Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Solo

Kiprah Alumni UNS: Dr. Muhammad Taufiq S.H., M.H

Suka Debat Ilmiah

Senin, 13 Mar 2017 14:55

Kiprah Alumni UNS: Dr. Muhammad Taufiq S.H., M.H

()

Kampus sebagai kawah candradimuka ilmu pengetahuan benar-benar dipahami oleh Muhammad Taufiq. Namun baginya, menjadi mahasiwa tidak cukup dengan datang, duduk mendengarkan dosen menyampaikan materi kuliah, kemudian pulang. Harus ada aktivitas “gila” agar menjadi mahasiswa yang paripurna.  

Ada tiga tipe mahasiswa versi Taufiq. Mahasiswa salon, sedikit aktivis dan mahasiswa bisnis. Mahasiswa salon dapat dijumpai hingga saat ini. Kampus yang memiliki iklim ilmiah disulap menjadi catwalk para mahasiswa tipe ini. Bergaya bak model mulai ujung rambut hingga kuku kaki.

Kemudian Mahasiswa sedikit aktivis. Sering demo di luar, tetapi tetap menurut dengan dosen saat di kelas. Tipe terakhir adalah mahasiswa bisnis. Di mana mereka belajar sekuat tenaga, lulus dan mengembangkan bisnis. Taufiq mengaku tidak masuk ketiga-tiganya. “Saya waktu mahasiswa tipenya pemberontak,” ujarnya.

Pria yang lulus sarjana hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) 1991 ini datang ke kampus dengan membawa otak berisi gagasan dan wacana yang membangun serta berpihak kepada rakyat kecil. Ia datang bukan masuk ke kelas, tetapi turun ke jalan, menggelar demonstrasi. Ya, selama masa studi, waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan daripada di kelas. Ia melakukan aksi menentang program-program kampus yang merugikan mahasiswa, hingga aksi melakukan advokasi warga tertindas di luar kampus.

Sewaktu di kampus pun ia aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa. Sebut saja Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Novum. Organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik itu sedikit banyak menjadi pelampiasannya dalam menulis. Tak hanya jago kandang, tulisannya kala itu mampu menembus surat kabar lokal maupun regional. Pemikiran-pemikiran dia lebih banyak mengangkat tema kemanusiaan atau penolakan penindasan kaum lemah.  

Meski banyak di jalanan, pria yang pada 2002 mendapatkan gelar magister hukum ini cukup konsekuen. “Kalau pas masuk kelas, saya tidak mau belajar dengan buku teks yang dipegang dosen. Saya sukanya membaca buku induk yang berbahasa Inggris atau Jerman di perpustakaan.  Buku pegangan kecil itu saya sobek, karena tipis sekali. Belajar hukum tidak mungkin hanya dengan kertas tipis seperti itu. Tapi harus banyak membaca,” katanya.

Karena doyan membaca itulah yang membuat pengetahuannya jauh di atas rata-rata mahasiswa lain seangkatannya. Bahkan, ia berani berdebat dengan dosen yang mengajarnya. Dengan catatan, debat tersebut bukan asal debat kusir tanpa dasar, melainkan dilakukan secara ilmiah.

Soal pengalaman debatnya ini, Taufiq memiliki pengalaman tersendiri. Dalam satu mata kuliah yang diampu dosen cukup senior, dia mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. Tak terima dengan penilaian itu ia pun protes dan mendebat dosen tersebut.

“Saya bilang tidak terima dengan nilai yang diberikan. Masak mahasiswa yang menjawab seperti dalam teks book nilainya bagus, sedangkan saya yang memakai sumber buku lain nilainya jelek? Saya katakan bahwa pandangan saya terhadap kasus yang menjadi soal adalah begini, menurut teori ini, ada di buku ini. Saya jelaskan secara gamblang. Dan akhirnya dosen itu memberi nilai yang baik,” katanya.

Satu kasus yang dialaminya ternyata menjadi buah bibir seluruh staf pengajar di fakultas. Akhirnya hampir seluruh dosen memberikan nilai yang baik. Penilaian itu diberikan lantaran memang kapasitas pengetahuannya yang mumpuni.

“Karena selain banyak buku yang saya baca, pengalaman di lapangan juga menjadi faktor utama. Yang lain cuma kuliah, saya sudah ikut advokasi masyarakat yang tertindas,” katanya.

 

Hukum Tak Sekadar Memenjarakan

Persepsi masyarakat ketika mendengar kata hukum selalu identik dengan penjara. Muhammad Taufiq ingin meluruskan anggapan tersebut agar kembali ke jalan yang benar, bahwa hukum untuk keadilan.

Di sela-sela aktivitasnya di MT&P Law Firm, firma hukum yang didirikannya, Taufiq tetap mengabdikan diri di kampus yang telah membesarkannya, yakn Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Mengabdi, adalah kata yang dipilih sebagai alasan untuk membalas jasa alamamaternya. Hingga kini doktor ilmu hukum ini ikut menjadi pengajar di Fakultas Hukum UNS.

 

Mengulas ketertarikannya dalam dunia hukum, pria yang juga aktif menerbitkan buku-buku bertema keadilan, hukum dan demokrasi ini sejak kecil mengaku memiliki hobi membaca. Bahkan di usia sekolah menengah pertama (SMP), Taufiq kecil melahap habis buku yang berisi pembelaan pengacara senior Adnan Buyung Nasution dalam kasus Abu Bakar Ba’asyir. Sebuah buku tebal yang bagi anak-anak seumurannya belum tentu mengenal nama yang dimaksud dalam buku itu.  “Saya banyak belajar dari baca buku-buku itu,” katanya.

Memasuki jenjang sekolah menengah atas(SMA), ketertarikannya terhadap hukum semakin tinggi. Ditambah lagi kepekaan terhadap kehidupan sosial juga terus terasah. Selalu menjadi juara pararel kelas 1 dan 2 (kini X dan XI) di SMA Negeri 3 Solo, Taufiq memilih untuk masuk jurusan ilmu pengetahuan sosial(IPS). Keputusan yang mengejutkan bagi sebagian teman dan para gurunya saat itu. Namun ia memang orang yang “keras kepala” dalam mempertahankan keinginan.

“Saya orang yang konsekuen. Saat kuliah saya dikenal orangnya ngeyel. Demo ke sana kemari, ditangkap aparat sudah biasa. Tapi memang saya yakin tujuan saya membela masyarakat yang tertindas,” tegasnya.

Kini Taufiq ingin mewujudkan teori-teori hukum yang selama ini memegang prinsip tidak pernah pandang bulu dan adil. Ia mengawali keadilan itu dari dirinya sendiri. Pria yang memiliki pengalaman studi hukum di berbagai negara ini mencontohkan cara menata firma hukumnya.

Kantor MT&P Law Firm yang terletak di jalan relatif kecil cukup menyulitkan klien dan masyarakat yang ingin memarkirkan kendaraan. Demi keadilan, ia akhirnya membeli sebidang tanah yang tak jauh dari kantornya khusus digunakan parkir. “Saya advokat yang tidak senang mengganggu orang lain,” katanya.

Dalam penanganan masalah hukum pun Taufiq menggunakan prinsip yang sama. Baginya proses hukum bukan sebagai alat untuk memenjarakan seseorang. Tetapi hukum sebagai pemberi keadilan. Akan tetapi ia cukup miris melihat realitas hukum saat ini yang cenderung transaksional. Setiap proses hukum selalu dikaitkan dengan rupiah. Ironisnya hal itu dilakukan secara terang-terangan. (irw/bun)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia