Rabu, 25 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang
Chikara D Rinarta Sukses Bisnis Boneka Peluk

Awalnya Coba-Coba, Kini Raup Keuntungan

Senin, 16 Apr 2018 20:16 | editor : Ida Nor Layla

BIDIK PASAR ANAK-ANAK: Chikara D Rinarta menunjukkan boneka peluk buatannya, Jumat (13/4/2018).

BIDIK PASAR ANAK-ANAK: Chikara D Rinarta menunjukkan boneka peluk buatannya, Jumat (13/4/2018). (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Bermula dari keisengan mengisi waktu luang selepas kuliah, Chikara D Rinarta kini memiliki usaha boneka peluk lucu. Produknya itu rajin ia promosikan di sejumlah pameran. Seperti apa?

TIDAK ingin lama menganggur pasca lulus kuliah, Chikara mencoba mendesain boneka peluk yang lucu. Tidak hanya berhenti pada desain, ia pun merampungkannya hingga dalam wujud boneka jadi. Ia mencoba menawarkannya dan bonekanya laku keras. Terutama dibeli oleh anak-anak.

Bonekanya memang terbilang lucu. Meskipun dengan bentuk sama, namun boneka peluk buatan tangannya memiliki pakaian yang beraneka ragam. Bahkan ada pula yang memakai pakaian khas. Jepang misalnya. Karena itu pula ia memberikan sebutan Luchu Doll pada produk boneka peluknya. Meskipun demikian, ada saja yang mengaitkan boneka yang dibuat dengan tokoh film horor.

”Aku sebel banget kalau dikaitin sama itu. Kemudian aku juga sebel kalau ada yang nawar sadis. Padahal kita susah payah membuatnya, dengan bahan yang berkualitas pula,” ujar lulusan Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Boneka yang dibuat dijual dengan harga rata-rata Rp 150 ribu. Lain halnya jika boneka itu dipesan dengan bentuk baju khas daerah tertentu. Untuk baju yang terbilang susah, Chikara mematok harga lebih mahal. Tidak terpaut jauh, maksimal Rp 200 ribu.

Dengan bonekanya ini, perempuan yang oleh sang ayah diminta untuk menjadi pekerja kantoran ini mampu mengantongi omzet hingga Rp 22 juta per bulan. Omzet tertinggi ini ia dapatkan ketika mengikuti ajang International Handicraft Trade Fair (INACRAFT). ”Di ajang itu saya bisa meraih omzet tertinggi,” jelasnya.

Hingga saat ini, terhitung sudah hampir 3 tahun, Chikara menjalankan usahanya ini. Flashback ke belakang, ia memulai dengan modal sekitar Rp 10 juta plus kemampuan menggambar. Untuk modal yang kedua ini, ia mengakui hampir semua anggota keluarganya bisa menggambar. ”Jadi bisa dibilang kemampuan desain ini turunan. Saya mendapatkannya secara otodidak,” ujarnya saat ditemui di Semarang Gemerlap Expo di Java Supermal, Jumat (13/4/2018).

Meskipun demikian, ia juga senang ketika bisa membuat bingung anak-anak. Membuat bingung untuk memilih boneka yang akan dibeli. Sebab, semuanya lucu dan memiliki tema-tema tersendiri.

“Untuk tema memang tergantung dari eksponya. Saya pernah membuat tema baju Jepang dan langsung laku waktu itu. Pernah juga ada dari Swedia memesan saya buatkan,” kenangnya.

Usaha ini dilakukan bukan tanpa rintangan. Awanya, ia tidak diizinkan untuk menggeluti usaha ini. Sang Ayah memintanya untuk menjadi pekerja kantoran. Namun sekarang, ia mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. ”Ayah memang penginnya di kantoran. Kalau ibu sih terserah,” ujarnya.

(sm/cr4/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia