Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Sukoharjo

Petani Tembakau Beralih Menanam Padi

Rabu, 19 Apr 2017 15:52

Petani Tembakau Beralih Menanam Padi

Petani di Kecamatan Gatak panen dengan mesin modern. (RYANTONO P.S./RADAR SUKOHARJO)

SUKOHARJO – Petani di Kecamatan Gatak lebih memilih menanam padi dibandingkan tembakau. Sebab, stok air masih melimpah. Akibatnya terjadi penurunan jumlah produksi tembakau di  wilayah tersebut.

Petani asal Desa Sanggung, Kecamatan Gatak Jumadi mengatakan, sudah dua kali tanam ini memilih menanam padi dibandingkan tembakau. Penanaman padi dilakukan karena melihat kondisi air masih melimpah. Selain itu juga sering turun hujan hampir setiap hari dengan intensitas tinggi.

Kondisi tersebut tak bisa dipaksakan untuk menanam tembakau, karena rawan gagal. Sebab tembakau merupakan tanaman kering dan tak membutuhkan banyak air. Selain itu apabila sering terkena hujan, justru akan menurunkan kualitas bahkan membusuk.

Pilihan menanam padi dikatakan Jumadi juga dilakukan oleh mayoritas petani lainnya. Sebab petani berharap bisa mendapatkan keuntungan lebih dengan menanam padi. Apabila memaksakan menanam tembakau maka kemungkinan bisa merugi.

”Biasanya memang tanam tembakau, tapi sekarang sudah dua kali tanam ini pilih tanam padi. Petani yang menanam tembakau sekarang turun drastis. Padahal Kecamatan Gatak jadi sentra tanaman tembakau,” jelas Jumadi.

Jumadi mengaku baru saja melakukan tanam padi musim tanam II (MT II) beberapa waktu lalu. Sebelumnya panen MT I sudah dilakukan pada pertengahan Maret. ”Sawah hanya diistirahatkan setengah bulan, kemudian langsung tanam padi lagi,” lanjutnya.

Penanaman tembakau dikatakan Jumadi kemungkinan akan dilakukannya pada MT III. Sebab disaat ini kondisi cuaca kemungkinan sudah masuk kemarau dan stok air mulai berkurang. Namun bila kondisi tak berubah seperti sekarang, maka nantinya tetap akan menanam padi.

”Cuaca sekarang sulit diprediksi, tanam tembakau mungkin saat MT III. Tapi kalau masih sering hujan maka tetap pilih tanam padi daripada memaksakan tanam tembakau justru rugi,” paparnya.

Petani lain asal Desa Sanggung, Kecamatan Gatak, Sutopo mengatakan, dari tiga kali tanam biasanya memang dua kali menanam tembakau saat MT II dan III. Penanaman padi hanya dilakukan pada MT I saja. Namun sekarang berubah mengikuti kondisi cuaca sering hujan. ”MT I dan MT II ini saya pilih tanam padi, tanam tembakau kemungkinan baru MT III,” jelasnya.

Peralihan penanaman padi, tembakau ke padi sudah diperhitungkan oleh petani. Sutopo mengaku bisa mendapatkan keuntungan hampir sama. “Perawatan padi lebih sulit dibanding tembakau, apalagi sekarang kondisi lembab dan rawan serangan hama seperti wereng dan keong,” papar dia. (yan/edy)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia