Senin, 22 Jan 2018
radarsolo
Wonogiri

Ribuan Pohon Cengkih Mati, Petani Cekot-Cekot

Sabtu, 18 Feb 2017 17:00

Ribuan Pohon Cengkih Mati, Petani Cekot-Cekot

Cengkeh menjadi salah satu komoditi andalan bagi sejumlah desa di Wonogiri sejak puluhan tahun, namun kini sebagian sudah mulai mati. ()

WONOGIRI – Petani cengkih di Desa Brenggolo, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri, kehilangan pendapatan, lantaran pohon cengkih yang selama ini mampu menopang kebutuhan keluarga, semuanya mati. Padahal, di desa tersebut terdapat ribuan pohon cengkih, yang setiap musim panen mampu menghasilkan jutaan rupiah per pohonnya.

Camat Jatiroto Joko Susilo mengatakan bahwa ribuan tanaman cengkeh di Desa Bronggolo perlahan mati sejak empat tahun lalu. Kebun cengkih sekarang banyak yang diubah menjadi kebun sengon. 

“Brenggolo cengkehnya habis, tapi sekarang ditanami sengon, karena cepat tumbuh besar dan cepat mendapatkan uang,” kata Joko Susilo, Kamis lalu (16/2).

Menurut Joko, gejala matinya pohon cengkih tersebut sudah dirasakan warganya sejak empat tahun lalu. Namun saat warga melakukan penyulaman menanam pohon cengkih baru di sebelah pohon cengkih lama, tanaman baru itu pun terserang hama yang sama sehingga tidak bisa hidup. 

“Padahal saat jaya-jayanya dulu, setiap pohon cengkih mampu menghasilkan uang satu hingga dua juta rupiah per panen,” kata Joko.

Menurut Joko, saat ini, kalaupun ada petani cengkeh  biaya perawatan pohon cengkih cukup mahal. Mulai dari pengairan sampai panen memerlukan biaya.

“Setiap musim kemarau, petani cengkih rela berjalan kilometer mencari air untuk menyiram pohon cengkih. Selain itu setiap musim petik, harus mengeluarkan ratusan ribu per hari untuk membayar tukang petik bunga cengkih. Sebab tidak semua pemilik pohon cengkih berani naik tangga dengan ketinggian puluhan meter,” jelasnya

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia wilayah Wonogiri Kiyato mengatakan bahwa kasus yang menimpa Desa Brenggolo terjadi sejak lama. Hal tersebut merupakan imbas dari serangan bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC). “BPKC tak hanya menyerang di Kecamatan Jatiroto, tapi juga Jatipurno dan Girimarto,” ujarnya. 

Dampak serangan dikatakan Kiyato sangat luar biasa. Selain menular dengan cepat, pohon yang terserang akan segera kering dan mati. Selain itu bakteri sangat betah berlama-lama di sekitarnya hingga beberapa tahun.

“Lahan yang terserang harus dikosongkan dari tanaman cengkeh minimal lima tahun. Selama itu tidak boleh ditanami cengkih untuk mematikan bakteri tersebut, “ katanya

Setelah lima tahun berlalu, baru petani boleh menanam dengan bibit baru. Dibutuhkan minimal lima tahun lagi untuk menunggu tanaman baru bisa dipanen. Sehingga jika diakumulasi paling tidak butuh waktu 10 tahun bagi petani merasakan panenan cengkih kembali. (kwl/bun)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia