Sabtu, 24 Feb 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Bencana Silih Berganti, 25 Tanggul Jebol

Senin, 12 Feb 2018 12:41 | editor : Ida Nor Layla

Bencana Silih Berganti, 25 Tanggul Jebol

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sejak awal tahun hingga awal Februari ini, sudah ada sekitar 25 tanggul di Jateng yang jebol. Tanggul tersebut tidak bisa menahan debit air yang terus meningkat pada cuaca esktrim belakangan ini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sumberdaya Air, dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng, Prasetyo Budhie Yuwono menjelaskan, sepanjang Januari kemarin, sudah ada 21 tanggul yang jebol. Dan sampai minggu kedua bulan ini, ada 4. "Ada tanggul di Pati yang jebol. Solo juga. Semarang ada 2. Plumbon dan Beringin. Sementara banjir besar di Jepara dan Kudus kemarin, tanggulnya tidak jebol, hanya limpasan saja," jelasnya, Minggu (11/2).

Jika hujan terus turun secara ekstrim, ada kemungkinan beberapa tanggul akan jebol. Karena itu, pihaknya makin intens berkoordinasi hingga tingkat posko di sejumlah daerah yang rawan. Sejumlah piranti untuk memperkuat tanggul dan membuat tanggul sementara pun dipersiapkan. "Karung diisi pasir. Harus siap banyak. Itu bisa menahan air. Jadi bisa digunakan untuk tanggul sementara. Kami juga minta seluruh pihak untuk lebih cepat dalam tanggap darurat" jelasnya.

Dijelaskan, salah satu titik rawan yang kini menjadi perhatian adalah wilayah Kaligawe. Sebab, banjir disana bukan lagi disebabkan karena rob, tapi karena limpahan debit air dari daerah atas. "Kalau rob sebenarnya sudah turun setelah purnama blood moon kemarin. Banjir disana karena curah hujan tinggi dan air dari atas. Sementara pompa untuk membuang airnya tidak seimbang, jadi surutnya agak lambat," bebernya.

Hingga saat ini, sebenarnya sudah ada lebih dari 50 pompa yang selalu siap menyedot air begitu air membanjiri bilangan Kaligawe. Bahkan minggu kemarin sudah ada tambahan 10 pompa. Tapi itu tetap tidak cukup.

Idealnya, setelah pintu air di Seringin lama dan baru ditutup, harus ada pompa yang mampu menyedot air dengan kapasitas 5 meter per kubik. "Saat ini kapasitas pompanya baru 1 meter per kubik. Jadi belum mampu," jelasnya.

Meski begitu, dia optimistis, masalah itu akan segera selesai. Sebab, pengadaan pompa sudah dianggarkan lewat tahun anggaran baru. "Kontraktor sudah siap pengadaan pompanya, kok," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana menjelaskan, berdasarkan komunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas tinggi bakal mengguyur Jateng hingga Maret mendatang. Sementara puncaknya, bakal terjadi sepanjang Februari ini.

Selain waspada banjir, pihaknya juga harus selalu siaga potensi longsor dan puting beliung. Potensi longsor di Jateng cukup luas karena memiliki topografi pegunungan, perbukitan dan di lereng-lereng tebing yang di bawahnya banyak permukiman. Seperti Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Pekalongan, Temanggung, Semarang, Karanganyar, Tegal, Wonogiri, Magelang, Purbalingga dan Boyolali.

"Kami mengimbau agar masyarakat terus waspada. Mitigasi masyarakat masih rendah, bantaran sungai berkembang menjadi pemukiman, akhirnya sungai mengalami sedimentasi," tuturnya.

Dijelaskan, meningkatkan mitigasi bencana bisa dilakukan dengan mengenali lingkungan sekitar.  Tanda-tanda akan terjadinya longsor seperti adanya retakan tanah, amblesan tanah, keluarnya mata air pada lereng, air sumur dan mata air tiba-tiba keruh, pohon dan tiang listrik miring, tembok bangunan dan pondasi tiba-tiba retak dan lainnya.

"Periksa adanya retakan tanah di bukit yang merupakan cikal bakal dari mahkota longsor. Saat hujan lebat waspadalah. Jika perlu mengungsi sesaat ke tempat aman," tegasnya. 

(sm/amh/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia