Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Boyolali

Modal Pelaku UMKM Masih Terbatas

Rabu, 19 Apr 2017 18:30

Modal Pelaku UMKM Masih Terbatas

Pameran UMKM di Pendopo Ageng Boyolali, kemarin (18/4). (TRI WIDODO/RASO)

BOYOLALI – Kemauan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Boyolali harus diakui. Di tengah ketatnya persaingan usaha dengan usaha industri, serta terbatasnya modal, tapi perkembangannya terus menunjukkan tren menanjak. Nah, supaya geliat UMKM di Boyolali semakin kuat, dibentuklah Komunitas Wirausaha Mikro (Kowim) Boyolali.

Kowim di-launching di Pendapa Gedhe Komplek Setda Terpadu Boyolali, kemarin (18/4). Ketua Kowim Boyolali, Toyo berharap agar pelaku UMKM Boyolali kuat. Maka harus ada kebersamaan. Sehingga setiap ada permasalahan yang dihadapi, bisa dipecahkan bersama-sama.

”Kalau berdiri sendiri-sendiri, maka tak akan bisa besar dan tak akan kuat. Sebab hambatan dan cobaan itu selalu ada. Untuk itu, dengan adanya Kowim ini, diharapkan bisa menguatkan pelaku UMKM agar semakin produktif,” katanya kepada Radar Boyolali.

Toyo menyebutkan, pelaku UMKM di Boyolali, yang gabung dalam komunitas ini ada 70 orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah. Seiring dengan jumlah dan minat UMKM untuk bergabung. ”Kami mendapat banyak pertanyaan dari pengusaha UMKM terkait Kowim dan mereka menyatakan minat untuk bergabung,” bebernya.

Pelaku UMKM Boyolali termasuk pengusaha ulet. Sebab mereka tak pernah mengeluhkan keadaan. Tapi justru terus meningkatkan jenis dan produktivitasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Dinkopnaker) Boyolali, Agus Partono menyambut positif berdirinya Kowim. Pihaknya akan terus berupaya mendorong kegiatan UMKM. ”Bahkan, kami bakal mengirimkan UMKM terbaik di Boyolali dalam pameran di Moskow, Rusia, Agustus mendatang,” ungkap Agus.

Seorang pelaku UMK, Hilda mengakui, dirinya memproduksi aneka jenis makanan ringan atau snack. Semula, dia hanya memproduksi makanan berdasarkan pesanan. Namun, kini sudah bisa berproduksi rutin setiap hari.

”Selain melayani pesanan, juga dijual ke warung dan toko- toko. Kuncinya memang ulat dan pandai- pandai memanfaatkan peluang. Namun, modal memang masih menjadi kendala saya,” tandasnya. (wid/fer)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia