Senin, 23 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Kedu

3 Menit, 2 Gunungan Gethuk Ludes

Senin, 16 Apr 2018 06:30 | editor : Pratono

BEREBUT GETHUK : Suasana Grebek Gethuk di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (15/4).

BEREBUT GETHUK : Suasana Grebek Gethuk di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (15/4). (Puput Puspitasari/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.ID – Ribuan orang memadati Alun-alun Kota Magelang untuk mengikuti Grebek Gethuk, Minggu (15/4/2018). Mereka langsung merangsek ke tengah lapangan saat Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mempersilakan gunungan lanang dan wadon (laki-laki dan perempuan) untuk diperebutkan. Hanya butuh waktu sekitar tiga menit, dua gunungan gethuk serta 17 gunungan palawija ludes.

Seorang pengunjung, Martiana, 35, berhasil berebut gunungan palawija. Tapi ia sedikit kesal, karena tak bisa membawa pulang makanan khas Magelang dari ketela tersebut. “Saya kalah cepat sama bapak-bapak. Ini pun dapat sayur kacang, karena ada yang melempar. Kalau terong dan wortelnya saya ambil sendiri,” kata warga Magelang Tengah ini.

Sebagai obat kecewa, para pengujung yang tak kebagian gethuk dan sayuran justru mengambil aneka bunga yang ada di depan panggung penghormatan. Seperti Heni, 24, warga Magelang yang melakukan itu. “Bunga-bunga ini bisa untuk hiasan di meja tamu,” tuturnya.

Sigit menjelaskan, filosofi dua gunungan gethuk mewakili laki-laki dan perempuan yang hidup berdampingan untuk membina keluarga harmonis. Sedangkan gunungan palawija melambangkan kemakmuran. “Acara ini untuk nguri-uri kabudayan,” ujarnya.

Ia berharap tradisi Grebek Gethuk menjadi daya tarik wisata. Tradisi tahunan ini merupakan puncak peringatan Hari Jadi Kota Magelang.

Prosesi kirab budaya dan Grebek Gethuk pada peringatan Hari Jadi ke-1.112 Kota Magelang cukup berbeda. Sebelumnya, sebuah replika lempengan tembaga Prasasti Mantyasih I diarak para prajurit dari Pendopo Mantyasih menuju Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Magelang. Dulu, lokasi ini menjadi kantor pusat pemerintahan setempat.

Kemudian, Prasasti Mantyasih I dipertemukan dengan replika Prasasti Mantyasih II yang berupa batu hitam. Prosesi ini disebut fragmen "Serat Kekancingan Tanah Perdikan."

Replika Mantyasih I dan II tersebut diserahkan kepada Wali Kota Sigit untuk selanjutnya diarak menuju Alun-alun. Sementara Wali Kota bersama jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Magelang diarak menggunakan kereta kencana yang dipinjam dari Kraton Jogjakarta.

(sm/put/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia