Selasa, 23 Jan 2018
radarsolo
Sukoharjo

Empat Desa di Sukoharjo Terdampak Banjir

Kamis, 16 Feb 2017 08:42

Empat Desa di Sukoharjo Terdampak Banjir

Warga melintasi genangan air yang melanda kawasan Dukuh Nusupan, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SUKOHARJO - Sebanyak empat desa di tiga kecamatan terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur Sukoharjo sejak Selasa (14/2) malam. Bahkan ada beberapa warga yang terpaksa mengungsi lantaran rumah mereka tak bisa ditinggali. Sampai kemarin pagi pukul 07.00 WIB air masih terlihat cukup tinggi.

 

Informasi yang dihimpun, banjir terdampak di Sukoharjo yakni Dukuh Kesongo, Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban, Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Dukuh Nusupan, Desa Kadokan dan Desa Parangjoro Kecamatan Grogol.

 

Komandan SAR Sukoharjo, Agus Santoso melalui Kepala Bidang Operasional SAR Sukoharjo Mukhlis mengatakan, dari pantauannya tinggi air kemarin pagi masih mencapai 896 sentimeter dan berstatus siaga merah. Dia juga sudah berkoordinasi dengan OPD terkait untuk penyaluran bantuan kepada korban banjir.

 

Lokasi terdampak banjir paling parah menurut dia adalah Dukuh Nusupan. Karena hampir 95 persen warganya terdampak banjir. Untuk Dukuh Kesongo warganya juga mengungsi di tanggul. Sedang untuk Desa Tiyaran selain rumah warga, banjir juga merendam SMKN 5 Sukoharjo dengan tinggi sekitar satu meter.

 

Camat Grogol Bagas menjelaskan di Kecamatan Grogol sendiri ada dua desa yang terdampak yakni Desa Kadokan 50 kepala keluarga (KK) dan Desa Parangjoro 60 kepala keluarga (KK). Dia menjelaskan, telah menyerahkan bantuan untuk korban banjir di perumahan GPA Parangjoro. ”Kami sudah turun langsung memberikan bantuan selimut, alat kerbersihan, perlengkapan bayi, susu biskuit, air mineral dan lain sebagainya.

 

Sementara itu, Sunyoto, warga Dukuh Nusupan RT 4 RW 5, Desa Kadokan, Kecamatan Grogol mengatakan, air mulai naik sekitar pukul 24.00 WIB dan masuk ke permukiman warga sekitar pukul 02.00 WIB. Melihat air semakin tinggi pihaknya memilih mengungsi di masjid.  ”Ada 20 KK yang mengungsi ke masjid membawa motor dan barang-barang yang berharga karena air sudah sekitar sepinggang orang dewasa. Tapi sebagian warga memang masih bisa bertahan di rumah tidak mengungsi,” terangnya.

  

Sunyoto mengatakan warga lainnya yang tak terdampak banjir ikut bergotong royong membantu para pengungsi. Seperti halnya menyediakan kebutuhan logistik atau makanan yang dimasak di dapur umum. Sedang warga lainnya yang membantu mengevakuasi barang dengan perahu milik desa. ”Karena sudah langganan banjir, ya kami berusaha agar desa mempunyai perahu sendiri. Sampai saat ini kami memiliki dua perahu untuk evakuasi saat banjir,” kata dia. (yan/edy)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia