Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Klaten

Yang Sering Membuang Sampah Sembarangan Wajib Baca Ini, Menginspirasi..

Lebih Dekat dengan Agung Seira, Pembudidaya Keramba Ikan di Kali Bajing

Rabu, 19 Apr 2017 10:50

Yang Sering Membuang Sampah Sembarangan Wajib Baca Ini, Menginspirasi..

Agung memperlihatkan keramba ikan yang dirintis bersama anggota Mina Makmur. (ANGGA PURENDA/RADAR KLATEN)

KLATEN - Keprihatinan Agung Seira, 32, terhadap kondisi Kali Bajing di Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan yang dipenuhi sampah memacu pengelolaan sungai melalui pengembangan keramba ikan tawar. Lantas misi apa yang sebenarnya dibawa Agung?

Sepanjang dua kilometer wilayah Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan dilintasi sungai yang dikenal dengan sebutan Kali Bajing. Sayang, air yang mengalir di sungai ini didominasi warna coklat, karena berdekatan dengan lahan persawahan.

Menariknya, pada salah satu sisi sungai tersebut terdapat semacam keranjang berbentuk kotak terbuat dari bilah kayu. Ukuran lebarnya 1 meter dan panjang 4 meter dengan ketinggian 1 meter. Didalamnya berisikan ratusan bibit ikan Nila dan Bawal yang sengaja dibudidayakan dengan mengandalkan aliran air Kali Bajing.

Keberadaan keramba yang digunakan untuk membudidayakan ikan tawar tak bisa dilepaskan dari kontribusi pemuda setempat. Salah satunya Agung Seira, 32, warga Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan yang selama ini getol dengan pengembangan keramba ikan tersebut.

“Keramba ikan ini berawal dari obrolan anak muda di kampung kami yang merasa prihatin dengan kondisi Kali Bajing. Banyak sampah rumah tangga, seperti plastik hingga popok bayi bisa ditemukan disana. Hal ini membuat lingkungan di sekitar sungai menjadi sangat kotor,” papar Agung saat ditemui dikediamannya, Selasa (18/4).

Kondisi itu membuat Agung bersama pemuda lainnya di Desa Pakahan, terpacu mengembalikan kualitas air di Kali Bajing. Salah satu stimulannya dengan melakukan pengembangan ikan tawar memanfaatkan aliran Kali Bajing sebagai langkah awal. Guna mendukung pengembangan ikan itu juga dilakukan pembendungan tanpa menutup sepenuhnya sehingga air masih dapat mengalir.

“Awalnya teman-teman ingin melakukan pengembangan burung. Tapi saya memandang lebih baik mencari yang lain dan kita pilih pengembangan ikan air tawar. Soalnya sekalian kita ingin mengajak masyarakat untuk bisa menjaga kebersihan dan ekosistem Kali Bajing,” jelasnya.

Dijelaskan pengembangan budidaya ikan tawar keramba memang baru berjalan satu bulan. Namun kegiatan itu didukung dengan hadirnya kelompok pembudidaya ikan Mina Makmur yang berjumlah 20 orang. Setiap minggunya para anggota diwajibkan iuran Rp 10 ribu yang digunakan untuk membuat keramba.

Memang kedepannya 20 anggota tersebut akan memiliki keramba secara pribadi di Kali Bajing disepanjang 500 meter. Menurutnya, iuran jadi salah satu strategi agar para anggota bisa membuat keramba secara mandiri tanpa adanya beban. Pasalnya, jika ditotal setiap kali membuat keramba berukuran lebar 1 meter dan panjang 4 meter menghabiskan hingga Rp 400 ribu.

“Saat ini kita masih dipandang sebelah mata oleh sebagian warga. Tapi saya yakin kalau kita sudah berhasil dalam mengembangkan budidaya ikan tawar ini pasti mereka juga akan tertarik. Tapi yang pasti kami ingin menyadarkan warga dulu terkait pengelolaan sungai agar bisa dijaga kebersihannya. Kalau kita mengembangkan ikan seperti ini di Kali Bajing, pasti mereka akan malu jika mau membuang sampah ke sungai,” pungkasnya. (ren/edy)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia