Sabtu, 23 Sep 2017
radarsolo
Solo

PKL Sriwedari: Janji Pemkot Solo Hanya di Mulut

Jumat, 14 Jul 2017 12:40 | editor : Bayu Wicaksono

Selter Sriwedari.

Selter Sriwedari. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Penyegelan selter Sriwedari oleh Dinas Perdagangan (Disdag) pada Rabu (12/7) berbuntut panjang. Meski kini selter telah dilepas, pedagang tak bisa menyembunyikan kekecewaan lantaran  pemkot telah banyak mengingkari janji.

Ketua Paguyuban PKL Sriwedari Guyeng Hartawan alias Wawan mengatakan, pedagang rela melepas unit selter sesuai regulasi. ”Selter yang disegel pemkot dengan senang hati kami serahkan. Kami sepakat untuk mematuhi Perda Nomor 3 Tahun 2008. Kami juga menaati Perwali Nomor 17b Tahun 2012,” ucap Wawan kepada wartawan Kamis (13/7).

Namun demikian, bukan berarti kehidupan ekonomi mereka baik-baik saja. Selama di selter banyak kerugian yang diderita pedagang. Misalnya, sejak dipindah dari city walk Slamet Riyadi, pedagang mengalami kerugian antara Rp 5 juta hingga Rp 9 juta. Ada pedagang yang kemudian mengalami stress dan bahkan meninggal.

”Selama menempati selter itu, kami juga selalu menaati ketentuan pemkot. Tidak pernah ada pemberontakan selama proses pemindahan hingga diresmikan,” papar Wawan.

Namun, kata Wawan, justru pemkot tidak konsisten dengan sikap dan perkataannya. Banyak janji, hingga kini tidak terealisasi.

“Katanya mau dibuka Museum Keris, ada janji event-event di sekitar selter, ada voucher dari bank kepada masyarakat agar beli di Sriwedari. Semuanya itu adalah janji di atas angin alias tidak ada buktinya,” beber dia.

Berulang kali pedagang diminta untuk bersabar, namun menurutnya, pemkot tidak bergerak mewujudkan janjinya. Kini pedagang memilih pasrah. Tidak akan melakukan gerakan apapun terhadap penyegelan selter Sriwedari.

Terpisah, Kepala Disdag Subagiyo memakhlumi sikap yang dipilih pedagang. Baginya, tugas pemerintah adalah menjalankan peraturan yang sudah ada. Ia hanya berharap pedagang memperbaiki semangat berwirausaha agar selter yang ditempati dapat ramai dikunjungi masyarakat.

“Kami ini hanya melayani sesuai aturan. Kalau tidak mau memakai selter itu, banyak yang antre,” pungkas Subagiyo. (ria)

(rs/irw/bay/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia