Jumat, 27 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Wandah Wibawanto Kembangkan Game Edukatif

Pasar Game Potensial, Jumlah Game Developer Sedikit

Senin, 12 Mar 2018 09:42 | editor : Ida Nor Layla

Wandah Wibawanto menunjukkan salah satu game yang dikembangkan.

KREATIF: Wandah Wibawanto menunjukkan salah satu game yang dikembangkan. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Industri kreatif termasuk di dalamnya pembuatan game berkembang pesat. Profesi di bidang ini pun semakin naik daun. Wandah Wibawanto adalah dosen dan game developer yang aktif mengembangkan berbagai jenis game. Seperti apa?

BERBAGAI kategori permainan langsung muncul begitu mengklik situs www.wandah.com. Mulai game racing, action, puzzle, kids, RPG hingga strategy. Wandah Wibawanto yang merupakan game developer dari situs ini cukup paham bahwa setiap orang memiliki selera berbeda, termasuk dalam game.

“Trennya saat ini untuk cowok adalah game yang bisa dimainkan oleh banyak orang atau multiplayer. Sedangkan untuk cewek bisa puzzle atau simulasi. Dari berbagai jenis game tersebut, garis merahnya yakni mudah dimainkan, namun sulit diselesaikan,”katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Selain game yang dikembangkan dalam website pribadinya tersebut, lanjut Wandah, tak sedikit game yang dihasilkan melalui perusahaan luar negeri sejak beberapa tahun silam, dan terbilang cukup populer.

“Waktu bekerja pada perusahaan game di Dubai, saya sempat mengembangkan game simulasi pengendara taksi yang berkendara ke berbagai negara, kemudian game action dan beberapa jenis lainnya,” kenang Wandah.

Pria asal Malang, Jatim ini, mengaku, kali pertama mengenal sistem pemrograman pada 1994 silam. Kemudian ia mulai mendalami game pada 2000. Setahun kemudian, barulah ia masuk secara komersial di bidang ini. Pengalamannya di dunia game developing kian dimatangkan dengan bekerja pada perusahaan game di Dubai pada 2006 hingga 2008 lalu.

“Kalau dulu tugas game developer merancang game dari nol hingga siap dipasarkan. Tapi kalau sekarang sudah banyak engine yang siap pakai, tinggal dimodifikasi saja. Sehingga pekerjaan tidak terlalu rumit,”ujarnya.

Namun demikian, tantangan juga semakin besar. Karena setiap orang yang berkecimpung di bidang ini juga tidak perlu waktu lama untuk menelurkan berbagai permainan. Sehingga masa aktif game tersebut dimainkan juga semakin pendek.

“Sekarang cari game sudah mudah. Kalau bosan tinggal cari yang lain. Sehingga kalau dulu satu game bisa bertahan dimainkan hingga 3 bulan, sekarang paling bertahan dua minggu saja,”kata alumnus ITB Bandung ini.

Karena itu, kreativitas sangat diperlukan untuk bisa menggaet para gamer. Mulai dari menciptakan game yang unik namun tidak sulit dimainkan, hingga aktif mempromosikan game tersebut menjadi viral, serta pandai-pandai membaca pasar. Sehingga para game developer Indonesia ini juga bisa mengambil pasar yang cukup potensial ini.

“Indonesia ini jadi incaran karena anak mudanya cukup banyak dan mereka juga tidak segan merogoh kocek untuk bermain game. Tapi, jumlah game developer-nya masih kurang, sehingga sebagian diisi oleh luar,”ujarnya.

Padahal, menurutnya, profesi sebagai game developer ini cukup menarik. Tidak hanya dari sisi materi yang dinilai cukup menggiurkan, namun juga memberikan kepuasan tersendiri manakala ia berhasil memecahkan kode-kode dalam menciptakan berbagai jenis game.

“Saya suka mencoba, jadi begitu game action berhasil, coba lagi bikin game jenis lain, begitu seterusnya. Mulai dari 3 bulan mengembangkan hingga sekitar 20 hari selesai,”kata ayah dua putra ini.

Sedangkan untuk publikasi game, sejak 2005 hingga 2014, ia banyak bekerjasama dengan publisher game dari luar negeri. Namun sejak aktif sebagai dosen, ia lebih banyak mengembangkan game edukatif di situs pribadinya.

“Kalau dulu saat bekerja di perusahaan ya saya menggarap sesuai yang diminta, tapi karena sekarang sudah lebih independent, maka saya membuat game yang lebih banyak ke arah edukasi maupun simulasi. Game yang memudahkan anak untuk belajar, sepertinya bermain tapi sebetulnya belajar. Sehingga lebih bermanfaat,”ujar dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Ke depan, Wandah berharap akan muncul lebih banyak penerusgame developer. Karena itu,ia juga aktif menulis sejumlah buku terkait dengan industri kreatif ini. “Fungsinya untuk memudahkan mahasiswa maupun mereka yang berminat untuk berkecimpung di bidang ini,”katanya. 

(sm/dna/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia