Selasa, 23 Jan 2018
radarsolo
Wonogiri

Gelombang Masih Tinggi, Nelayan Enggan Melaut

Kamis, 16 Feb 2017 18:00

Gelombang Masih Tinggi, Nelayan Enggan Melaut

Pantai laut selatan terkenal dengan gelombang tinggi yang harus diwaspadai nelayan. ()

WONOGIRI - Tinggi gelombang di pantai selatan Jawa sejak November 2016 tidak bisa diprediksi. Akibatnya, nelayan masih belum melaut. Padahal, harga ikan khususnya lobster sedang mahal-mahalnya. 

Ketua Koperasi Nelayan Parang Bahari Dwi Hartono mengatakan bahwa sejak November tahun lalu, nelayan masih menjaga diri untuk tidak melaut. Pasang surut yang tidak bisa diprediksi membuat nelayan tidak mau berspekulasi menangkap ikan di tengah laut.

“Kami belum melaut. Karena seringkali kapal terbalik, bahkan sampai terapung-apung hampir tiga hari karena nekat menerjang gelombang tinggi,” kata Dwi Hartono, Rabu kemarin (15/2).

Akibatnya, hasil tangkapan nelayan menyusut hampir setengah produksinya per bulan. Padahal, saat ini tengah musim ikan. “Sebenarnya musim ikan,  satu seperempat ton per bulan yang masuk ke koperasi, turun hampir separuhnya,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Dwi, hanya nelayan pencari lobster yang tampak mencari lobster di tebing-tebing di pinggir pantai. Hasilnya tidak banyak. Padahal, harga lobster saat ini harganya mencapai Rp 250-280 ribu rupiah.

Taufiq Hidayat, nelayan asal Desa Song Bledek, Kecamatan Paranggupito mengatakan bahwa sudah sebulan ini dirinya tidak melaut. Ombak besar dan angin kencang membuat dirinya dan nelayan lain memilih kembali bertani.

“Lagi paceklik. Kami kembali bertani, karena kebetulan lagi musim panen,” kata Taufiq melalui sambungan teleponnya, kemarin. 

Lebih lanjut dikatakan Taufiq, saat ini sebenarnya sedang musim ikan. Meski begitu, dirinya tetap tidak berani berspekulasi melaut mengingat bahaya yang menghadang didepan mata. “Kalau kondisi seperti ini kita tidak berani. Kalau sekali melalut kan bisa 7-10 hari,” katanya. 

Menurut Taufiq, saat hari-hati biasanya dirinya mampu mendapat 8 kuintal sampai 1,5 ton tuna dan cakalan. Hargannya tidak tentu, tergantung saat pelelangan. “Kadang Rp 11 - 12 ribu per kilogram,” terangnya. (kwl/bun)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia