Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Solo

Kiprah Alumni UNS: Narayana Soedewo

Orang Bule Banyak yang Suka

Senin, 13 Mar 2017 15:02

Kiprah Alumni UNS: Narayana Soedewo

()

SOLO - Apa yang kebanyakan dilakukan para sarjana strata 1 (S1) yang baru saja lulus alias fresh graduate? Rata-rata langsung sibuk membuat puluhan lamaran pekerjaan, curriculum vitae (CV), dan lainnya untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan.  Berharap bisa dilirik salah satu perusahaan untuk menjadi karyawan atau tenaga kerja.

Tapi, hal ini tidak berlaku bagi Narayana Soedewo, 48. Alumni Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini justru memilih jalan lain di luar kebanyakan. Dia mengibarkan bendera sebagai wirausahawan begitu meraih predikat sarjana pada 1993 lalu.

“Sebenarnya dulu waktu kuliah, cita-cita saya jadi pegawai bank. Lantas saya ketemu sama ayah kawan baik saya. Beliau adalah seorang pebisnis yang bergerak di perusahaan otobus. Saat itu saya dinasihati agar berani terjun ke dunia wirausaha. Dari situ minat bisnis saya timbul,” papar pria yang akrab disapa Nono itu kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di kantornya di Tirtamaya Residence, Gentan Kamis (9/3).

Nono sadar masuk ke dunia usaha tentu akan selalu bersinggungan dengan kompetisi yang kadang tak bisa diprediksi. Namun, bagi dia iklim kompetisi bukanlah hal yang baru. Hal itu sudah ia rasakan saat masih duduk di bangku kuliah dengan kondisi kampus UNS yang kompetitif antarsesama mahasiswa.
 

”Satu hal yang selalu saya ingat adalah suasana kompetitif antarmahasiswa kala kuliah. Zaman dulu kan masuk UNS itu susah banget. Buat cari IPK 2,7 aja sulitnya minta ampun. Makanya, terbukti lulusannya banyak yang berhasil di berbagai bidang,” ujar Nono.

Sebagai anak rantau, Nono pun punya daya juang yang cukup tinggi. Rampung kuliah, tepatnya di usia 27 tahun, Nono mulai mengambil alih usaha milik keluarga yang bergerak dalam bidang alih daya. Yakni PT Binajasa Sumber Sarana (BSS) yang sudah ada sejak 1986. Kendati tergolong meneruskan, bukan berarti dia tinggal leha-leha sambil kipas-kipas.

Di awal menjalankan PT BSS, Nono sempat ragu dan minder dengan kemampuan yang dimiliki serta minimnya pengalaman berinteraksi dengan orang lain. ”Sempat minder karena partner kerja perusahaan kan sudah banyak dan orang asing. Tetapi, itu kemudian yang membuat saya makin tertantang untuk bisa melayani permintaan mereka,” ucap pria pehobi otomotif ini.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan warisan yang awalnya hanya memiliki 100 orang pegawai terus berkembang pesat. Hingga saat ini telah memiliki sekitar 2.600 pegawai. Diungkapkan Nono, di Jakarta perusahaan di bidang jasa semacam PT BSS sangat bagus prospeknya. “Alih daya artinya borongan pekerjaan dalam berbagai bidang. Singkat cerita, kami menyediakan SDM (sumber daya manusia) baik dalam maupun luar negeri dalam berbagai bidang usaha,” jelas Nono.

Tak puas hanya satu perusahaan, ayah dua anak ini pun  mulai melebarkan sayap dengan mengembangkan usaha di berbagai lini. Nono punya dua bidang bisnis yang sangat prospektif sepanjang masa, yakni properti dan kuliner.

Di bidang kuliner, ia mendirikan sebuah kafe di salah satu kawasan ekspatriat di Jakarta Selatan, yakni di Kemang. Kafe tersebut menyajikan berbagai kuliner khas Manado dengan suasana santai ala garden resto. “Di Kemang itu prospeknya baik. Orang-orang bule kan banyak yang suka makanan Manado,” ujar dia.

Sementera itu, untuk bidang properti, Nono memulainya di Solo pada 2002. Dia membangun real estate Tirtamaya Residence di Gentan, Sukoharjo pada awal 2007. Permukiman elit tersebut dibangun dengan konsep terbaik di Solo dan sekitarnya.

Tampilan asri dengan konsep green living tersebut dibagi dalam berbagai cluster yang sangat diminati pasar. ”Intinya, ilmu ekonomi terus saya terapkan dalam setiap menjalankan usaha. Makanya, buat mahasiswa yang pengin terjun dalam dunia wirausaha, jangan tanggung-tanggung. Yang penting ulet, konsekuen, dan integritas,” tegas anggota Real Estate Indonesia (REI) Solo itu.

Mengenang kembali masa-masa kuliah di UNS, dari kesekian kisah menarik, ada satu cerita yang paling terkenang. Di kampus ungu itulah Nono bertemu dengan seorang gadis yang memesona hatinya. Gadis itu adalah Burniandika Sukma Sari, mahasiswi Desain Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS itu yang kini mendampinginya menjalani suka dan duka mengarungi bahtera rumah tangga.

Pertemuan keduanya berawal dari pertandingan bola basket antarfakultas. Dari sana hubungan terus berlanjut menuju pelaminan hingga kini telah dikaruniai dua anak, Aysha Soedewo dan Almer Raihan Soedewo. “Saya bertemu istri juga di UNS. Makanya, UNS punya satu cerita dalam perjalanan hidup saya,” pungkas dia.

 

Harapannya Bisa Semulus di Eropa

Lantaran hobi menunggangi supercars, Narayana Soedewo kerap plesiran ke berbagai negara di Benua Eropa. Pengalaman mengendarai mobil berkapasitas super di jalanan Eropa yang sangat memadai, membuat anggota club pecinta supercars di Ibu Kota itu berharap, suatu saat infrastrutur di Indonesia bisa sebagus seperti di benua biru itu. 

Bagi Nono, plesiran ke berbagai kota merupakan obat ampuh melepas penat dari rutinitas pekerjaan sekaligus untuk kopi darat bersama sesama pecinta supercars. Dalam satu bulan, ia bisa touring sebanyak dua hingga tiga kali. ”Ya istilahnya hanya panasin mesin,” ucap Nono.

Tak hanya ber-haha hihi, kalau sudah berkumpul para pehobi mobil mesin besar yang rata-rata merupakan  pengusaha tersebut juga kerap bertukar informasi bisnis. Informasi apapun, termasuk perkembangan pasar kendaraan superscars yang paling baru.

“Ya biasalah, karena basiknya semua pengusaha, obrolannya ya ke mana-mana. Tetapi kami selalu membatasi waktu untuk senang-senang dan waktu untuk bisnis,” papar pria 48 tahun itu.

Pria yang menjabat sebagai pembina di SpeedGonz Sports Car Club Jakarta ini juga pernah plesiran ke beberapa negara di Eropa. Nono mengatakan, perjalanan dengan kawan-kawannya tersebut terjadi sekitar 2015. Kala itu, dirinya bersama delapan kawan berangkat dari Indonesia menggunakan pesawat terbang menuju Belanda.

Perjalanan dilanjutkan naik kereta menuju Jerman. Dari sana, rombongan juga melanjutkan persinggahan di sejumlah negara. ”Habis itu, langsung tancap pakai supercars menuju Austria, Switzerland dan berakhir di Kota Milan, Italia. Kala itu kami pakai Porsche dan Jaguar dengan kecepatan rata-rata sampai 250 kilometer per jam,” beber Nono penuh semangat. 

Pengalaman menyenangkan mengendarai supercars di atas aspal yang sempurna menciptakan kerinduan akan jalanan dan infrastruktur yang lebih baik. Ia berharap, suatu saat infrastruktur di Indonesia bisa sebaik seperti di Eropa. Salah satu poin pentingnya, sambung Nono, adalah di penguatan sistem drainasenya.

”Buat jalan kuat-kuat dan bagus-bagus kalau drainase belum baik, ya pasti akan cepat rusak. Jalanan di Eropa bagus sekali. Kami banyak belajar tentang jalanan di sana, lalu lintasnya juga tertib. Sehingga keindahan alam dan potensi wisata di sana juga bisa makin terekspose,” pungkas anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS itu. (ves/ria)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia