Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Wonogiri

Tergoda Medsos, Budaya Baca Buku Tergerus

Rabu, 19 Apr 2017 16:10

Tergoda Medsos, Budaya Baca Buku Tergerus

Anak-anak di pedesaan ini asyik membaca buku, meski koleksi mereka sangat terbatas. ()

WONOGIRI - Mengajak anak-anak untuk kembali menekuni budaya membaca buku bukan perkara mudah. Sosial media yang berkembang saat ini merupakan tantangan terbesar bagi upaya menumbuhkan budaya membaca di masyarakat.

Wakil Bupati Wonogiri Edy Santosa mengatakan, engajak anak-anak untuk kembali menekuni budaya membaca buku tentu bukan perkara mudah. Tantangan saat ini sangat besar, kendala yang berat, mengingat munculnya media lain selain buku. 

“Media sosial, seperti Facebook, Whatsapp, BBM, dan lainnya ini menjadi tantangan. Sekarang ini yang terjadi, bangun tidur yang dibuka aplikasi media sosial di hand phone,” kata Edy Santosa dalam Safari Nasional Gerakan Gemar Membaca di pendapa kantor bupati Wonogiri, Selasa kemarin (18/4)

Menurut Edy, fakta ini menjadi tantangan bersama, yang harus dipecahkan dengan langkah-langkah nyata dan strategis dengan melibatkan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat. Selain itu, untuk mengejar ketertinggalan dalam membangkitkan semangat gemar membaca di kalangan masyarakat, ketersediaan buku kualitas baik sesuai tingkat usia dan kebutuhan masih jauh dari mencukupi.

“Maka dibutuhkan buku yang mampu memotivasi, menginspirasi dan mencerdaskan, termasuk membentuk karakter positif,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Pengolahan dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Ofi Sofiana mengakui bahwa saat ini masyarakat Indonesia mengalami transformasi yang hebat akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut survei, Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia, pengguna internet pada 2014 sebanyak 88,1 juta orang dan 2016 meningkat 50,5 persen menjadi 132,7 juta orang, di mana 86,3 juta (65 persen) berada di Jawa. 

“Apa yang dilakukan pengguna internet Indonesia saat online? 64 persen mengakses media sosial, 47 persen menerima email, 47 persen download atau menonton, 44 persen main games, 38 persen membaca, dan 15 persen melakukan jual beli,” paparnya. 

Melihat kondisi tersebut, kata Ofi, Perpustakaan Nasional hadir dalam layanan perpustakaan berbasis digital melalui aplikasi iPusnas yang dapat diakses melalui multi operating system (Android, IOS,ataupun Windows) dan multi device seperti Smartphone, tablet atau desktop. Aplikasi iPusnas ini mengintegrasikan fitur membaca buku digital dengan media sosial.  (kwl/bun)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia