Jumat, 27 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Hukum & Kriminal

Bos SNI Ajak Introspeksi, Pembina Perbasi Bebas Murni

Jumat, 06 Apr 2018 19:05 | editor : M Rizal Kurniawan

BERSYUKUR : Ong Budiono bersama warga dan kuasa hukumnya menyambut sukacita atas putusan bebas murni dan putusan MA yang menolak kasasi PU gabungan di jalanan kampung Karangayu, Semarang Barat.

BERSYUKUR : Ong Budiono bersama warga dan kuasa hukumnya menyambut sukacita atas putusan bebas murni dan putusan MA yang menolak kasasi PU gabungan di jalanan kampung Karangayu, Semarang Barat. (joko susanto/jawa pos radar semarang)

 

RADARSEMARANG.ID - Bos PT Sinergi Niagatama Indonesia (SNI) Setiadi Hardinata yang merupakan pelapor perkara dugaan tindak pidana pemerasan dan pengancaman, yang menjerat Ketua RT 2 RW 2 Karangayu, Semarang Barat, yang juga Pembina Pengurus Kota Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Semarang, Ong Budiono ke dalam tahanan selama 10 hari dan harus disidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang mengajak para pihak agar introspeksi diri atas putusan bebas murni tersebut.

“Masing-masing pihak introspeksi diri saja, saya hanya menyesal buka cabang di daerah situ (Karangayu,red), sekarang juga sudah pindah, jadi bukan masalah iuran RT yang aslinya, saya sudah ikhlaskan masalah itu dan saya sudah maafkan Ong,” kata Setiadi Hardinata kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (6/4).

Menurutnya, Ong Budiono mau divonis sehari atau dua hari dan bahkan bebas sekalipun semua sudah menjadi urusan negara.

“Saya sudah nggak mau ngurusi. Konsekwensinya saya harus korbankan cabang dan akhirnya cabangnya sudah ditutup,” ungkapnya.

Sementara Ong Budiono menyatakan, kebenaran boleh disalahkan, namun tak boleh dikalahkan. Sehingga yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ia meminta, jangan sampai para penguasa yang dilindungi Undang-Undang (UU),  justru menghancurkan rakyatnya sendiri.

“Walaupun saya pernah dipenjara. Saya tidak mundur untuk berbakti kepada warga, apalagi kami nggak ada jarak dan saya nggak kapok jadi Ketua RT,” kata Ong penuh sukacita didampingi sejumlah warga RT 2 RW 2 Karangayu, Yusri Suhartandi dan Mutiasih.

Dalam kasus itu, majelis hakim Mahkamah Agung (MA) yang dipimpin Dr Artidjo Alkostsar didampingi dua hakim anggota, Dr Sofyan Sitompul dan Sri Murwahyuni resmi memberikan putusan membebaskan Ong Budiono dengan cara menolak kasasi yang diajukan Penuntut Umum (PU) gabungan dari Kejaksaan Agung dan Kejari Kota Semarang. Atas putusan itu, maka perkara tindak pidana pemerasan dan pengancaman yang menimpa Setiadi Hardinata tidak terbukti dan batal demi hukum.

“Salinan resmi dari Pengadilan Negeri (PN) Semarang baru kami peroleh pagi ini (Kamis kemarin), putusannya tidak pernah ada pengancaman dari klien kami (Ong Budiono,red), jadi sudah resmi putus bebas murni semua dakwaan tidak disepakati,”kata kuasa hukum Ong Budiono, Osward Feby Lawalata dan Ishak Ronsumbre.

Ia menyampaikan, putusan sudah final dan berkekuatan hukum tetap. Atas putusan tersebut, ia menilai sudah tepat dan melihat nilai-nilai kebangsaan serta kemasyarakat masih ada di Indonesia.

Putusan tersebut menurutnya menjadi tonggak kebenaran. Ia juga meminta para Ketua RT jangan takut untuk menarik iuran RT yang sudah diadakan dan disepakati bersama warga. Terkait apakah akan mengajukan upaya gugatan ganti rugi atau melakukan permohonan rehabilitasi nama baik, pihaknya masih akan mempertimbangkan. Ia hanya menyampaikan, warga masyarakat harus melakukan perlawanan untuk ketidakadilan, seperti yang dialami kliennya karena menyangkut keadilan dan nama baik.

“Perkara iuran RT tapi dipenjara di Bareskrim,  ini ada apa. Apalagi ditahan 10 hari, ini ada ketidakadilan, nafas ini jangan putus, semua semata-mata demi masyarakat,” katanya.

(sm/jks/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia