Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Solo

Kiprah Alumni UNS: Eko Sulistiyo

Perdalam Skill, Tepat Bidik Peluang

Senin, 13 Mar 2017 14:25

Kiprah Alumni UNS: Eko Sulistiyo

Eko Sulistiyo Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden ()

Masuk Universitas Sebelas Maret (UNS) dari jalur penelusuran minat dan bakat (PMDK) 1987, Eko Sulistiyo tak sekadar pergi pulang kampus ke kos. Dia aktif berorganisasi. Segudang pengalaman tersebut menjadi salah satu pengantar dirinya dipercaya menjadi Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP) sejak 2015 hingga sekarang.

 Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Radar Solo Tri Wahyu Cahyono dan Eko, Kamis (10/3).

Kenapa memilih UNS untuk melanjutkan pendidikan tinggi?

Saya bersyukur bisa masuk UNS dari jalur PMDK, dan menjadi lulusan terbaik Fakultas Sastra 1994. Ini prestasi yang cukup memuaskan.

Menjabat posisi penting, apa yang diperoleh dari kampus untuk memudahkan tugas sehari-hari?

Selama kuliah, saya aktif di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), pers kampus, dan lainnya. Kemudian juga ambil bagian di LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang fokus lingkungan hidup. Itu banyak menambah pengalaman saya. Hingga dipercaya menjabat ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Solo.

 Jadi sudah tidak asing dengan aktivitas pergerakan mahasiswa dan pemerintahan. Saya juga ikut membantu Pak Jokowi ketika mencalonkan sebagai gubernur DKI Jakarta. Ketika beliau (Jokowi) menjadi capres (calon presiden), saya masuk di tim pemenangan resmi. Namanya tim nasional pemenangan Jokowi-JK (Jusuf Kalla).

 Berbagai pengalaman di dalam dan luar kampus itu memudahkan saya memberikan masukan komunikasi politik yang tepat kepada presiden. Seperti berkomunikasi dengan kelompok strategis, elemen mahasiswa, petani, serta elemen lainnya. Tidak ada kesulitan.

Persaingan di berbagai bidang semakin ketat, menurut Anda, selama menempuh kuliah, bagaimana upaya UNS menciptakan lulusan berkualitas?

Meskipun saya di Jakarta, tapi tetap berkomunikasi dengan Pak Rektor (Ravik Karsidi). Kalau kebetulan beliau ke Jakarta, mampir ke kantor saya. Atau saya yang diundang. Menurut saya, menghadapi persaingan tidak cukup hanya dengan melengkapi sarana fisik pendidikan. Tapi, harus diimbangi peningkatan kualitas dosen. Tidak kalah pentingnya, UNS harus bisa lebih fokus brand-nya. Misalnya, kalau (kuliah) di Jogja yang dikenal ya UGM (Universitas Gadjah Mada). Teknik ya ITB (Institut Teknologi Bandung), kedokteran ya di Unair (Universitas Airlangga). Nah, UNS harus ada pengembangan spesifikasi seperti itu.

 

Tantangan yang dihadapi kampus dan lulusan UNS semakin berat dan kompleks. Seperti diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Apa yang harus dilakukan pihak kampus dan calon lulusan agar lebih siap?

Lebih tingkatkan kompetensi. Ukuran orang belajar di kampus tidak seperti dulu lagi. Hanya (menerima materi kuliah) dari dosen. Tapi, sudah harus bisa melihat pasar agar bisa membidik peluang dari bidang studi masing-masing. Peningkatan skill mahasiswa perlu terus ditingkatkan.

Konkretnya seperti apa?

Contohnya begini, materi kuliah bahasa Inggris, bukan hanya diberikan teorinya saja. Namun juga dibarengi praktik ke lapangan. Jadi metode pengajaran bisa diubah agar lebih mudah diterima dan diaplikasikan. Sebab, bahasa Inggris tentunya menjadi sarana komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam era MEA.

Pesan untuk seluruh mahasiswa UNS?

Kuliah itu tidak cukup hanya duduk di kelas dan mendengarkan dosen memberikan materi. Harus banyak menggali pengalaman lain. Karena kehidupan di luar kampus tidak sesederhana yang dibayangkan. Oh ya, tak lupa saya ucapkan selamat Dies Natalis ke-41 kepada kampus tercinta UNS. Terus maju, memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.