Selasa, 20 Feb 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Jual Beli Akun Driver Ojek dan Taksi Online

Dijual Hingga Rp 1 Juta, Ada yang Pakai Aplikasi Tuyul

Senin, 12 Feb 2018 11:29 | editor : Ida Nor Layla

Seorang driver taksi online sedang mengecek aplikasi di handphone-nya.

TUNGGU ORDER : Seorang driver taksi online sedang mengecek aplikasi di handphone-nya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Akun driver transportasi online, baik ojek maupun taksi online, kini banyak diperjualbelikan. Harganya mulai Rp 300 ribu-Rp1 juta per akun. Biasanya vendor menawarkannya di media sosial Facebook. Jual beli akun ini marak setelah banyak driver yang kena putus mitra (PM) dari penyedia jasa transportasi online.  Agar tetap bisa ‘narik’, para driver ini pun rela membeli akun driver ojek maupun taksi online atas nama orang lain.

ANDA yang kerap menggunakan transportasi online barangkali sering mengalami kejadian, wajah driver tak sesuai foto di aplikasi, atau kendaraan yang dipakai tak sama dengan di aplikasi, termasuk pelat nomornya. Kalau terjadi demikian, kemungkinannya bisa jadi si driver menggunakan akun driver milik orang lain. Atau driver tersebut membeli akun driver orang lain.

Ya, jual beli akun driver ojek dan taksi online kini marak. Salah satu driver ojek online, Herdiyan (bukan nama sebenarnya) membenarkan praktik jual beli akun driver tersebut. Oknum penjualnya pun dari kalangan sesama driver ojek daring yang identik dengan warna hijau tersebut. Sasaran ‘konsumennya’ biasanya para driver yang kena PM.

Dijelaskan, pengguna dari akun hasil transaksi jual beli sangat mudah diketahui. Di antaranya, foto, nomor dan jenis kendaraan yang digunakan berbeda dengan yang tertera di akun driver saat order. Selain itu, biasanya driver akun hasil pembelian ini tidak menerima order yang pambayarannya menggunakan go pay. “Kalau bayar pakai go pay, yang senang pemilik akun aslinya,” ujarnya.

Ia mengaku penah ditawari akun driver dari penjual yang juga oknum driver ojek online. “Pernah, ditawari satu akun Rp 500 ribu. Tapi yang aneh, dia nggak ninggalkan nomor telepon, dia cuma bilang kalau berubah pikiran cari ke pangkalan Simpang Lima saja. Selain harganya lumayan mahal, saya pikir ngapain punya dua akun, wong satu saja sudah ribet dengan pekerjaan yang lain,” katanya.

Herdiyan menambahkan, pernah menemui penumpang yang kebingungan mencari driver lantaran jenis kendaraan maupun pelat nomor yang tertera dalam pemesanan tidak ada, dan driver tidak memberikan petunjuk penjemputan yang jelas saat menelepon. “Penumpang kan lihatnya pelat nomor, mungkin untuk kasus itu (driver) yang beli ndilalah bukan atau belum pernah ikut jasa ojek online. Selain itu nomornya beda, penumpang telepon juga tidak nyambung ke nomornya (driver), tapi drivernya juga kurang pintar,” terangnya sambil tertawa.

Sebagai driver, ia menyayangkan perilaku oknum penjual akun ojek online tersebut. Menurutnya, bekerja jika sesuai dengan aturannya justru lebih mudah dan tidak akan ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, tentunya jika pembeli kurang pintar dalam menggunakan akun, justru akan terjadi kasus serupa seperti yang ditemukannya.

Driver ojek online lainnya, S, 43, mengaku terpaksa menyewa akun dari driver lain dengan sharing pendapatan 80-20 atau 80 persen buat dirinya, dan 20 persen buat pemilik akun. Sebab, saat akan mendaftar menjadi driver ojek online, dirinya terkendala syarat KTP yang belum jadi.”Saya sewa akun driver ojek online dikasih tahu teman  dan  dari grup Facebook. Di Facebook selain ada yang menjual, ada juga yang menyewakan,” katanya.

S mengaku, telah menggunakan akun driver lain selama 3 bulan. Ia hanya menerima order tunai agar pembayaran dari customer sepenuhnya langsung masuk ke kantongnya.  Sebab, jika menerima order dengan pambayaran go pay , maka uang tersebut akan masuk ke rekening pemilik asli akun tersebut.  Keuntungan S sebagai driver fiktif setiap harinya mencapai Rp 200 ribu– Rp 400 ribu.

Selama menjadi driver fiktif, terkadang ia merasa takut ketahuan akibat adanya komplain dari customer. Biasanya jika ada penumpang yang tanya kenapa  pelat nomor sepeda motor berbeda dengan di aplikasi, ia selalu menyampaikan berbagai alasan. Seperti motor habis kecelakaan, sedang diperbaiki di bengkel, dan sebagainya. “Ada juga yang tanya kenapa foto driver di aplikasi tidak sama dengan sebenarnya? Saya bilang sedang menggantikan adik yang sedang sakit atau tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Selain menggunakan akun driver milik orang lain, sejumlah driver juga kerap menggunakan ‘aplikasi tuyul’ untuk bisa membuat penumpang fiktif. Cara kerjanya driver memasang aplikasi tuyul yang sudah dibeli dari vendornya. Setelah dipasang nanti akan ada transaksi masuk dari aplikasi tersebut ke akun driver. Proses mendapatkan orderan layaknya customer biasanya. Akan tetapi dengan menggunakan aplikasi ini penumpang tidak nyata, melainkan fiktif belaka.

Pemasangan aplikasi tuyul ini marak di grup Facebook Gojek, seperti halnya di grup DGS (Driver Gojek Semarang) seduluransak lawase, terdapat sebuah akun yang menawarkan jasa demikian. Akun Tommy Nur Fauzy merupakan salah satu nama akun Facebook yang menawarkan jasa oprek HP atau pasang aplikasi tuyul. Saat di hubungi Jawa Pos Radar Semarang, ia mengatakan harga jasa pemasangan aplikasi bervariasi tergantung merek HP-nya. Contoh saja HP android merek Lenovo dibanderol seharga Rp 250 ribu. “Harganya Rp 250 om, nanti saya oprek dulu agar aman, bawa ke tempatku Jatingaleh” ujar salah satu penjual jasa aplikasi tuyul melalui pesan Whatsapp.

Dengan menambah aplikasi tuyul ini efeknya sangat signifikan. Amin (nama samaran) driver ojek online mengaku ordernya langsung naik dua kali lipat sejak memasang aplikasi tuyul. “Misalnya, kalau sebelumnya 6 orderan, dengan memasang aplikasi tuyul bisa dapat  12 orderan” jelas Amin.

Reza, driver ojek online warga Candisari mengaku memasang aplikasi tuyul di handphone-nya hanya untuk memudahkan mendapatkan order. Ia mengklaim aplikasi tuyul tidak merugikan perusahaan, baik Gojek, Grab maupun Uber.  “Saya aktifkan aplikasi tuyul di tempat-tempat yang ramai order. Misalnya, saya lagi di rumah di Candisari, tapi posisi di aplikasi saya aktifkan di Simpang Lima. Itu tidak merugikan perusahaan. Ya, memang customer jadi lama menunggu driver datang,” ujarnya. 

(sm/mim/tsa/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia