Rabu, 25 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Tanpa Tangan dan Kaki Ikhlas Jadi Guru Ngaji

Muhammad Wahyono, Hafal Alquran, Pernah Belajar di Ponpes Yusuf Mansur

Senin, 09 Apr 2018 18:20 | editor : Ida Nor Layla

PANTANG MENYERAH: Muhammad Wahyono saat dikunjungi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang, Uni Kuslantasi Wihaji.

PANTANG MENYERAH: Muhammad Wahyono saat dikunjungi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang, Uni Kuslantasi Wihaji. (LUTHFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, BATANG-Keterbatasan fisik tidak menyurutkan semangat Muhammad Wahyono, 20, untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat. Meski tidak punya kedua tangan dan kedua kaki, dirinya bersemangat berbagi ilmu agama Islam kepada orang lain.

Muhammad Wahyono tercatat sebagai warga Dusun Kebonagung, Desa Kembangan, Kecamatan Blado, Batang. Di desanya, pria kelahiran 28 Februari 1998 ini akrab disapa Gus Amad. Sejak lahir Wahyono sudah tidak memiliki tangan dan kaki. Dia adalah bungsu dari 9 bersaudara. Kedua orangtuanya, Darsono dan Warni, telah lama berpulang.

Sejak ditinggal orang tua, Wahyono yang memang tak bisa melakukan apa-apa itu dirawat oleh semua kakak-kakaknya. Namun, karena mereka tinggal berjauhan, maka Wahyono lebih banyak diasuh dan dirawat oleh kakak ke delapannya, Saudi.

Saudi mengajarkan Wahyono membaca huruf latin dan mengaji. Ketika sudah bisa membaca Aluran dengan baik, Wahyono diajak Saudi mondok di Pesantren Miftahul Huda di Boja, Kendal. Di pesantren ini, Wahyono langsung dibimbing oleh pimpinannya KH Hasyim Masduqie yang dikenal sebagai Al Hafidz atau penghafal Alquran. Di pesantren itu, Wahyono terus mengasuh kemampuannya menghafal Alquran.

Selain memiliki kemampuan menghafal Alquran, Wahyono juga memiliki kemampuan melantunkan sholawat dengan suara yang bagus. Itu pula karenanya, dia sering diundang orang untuk mengisi acara-acara, seperti maulidan atau hajatan lainnya.

Memiliki tubuh yang tidak sempurna sekaligus memiliki kemampuan yang luar biasa ini, membuat Wahyono sering dikunjungi orang. Di kampungnya, hampir sepanjang hari rumah Wahyono tak sepi dikunjungi tamu. Para tamu yang datang berkunjung tentu memiliki niat dan tujuan yang berbeda.

Karena tidak memiliki tangan dan kaki, setiap harinya dalam beraktivitas, ia pun dibantu Saudi. Ia siap mengantar kemanapun adiknya pergi menggunakan kursi roda maupun dengan  digendong untuk menghadiri majelis – majelis pengajian maupun belajar. Amad juga pernah belajar Alquran di Pondok Pesantren milik ustadz Yusuf Mansur.

“Saya tidak mengajar mengaji Alquran, tapi saya berusaha untuk belajar bersama – sama untuk selalu mendekatkan dengan Sang Khaliq yang menciptakan kita,” katanya merendah saat menerima kunjungan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang, Uni Kuslantasi Wihaji di rumahnya, Jumat (6/4/2018).

Hebatnya lagi, meski sulit berjalan, Wahyono tak pernah absen untuk salat berjamaah di masjid terdekat. Tanpa ragu Wahyono menggelindingkan tubuhnya agar sampai ke barisan (shaf). Saat mendirikan salat, Wahyono lebih memilih berbaring karena akan lebih memudahkannya. Berkat ketaatannya dalam menjalani ibadah, sejumlah orang mengungkapkan kekagumannya terhadap Wahyono. 

Menurut Uni, dengan segala keterbatasan yang dimiliki Wahyono, malah membuat dirinya menjadi orang yang istimewa, karena bisa bermanfaat bagi orang banyak.  “Kita seharusnya instropeksi betapa kayanya kita yang memiliki kesempurnaan fisik dari ujung kaki sampai rambut, tapi terkadang kita lupa dengan semunya,” ujarnya. 

“Setelah kita bersilaturahmi dengan saudara – saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik atau difabel, kita harus banyak bersyukur dan banyak belajar dengan mereka, karena kita terkadang lupa melihat dunia dan kita belum memberikan mafaat bagi masyarakat banyak,” tambah Uni. 

Ia juga mengatakan, menjelang Hari Ulang Tahun ke-52 Kabupaten Batang, Pemkab Batang berusaha mengajak kaum difabel untuk bisa merasakan kemeriahannya dengan berbagi. Pemkab juga memberikan santunan kepada sedikitnya 200 penyandang difabelitas.  “Walaupun santunan yang diberikan tidak seberapa, tetapi inilah bentuk kepedulian dan kasih sayang pemerintah kepada sesama,” katanya. 

(sm/naf/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia