Kamis, 26 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang
Semarang Semakin Macet

Tak Berdaya Kendalikan Kredit Kendaraan

Jumat, 16 Mar 2018 17:46 | editor : Pratono

MAKIN MACET : Jalan Pemuda Kota Semarang kini kerap mengalami kemacetan kendati sudah diterapkan satu jalur.

MAKIN MACET : Jalan Pemuda Kota Semarang kini kerap mengalami kemacetan kendati sudah diterapkan satu jalur. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID-Persoalan kemacetan menjadi ancaman besar di setiap kota, tak terkecuali Kota Semarang. Pertumbuhan infrastruktur jalan dengan pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang tidak seimbang. 

Tercatat, pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang mencapai 12 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0,9 persen per-tahun. Saat ini, sedikitnya tercatat ada 1,6 juta kendaraan roda dua dan 500 ribu kendaraan roda empat di Kota Semarang. Jika kondisi ini dibiarkan, maka persoalan kemacetan akan menjadi ancaman besar di Kota Lumpia.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab pesatnya pertumbuhan kendaraan adalah mudahnya proses pembelian kendaraan dengan cara kredit. Sedangkan pemerintah sendiri tidak berdaya untuk sekadar melakukan pengendalian. "Pemerintah mestinya segera membuat kajian mengenai solusi kemacetan. Mumpung belum terlanjur dan masih bisa ditolong," katanya, Kamis (15/3/2018).

Menurutnya, perlu kajian secara detail agar bisa ditemukan solusi yang tepat dan terbaik. Misalnya, pertama mengenai percepatan pengadaan angkutan masal, strategi rekayasa lalu-lintas, maupun pengendalian pertumbuhan kendaraan. "Selain itu Pemkot Semarang harus mampu mengoptimalkan pengelolaan jalan. Misalnya dengan cara memerbanyak jalan tembus atau jalan alternatif," terangnya. 

Prinsipnya, kata dia, pemerintah harus memiliki strategi mengatasi kemacetan. Termasuk mengoptimalkan penggunaan angkutan masal. Supaya masyarakat banyak menggunakan angkutan masal. "Saat ini, orang bisa dengan mudah membeli motor dengan cara kredit sangat murah. Bahkan Rp 500 ribu bisa membawa pulang motor. Ini sangat memengaruhi terjadinya kemacetan yang semakin parah," tuturnya.

Joko mengakui pengendalian pertumbuhan kendaraan memang tidak mudah. Sebab, hal tersebut bagian dari kewenangan pemerintah pusat juga. Pemkot Semarang sendiri tidak bisa berbuat banyak. Kebijakan tersebut harus berskala nasional. "Misalnya pemerintah berani menentukan kebijakan bahwa uang muka kredit motor maupun mobil harus 50 persen dari harga pembelian, mungkin itu bisa mengurangi," katanya. 

Praktisi Bike to Work, Nana Podungge mengatakan, pihaknya melihat sejauh ini tidak ada keseriusan pemerintah untuk mengatasi kemacetan. Bahkan berbagai kebijakan pemerintah yang diterapkan justru memperparah kemacetan. "Bahkan macet atau tidak, jalur sepeda onthel tetap diserobot pengguna jalan lain. Artinya Pemkot ini tidak serius menyelesaikan problem kemacetan," kata dia. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Muhammad Khadik mengakui persoalan kemacetan dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya, adanya kesenjangan cukup besar antara kapasitas jalan dengan pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang. 

"Tercatat pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang mencapai 12 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0,9 persen per-tahun. Samsat mencatat sedikitnya ada 1,6 juta kendaraan roda dua dan 500 ribu kendaraan roda empat. Padahal, jumlah warga di Kota Semarang kurang lebih 1,6 juta," katanya. 

Hasil penelitian lembaga riset Inrix, rata-rata, tingkat kemacetan di Kota Semarang mencapai 37 jam dalam setahun. Lama waktu yang dibutuhkan pengendara saat macet 17 persen. Pada jam sibuk, persentase waktu berkendara meningkat menjadi 21 persen dan 19 persen di luar jam sibuk.

Kota Semarang menempati urutan kesembilan di antara kota besar di Indonesia. Secara berurutan, Jakarta menempati ranking pertama. Disusul Bandung, Malang, Jogjakarta, Medan, Pontianak, Tarogong, Surabaya, Semarang, dan Sungai Pinang.

(sm/amu/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia