Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Sragen

Kiprah Alumni UNS: Sri Pambudi, Anggota DPRD Sragen

Belajar Hadapi Tekanan

Senin, 13 Mar 2017 15:32

Kiprah Alumni UNS: Sri Pambudi, Anggota DPRD Sragen

()

SRAGEN - Menjadi salah satu alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sri Pambudi. Karena dia berhasil menyingkirkan puluhan ribu pendaftar untuk masuk ke fakultas teknik sipil ke salah satu perguruan tinggi favorit tersebut.

Banyak kenangan manis dan berguna selama menjalani masa masa kuliah di kampus hijau tersebut. Anggota DPRD Sragen dari Partai Golkar ini sempat menyampaikan kenangannya ketika masih awal menjadi mahasiswa angkatan 2000.

”Jadi waktu itu Ospek, saat itu tugas yang diberikan senior memang memang banyak yang tidak masuk akal. Namun, setelah dirasakan sekarang, ternyata memang ada pelajaran penting soal bagaimana cara menghadapi tekanan,” ujarnya, kemarin.

Sri Pambudi berkisah pada saat itu sejumlah tugas mustahil harus diselesaikan dalam semalam. Seperti mencarikan botol sprite yang berwarna merah. ”Saat itu saya kreasi botol sprite yang ada dengan warna merah, ya memang harus begitu,” tandasnya.

Dia mengatakan, sebagai mahasiswa sipil saat itu dituntut untuk membuat terobosan dan inovasi. Karena dalam dunia kerja, teknik sipil memang sangat membutuhkan kreativitas dan inovasi. ”Saya akhirnya sadar ini sangat berguna bagi dunia kerja,” terangnya.

Tidak hanya itu, ikatan kekeluargaan Jurusan Teknik Sipil UNS sangat kuat. Mereka mempunyai empati terhadap orang lain. Dia ingat saat itu ada petugas parkir di FT terkena musibah. Salah seorang mahasiswa dari luar FT yang  kebetulan memarkir motor di lingkungan FT kehilangan motornya. Lantaran tidak terima, mahasiswa tersebut minta ganti rugi.

”Saat itu kami dari mahasiswa teknis sipil urunan membantu biaya ganti kepada penjaga parkir tersebut,” ujarnya.

Sebagai alumni UNS, Pambudi mengaku sangat bangga pernah mengenakan almamater universitas yang merayakan dies natalis hari ini. Sarjana teknik lulusan 2015 tersebut mengatakan, yang dia rasakan saat mengenyam kuliah di UNS adalah penuh rasa kebersaamaan.

Beragam suku dan bangsa dari seluruh Nusantara  banyak yang menempuh pendidikan di UNS. Tidak ada rasa berbeda satu dengan yang lain. Hal tersebut membuatnya bangga, karena seharusnya seperti ini Indonesia,  di mana saling toleransi dan menghargai.

Sri Pambudi berharap UNS semakin maju dan berkembang lebih baik. Para penggerak UNS mulai dari rektor sampai staf terbawah harus sadar dan bekerja sebaik mungkin untuk mengharumkan nama kampus. ”Dari staf hingga top leader harus menjaga kualitas universitas agar lebih baik,” ujarnya.

Dia sendiri sangat bangga menjadi alumnus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia tersebut. Dia berharap agar para pemuda khususnya asal Sragen untuk melanjutkan jenjang pendidikan di UNS.

 

 

 

Belajar Loyalitas dari sang Ayah

Mungkin masih jarang ketika mahasiswa  jurusan teknik sipil justru melanjutkan karir di dunia politik. Namun Sri Pambudi mampu menjalani proses dengan baik sebagai politisi. Bahkan dia mengaku belum sempat bekerja di bidang sesuai latar belakang. 

Dia mengaku terinspirasi menjadi anggota dewan lantaran ayahnya Maryono merupakan salah satu anggota DPRD Sragen periode terlama di Bumi Sukowati. Yakni menjabat sebagai wakil rakyat selama lima periode.

Dari enam bersaudara, Sri Pambudi merupakan anak kelima dan satu-satunya yang terjun ke dunia politik. Kakaknya sebagian menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan pengusaha. Sementara adiknya baru lulus kuliah.

”Langkah ini melanjutkan bapak berkarir di bidang politik. Bapak sendiri sebenarnya menyarankan anak-anaknya menjadi PNS, tapi bapak sendiri waktu itu memilih pensiun dini dari PNS dan melanjutkan karir politiknya pascareformasi,” terang pria yang kini duduk sebagai ketua Komisi II DPRD Sragen. 

Dia mengaku konsisten dengan jalan politiknya di Partai Golkar. Salah satu pesan ayahnya yakni dirinya bisa mencapai posisi sekarang ini, bisa kuliah dan sebagainya karena Partai Golkar. Pada saat reformasi sebenarnya ayahnya banyak tawaran untuk pindah partai, namun tetap konsisten dengan jalan yang ditempuh.

”Awal reformasi saat itu Partai Golkar jatuh dan banyak tawaran untuk berpaling, tapi bapak tetap konsisten. Masa kejayaan partai ikut, saat terpuruk pun tetap setia,” ujarnya.

Meski banyak suka dan duka selama menjalani karir politik. Namun, pihaknya akan terus belajar dan berusaha agar lebih baik demi bekerja melayani rakyat. (din/bun)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia