Selasa, 23 Jan 2018
radarsolo
Senggang

Rumah Baca Teratai Bertahan dari Tahun ke Tahun

Berkembang karena Lebih Banyak Praktik

Kamis, 02 Feb 2017 12:10

Rumah Baca Teratai Bertahan dari Tahun ke Tahun

DANNY PRASETYAWAN (NOVITA RAHMAWATI/RASO)

SOLO - Tidak sedikit aktivitas rumah baca tersendat karena beragam faktor. Memang, untuk mempertahankan dan mengembangkan butuh konsistensi. Rumah baca Teratai membuktikannya.

 

Sudah banyak diulas bahwa rumah baca yang didirikan Desember 2013 di RT 4 RW, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon ini berawal keprihatinan pemuda setempat terhadap maraknya minuman keras, perjudian, kenakalan remaja, dan lainnya.

Tapi, tak kalah menarik adalah cara pengurus rumah baca Teratai bisa bertahan tanpa bergantung ke pihak lain. Termasuk bantuan pemerintah.

Dari sebutannya sebagai rumah baca, kali pertama yang terbayang adalah tumpukan buku dan artikel-artikel lainnya. Namun kondisinya berbeda.

        Mural dan tulisan besar Rumah Teratai menghiasi tembok salah satu rumah. Setelah mengetuk pintu, wartawan dipersilakan masuk. Di dalam rumah ada beberapa pemuda yang mengemas tumpukan kaus.

Foto-foto kegiatan anak-anak rumah baca Teratai tergantung di bagian dinding. Tampak pula foto mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika melakukan kunjungan ke tempat tersebut. ”Silakan lihat-lihat dulu,” sapa seorang pria. Dia adalah Danny Prasetyawan, salah seorang pengurus rumah baca Teratai.

Di tempat ini bukan buku yang mendominasi. Tapi sejumlah peratalan seperti untuk sablon, kompresor, alat airbrush, kuas dan lainnya. ”Justru lebih banyak kegiatan. Sasarannya mengembangkan kreativitas dan potensi anak-anak,” jelas Danny.

”Sampai saat ini saya tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Ganjar Pranowo ke sini membantu atas nama pribadi. Anies Baswedan ke sini seminggu sebelum di-reshuffle. Jadi secara resmi rumah baca Teratai belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah,” imbuhnya.

Ditambahkan Danny, kegiatan di rumah baca Teratai tidak terbatas dengan memberikan pengetahuan kepada anak-anak melalui buku. Namun konsepnya mengasah potensi anak untuk berkarya lewat seni.

”Mulai dari sablon, resin, airbrush dan berbagai bidang seni diajarkan kepada anak-anak. Tujuannya mengasah life skill anak,” jelasnya.

Bukan hanya anak-anak Kelurahan Sangkrah yang tertarik dengan aktivitas di rumah baca Teratai. Dari kelurahan dan kota lainnya ikut minat bergabung dan menularkan ilmunya.

”Gremet Manahan dan perumahan Pelangi, Mojosongo (melakukan kegiatan serupa, Red). Di luar kota di Badran, Jogjakarta, Kalioso, dan di Malang,” tutur Danny.

Ditambahkannya, warga Banyuwangi, Jatim yang mengetahui keberadaan rumah baca Teratai dari jaringan internet, tidak segan-segan berkunjung. Mereka berbagi pengetahuan dengan warga Kampung Sangkrah tentang kanker serviks.

“Saya tidak memberikan biaya transport maupun akomodasi sama sekali. Inilah yang menarik dari rumah caca Teratai, mereka secara sukarela datang. Ini bukan hanya terjadi sekali dua kali. Teman dari Lampung pernah datang untuk belajar konsep operasional kami. Tentu dipersilakan,” urainya.

Danny dan pengurus rumah baca Teratai berharap, anak-anak didiknya bisa membuka lapangan kerja. Selain itu, dengan mengandalkan jaringan kampung akan dibuat outlet guna menampung dan memamerkan karya seni.

”Outlet sedang kami proses. Anak-anak juga sedang belajar mengembangkan IT-nya. Sehingga hasil karya mereka bisa ditampilkan dalam bentuk aplikasi untuk dipasarkan,” kata Danny.

Hasil dari penjualan karya seni tersebut disisihkan 20 persen untuk membiayai operasional rumah baca. (vit/wa)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia