Minggu, 22 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Hukum & Kriminal
Pembunuhan Sopir Grab Car

Pembunuh Sopir Online Divonis 9 dan 10 Tahun

Rabu, 28 Feb 2018 06:50 | editor : Pratono

MAAFKAN PELAKU: Istri korban Deny Setiawan, Nur Aini, terus mengusap air matanya usai sidang di PN Semarang, Selasa (27/2/2018).

MAAFKAN PELAKU: Istri korban Deny Setiawan, Nur Aini, terus mengusap air matanya usai sidang di PN Semarang, Selasa (27/2/2018). (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID-Dua terdakwa kasus pembunuhan sopir online, Deny Setiawan, 32, diputus berbeda. Dua terdakwa yang masih ABG itu adalah IB, 16, warga Lemah Gempal, Semarang Selatan yang divonis 10 tahun, serta TA, 15, warga Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat yang divonis 9 tahun penjara. Vonis keduanya sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Zahri Aeniwati dan Harwanti. Keduanya divonis oleh hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Sigit Hariyanto dalam sidang yang digelar secara terpisah dan terbuka untuk umum, Selasa (27/2/2018).

Dalam persidangan kali ini, berbeda dari kasus-kasus lainnya. Ratusan pengunjung memadati ruang sidang. Berbagai elemen masyarakat yang hadir di persidangan dari Asosiasi Driver Online (ADO), mahasiswa, siswa SMK Negeri 5, keluarga korban maupun keluarga pelaku. Sejumlah aparat polisi berjaga ketat hingga di luar sidang dan jendela di seputar ruang sidang. Termasuk, anjing pelacak juga disiagakan. Bahkan, Kasi Tipidum Kejari Kota Semarang, Bambang Rudi Hartoko juga terlihat hadir di persidangan.

Dalam vonisnya, hakim Sigit Hariyanto menyatakan IB bersalah melakukan pembunuhan didahului kejahatan sebagaimana diatur dalam pasal 339 KUHP. Untuk TA dinyatakan bersalah, karena turut serta melakukan pembunuhan didahului kejahatan sebagaimana pasal 339 KUHP jo pasal 55.

"Mengadili, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa IB selama 10 tahun dan TA selama 9 tahun, dan menetapkan terdakwa tetap ditahan. Memerintahkan keduanya dipidana penjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo," kata hakim Sigit Hariyanto dalam kutipan amar putusannya yang digelar terpisah.

Sebelum menjatuhkan putusan, hakim dalam pertimbangannya menyebutkan bahwa hal yang memberatkan IB, perbuatan terdakwa sangat sadis, meresahkan masyarakat, keterangannya di persidangan berbelit-belit, dan belum ada permohonan maaf kepada keluarga korban. Hal meringankan, dikatakan hakim tidak ada. Sedangkan TA, dalam pertimbangan yang memberatkan, sama dengan IB. Namun ada pertimbangan hal yang meringankan, terdakwa mengakui perbuatannya dan tidak berbelit-belit. “Atas putusan ini, terdakwa bisa menerima, melakukan pikir-pikir selama 7 hari atau mengajukan grasi ke presiden. Sedangkan apabila tidak ada sikap selama 7 hari, maka dianggap sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Sigit.

Atas putusan itu, jaksa langsung menyatakan pikir-pikir, sama halnya dengan terdakwa dan kuasa hukumnya. Namun begitu sidang usai, keluarga TA yang tampak seperti ibunya, langsung menyalahkan dan berteriak kalau mereka jahat. Bahkan, tangisnya terus menjadi-jadi usai sidang, kemudian ditenangkan oleh keluarga dan kuasa hukum anaknya.

Berbeda dengan istri korban, Nur Aini, justru lebih tabah menahan air mata, isak tangisnya juga tumpah di luar ruang sidang. Ia yang datang bersama keluarga, kerabat dan anak semata wayangnya, mengaku menerima atas putusan itu. Nur berharap, kejadian yang sama tidak terulang kembali, dan pihaknya menyatakan terbuka menerima permintaan maaf dari pelaku.

Usai sidang, kuasa hukum IB, Jogi Panggabean, mengaku belum bisa mengambil keputusan atas kasus tersebut. Ia akan mempertimbangkannya dengan keluarga kliennya. Namun demikian, ia merasa ada yang janggal atas pertimbangan hakim, karena ia melihat pertimbangan yang diajukan pihaknya hanya dipenggal-penggal tanpa dibacakan secara detail.

“Kami melihat kasus seperti ini sudah biasa, tapi seolah digejolakkan dan digoreng. Kami juga melihat berlebihan di media sosial, padahal kasus lainnya juga banyak yang sama-sama kasus pembunuhan,” kata Jogi.

Sebelumnya, Deny menjadi korban pembunuhan kedua terdakwa yang hendak menguasai mobil Nissan Grand Livina warna hitam miliknya. Usai membunuh, mayat Deny dibuang di Jalan Cendana, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang pada Sabtu (20/1) malam. Tubuhnya tergeletak dalam posisi tengkurap serta bersimbah darah dengan luka berat di bagian lehernya.

(sm/jks/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia