Selasa, 23 Jan 2018
radarsolo
Sragen

Nasib Pustakawan Sekolah di Sragen Terabaikan

Digaji Rp 200 Ribu, Sering Jadi Guru Pengganti

Jumat, 17 Feb 2017 12:00

Nasib Pustakawan Sekolah di Sragen Terabaikan

Pustakawan SD/MI se Sragen berkumpul di Perpusda Sragen. ()

SRAGEN - Tugas seorang pustakawan tidak mudah. Bergelut dengan buku dan data. Selain itu harus berupaya keras untuk menarik minat baca. Namun, sayangnya belum ada perhatian yang jelas terkait nasib mereka.

Sejumlah pustakawan sekolah dasar (SD) di Sragen berkumpul di ruangan boarding language center (BLC) Perpustakaan Daerah Sragen. Dalam kesempatan tersebut, mereka membicarakan nasib mereka sebagai pustakawan yang memang sejauh ini terkesan diabaikan.

Sekitar 60 orang tergabung dalam forum tersebut. Namun tidak semuanya hadir lantaran terbentur berbagai halangan. Tetapi dalam kesempatan tersebut, mereka memiliki masalah yang sama, yakni mereka merasa masih belum diakui pemerintah. Keluhan utama mereka terkait regulasi perpustakaan dan sumber daya manusia (SDM) yang masih terabaikan. 

Ketua Forkom Pustakawan SD/MI se Sragen Ari Setyawan mengatakan, sejauh ini yang diperhatikan dari perpustakaan hanya gedung saja. Sementara untuk para pustakawan masih minim. ”Sampai saat ini status para pustakawan SD masih belum jelas. Kami semua ini masih wiyata bakti (WB),” ujarnya.

Dia menyampaikan, gaji para pustakawan SD hanya berkisar Rp 200-300 ribu per bulan. Kesejahteraan para pustakawan masih belum terpikirkan. ”Sebagian dari kita kadang justru membantu guru mengisi jam kosong, namun juga tidak ada kejelasan,” terang pustakawan dari SD Negeri 1 Jenar ini.

Mayoritas mereka yang memilih menjadi pustakawan sejak 2009 lalu. Saat itu pekerjaan sebagai pustakawan dianggap menjanjikan. Namun pada faktanya saat ini pustakawan masih dipandang sebelah mata.

Sebagai pustakawan, tugasnya sangat berat lantaran menumbuhkan minat baca sejak dini. Padahal di Indonesia minat baca di Indonesia sangat rendah. ”Di Indonesia itu terbalik, orang mengunjungi perpustakaan setelah dewasa untuk mengerjakan skripsi. Padahal, usia meningkatkan minat baca itu juga harus sejak dini,” terangnya.

Sementara salah satu pustakawan SD Ngarum 1 Taufik Andi menyampaikan menyampaikan sejauh ini tidak ada pengakuan. ”Tidak seperti guru, pustakawan memang belum diakui sepenuhnya keberadaannya,” terangnya.

Pria berusia 37 tahun ini menyampaikan berdasarkan UU Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 seharusnya keberadaan pustakawan lebih diakui daripada saat ini. Dalam hal ini seorang pustakawan juga bekerja sebagai elemen yang mencerdaskan bangsa, selain tugasnya tidak bisa dikerjakan asal-asalan. (din/bun)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia