untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. SMP negeri favorit di Kota Bengawan menjadi incarannya tahun depan. Soal cita-cita, sungguh mulia. "Pengin jadi guru mengaji," tuturnya singkat.

Anak-anak dengan HIV dan AIDS lainnya juga tak kalah berpotensi dibandingkan Roy. Misalnya, Wati (nama samaran). Murid kelas empat SD ini berbakat dalam bidang menggambar. Sebab itu, nilai pelajaran keseniannya selalu unggul. Mata pelajaran lainnya juga tidak bisa dianggap remeh. "Saya dapat ranking dua di kelas," ucap Tegar.

Enggan kalah dengan kakak-kakaknya, sebut saja Jefri, ketika dewasa dia ingin menjadi pilot. Murid kelas dua SD tersebut sangat suka melihat beragam jenis pesawat terbang. Buku koleksinya mayoritas tentang pesawat terbang dan antariksa. "Saya pengin bawa pesawat dan menembak musuh. Saya pengin jadi pilot," jelasnya.

Semangat anak-anak itu yang menjadi motivasi Puger Mulyono, selaku pengelola Yayasan Lentera Surakarta berusaha keras agar mereka tetap sekolah. "Kami ingin melihat anak-anak ini tumbuh dewasa dan meraih cita-citanya,” jelas Puger.

Namun, upaya tersebut kerap kandas. Kalah dengan keganasan AIDS. Menurut Puger, dari fase HIV menjadi AIDS hanya butuh waktu sekitar enam bulan. "Anak-anak ini tidak tahu apa penyakitnya. Paling sedih kalau melihat mereka meninggal,” ungkapnya.

Anak-anak yang sudah bersekolah itu, lanjut Puger, dirawat pengelola Yayasan Lentera Surakarta sejak masih bayi. Hubungan antara satu anak dengan lainnya, sudah seperti saudara. Karena itu, ketika ada yang meninggal dunia, Puger berusaha menutupi dari teman-temannya.

Dia hanya akan mengatakan bahwa kondisi kesehatan temannya sedang menurun dan harus dirawat di rumah sakit. "Kemarin malam, ( Sabtu 8/7, Red) ada seorang balita yang meninggal. Pihak rumah sakit menyatakan meninggalnya sekitar pukul 20.00. Jenazahnya diambil keluarga pukul 23.00,” urainya.

Puger berharap peran pemerintah menjadi garda terdepan perawatan anak-anak dengan HIV dan AIDS Tersebut. "Kepedulian pada penderita HIV dan AIDS beda dengan kepedulian sosial pada umumnya. Dibutuhkan pionir-pionir yang bisa merawat dan selalu ada untuk mereka," tuturnya.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia