Senin, 23 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Dua Penyandang Tunanetra di Magelang Menikah

Tanpa Pacaran, Ijab Dihadiri Penyandang Tunanetra

Selasa, 06 Mar 2018 13:44 | editor : Baskoro Septiadi

IJAB QABUL: Dua penyandang tunanetra, Nila Mulia Karin dan Helmy Ardiansah saat ijab qabul di depan petugas KUA Kota Magelang.

IJAB QABUL: Dua penyandang tunanetra, Nila Mulia Karin dan Helmy Ardiansah saat ijab qabul di depan petugas KUA Kota Magelang. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.ID - Pernikahan adalah sebuah ikatan janji suci dua manusia yang saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setidaknya ini yang terjadi pada pasangan Nila Mulia Karin, 39, dan Helmy Ardiansah, 39. Dua penyandang tunanetra ini menikah secara resmi, Minggu (4/3/2018), di rumah mempelai putri, Kampung Karet, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang.

Suasana khidmat tampak terasa saat Helmy Ardiansah mengucap kalimat ijab qabul di depan penghulu dari KUA Kota Magelang. Tanpa banyak kesalahan, Helmy mampu mengucap kalimat akad nikah dengan lancar meski tanpa melihat teks. Setelah dinyatakan sah oleh dua saksi, Helmi dan pengantin putri, Nila Mulia Karin, langsung kompak berucap Alhamdulillah sambil mengusap wajah.

Keterbatasan dalam melihat indahnya dunia tampaknya tidak membuat Nila patah semangat mencari jodohnya. Nila yang telah menyandang tunanetra sejak lahir pun tidak merasa sedih meski pasangan yang didapatnya pun sama-sama menyandang tunanetra.

Warga Kampung Karet, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang ini mengaku kali pertama bertemu dengan Helmy asal Riau setelah dikenalkan oleh temannya. Perkenalan tersebut berujung pada komunikasi yang intens, namun belum berbuah asmara. Nila bahkan mengaku sempat kehilangan komunikasi dengan Helmy selama kurang lebih satu tahun.

"Tetapi di bulan Juni 2017 lalu, Mas Helmy mencoba meminta nomor HP saya kepada teman saya. Dan kami mulai berkomunikasi kembali melalui HP, dan pada akhirnya berkomitmen untuk tidak berpacaran tapi taaruf," ceritanya sembari tersenyum usai ijab qabul.

Ajakan menikah dari Helmy, menurut Nila, sempat dikonsultasikan dengan keluarganya. Pihak keluarga sendiri menyerahkan sepenuhnya kepada dirinya. “Akhirnya saya mantap menerima pinangan Mas Helmy,” ujarnya malu-malu.

Kebahagiaan Nila pun semakin bertambah, karena teman-teman sesama penyandang tunanetra pun berkesempatan hadir dalam hari sucinya. Nila sangat berterimakasih kepada teman-temannya karena menyempatkan diri hadir.

Sosok Nila di mata keluarganya dikenal sebagai wanita yang sangat disiplin dan mandiri. Anggapan ini tidak semata tanpa dasar. Sebab, meski sebagai penyandang tunanetra, sejak kecil Nila pun menolak untuk diantarkan orang tuanya ke sekolah. Ia lebih memilih untuk berangkat sendiri. Untuk itu, keluarganya pun menyanggupi ketika Nila meminta agar rekan-rekan penyandang tunanetra turut diundang.

"Jadi, nanti saat resepsi pernikahan akan banyak rekan - rekan Nila dan Helmy yang juga tunanetra datang, bahkan pemain musiknya juga para penyandang tunanetra. Ini semua atas permintaan Nila," kata Ayah Nila, Soekardjan Samiun, yang tampak bahagia.

Soekardjan mengatakan, Nila adalah anak pertamanya yang tergolong pintar dan cerdas. Bahkan, putrinya itu telah berhasil meraih gelar S1 di Universitas Widya Mataram Jogjakarta.

" Nila menjadi mahasiswi satu - satunya yang menyandang tunanetra di universitas tersebut. Dosennya pun sempat menangis saat membaca skripsinya berjudul Mobilitas Penyandang Tuna Netra," tuturnya.

Soekardjan berharap, pernikahan putrinya akan langgeng, bahagia, dan segera dikarunia keturunan yang sholeh dan sholehah. “Semua keluarga pun berharap agar kebahagian terus hadir di kehidupan Nila dan Helmy,” harapnya.

(sm/cr3/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia