Sabtu, 24 Feb 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Banjir Terparah, Warga Trauma

Minggu, 11 Feb 2018 16:43 | editor : Pratono

BERSIHKAN SISA BANJIR : Sejumlah warga dibantu petugas Dinas Kebakaran dan unsur lainnya membersihkan lumpur sisa banjir di SD Negeri Wonosari 01 Semarang.

BERSIHKAN SISA BANJIR : Sejumlah warga dibantu petugas Dinas Kebakaran dan unsur lainnya membersihkan lumpur sisa banjir di SD Negeri Wonosari 01 Semarang. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID- Ribuan warga di Kelurahan Wonosari, Kacamatan Ngaliyan, serta di Kelurahan Mangkang Wetan, Mangkang Kulon dan Mangunharjo, Kecamatan Tugu belum bisa beraktivitas normal pasca diterjang banjir bandang, Jumat (9/2/2018) malam. Selain itu, banjir juga merendam sejumlah sekolah di dua kecamatan tersebut hingga proses belajar-mengajar Sabtu (10/2/2018) terpaksa diliburkan.

AKIBAT BANJIR : Ruang kelas SD Negeri Wonosari 01 Semarang yang penuh lumpur.

AKIBAT BANJIR : Ruang kelas SD Negeri Wonosari 01 Semarang yang penuh lumpur. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, di wilayah Jalan Kuda, Kelurahan Wonosari, sempat tergenang air setinggi 1,5 meter karena tanggul Sungai Beringin di wilayah tersebut jebol. Selain itu, limpasan air di Sungai Plumbon juga membuat ratusan rumah di Perumahan Mangkang Indah, Kelurahan Wonosari juga terendam banjir yang cukup dalam. Bahkan limpasan air kedua sungai tersebut sempat menggenangi Jalan Pantura Semarang-Kendal hingga lumpuh total, dan menyebabkan kemacetan panjang dari kedua arah, baik ke arah Semarang maupun ke arah Kendal.

"Ini adalah banjir terparah sejak 5 tahun terakhir, mungkin saja terjadi karena hutan di daerah atas dijadikan jalan tol. Sehingga resapannya berkurang, " kata Ismar Rohandik, warga Kelurahan Wonosari.

Sebelumnya, lanjut dia, banjir bandang sampai melumpuhkan jalur pantura terjadi pada 2010 lalu. Selain sendimentasi Sungai Beringin yang sudah sangat parah, diduga pembangunan proyek tol Semarang-Batang punya andil membuat wilayah Mangkang kembali terendam banjir. "Sebelumnya tidak pernah separah ini, berkali-kali wilayah Mangkang banjir sejak dibangun tol. Belum lagi sendimentasi di Sungai Beringin dan Sungai Plumbon yang sudah sangat parah," keluhnya.

M Kuaseni, warga RT 3 RW III Kelurahan Mangkang Wetan mengaku masih trauma atas musibah banjir yang baru saja terjadi. Pasalnya, limpasan air datang secara tiba-tiba dan dalam hitungan menit, rumah miliknya langsung terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter. "Banjir kali ini adalah yang terparah dibandingkan kemarin, air sungai langsung merangsek ke perkampungan secara cepat. Bahkan barang-barang berharga tidak ada yang bisa diselamatkan," katanya.

Selain rumah warga, banjir juga merendam sejumlah sekolah di dua kecamatan tersebut, di antaranya SD Negeri Wonosari 1, SDN Mangkang Wetan 1, 2 dan 3, SD Mangunharjo, SMP Muhammadiyah 9, SDN Mangkang Kulon 1, dan lainnya. Praktis, tidak ada kegiatan belajar mengajar pasca banjir, Sabtu (10/2/2018).

"Semua SD di Mangkang Wetan, Mangkang Kulon dan Mangunharjo dan SMP yang ada semuanya terdampak banjir. Jadi, tadi dari Dinas Kebakaran membantu melakukan pembersihan," kata Camat Tugu, Anton Siswantoro.

Terkait jumlah rumah yang terdampak banjir di tiga kelurahan yang berdekatan dengan daerah aliran Sungai Beringin dan Plumbon, dirinya tidak bisa menjelaskan secara rinci. Pasalnya, hampir semua RW di tiga kelurahan tersebut terendam banjir, bahkan daerah yang sebelumnya masuk dalam zona aman, pada Jumat (9/2/2018) pun terdampak banjir. "Selain sendimentasi Sungai Beringin dan Plumbon, banjir juga diperparah jebolnya tanggul Sungai Beringin di Kelurahan Wonosari yang langsung menerjang rumah warga dengan ketinggian bervariasi," tuturnya.

Untuk wilayah terparah terdampak banjir, lanjut Anton, adalah Kelurahan Mangkang Wetan. Bahkan, tanggul Sungai Beringin yang ada di RW 3 yang belum lama ini jebol, kian bertambah parah. "Total ada 7 titik jebolan, di Sungai Beringin ataupun Plumbon. Namun wilayah terparah Kelurahan Mangkang Wetan," jelasnya.

Satu rumah warga, lanjut dia, roboh lantaran tidak kuat menahan derasnya air. Rumah tersebut milik lansia bernama Maemunah atau Mbah Rewok atau Mbah Mona. Untungnya, warga sekitar sigap mengevakuasi nenek yang tinggal sebatang kara tersebut, sehingga tidak ada korban jiwa. "Ada satu rumah rubuh milik Mbah Mona. Untungnya sebelum air tinggi, beliau sudah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi," ucapnya.

Agar tidak terjadi banjir susulan, pihak BBWS Pemali-Juana, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, BBPD Kota Semarang, TNI-Polri, Dinas Sosial, dan Satpol PP berencana menembal tanggul yang jebol dengan karung berisi pasir. Sementara untuk jangka panjangnya, diharapkan normalisasi Sungai Beringin dan Sungai Plumbon harus dilakukan secepatnya. "Dengan normalisasi dua aliran sungai ini, banjir di wilayah Mangkang bisa diminimalisasi. Sehingga warga tidak terus dihantui oleh rasa waswas ketika hujan deras," harapnya.

Kepala Dinas Pekerja Umum Kota semarang, Iswar Aminnudin, mengatakan, pemkot telah mendorong pemerintah pusat untuk segara melakukan normalisasi, karena kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. "Kami mendorong pemerintah pusat agar dipercepat normalisasi, apalagi keadaan di lapangan sangat memprihatinkan. Sebulan saja sudah terjadi dua kali banjir di Mangkang," katanya di lokasi banjir, Sabtu (10/2/2018) siang.

Selain normaliasi, lanjut dia, pembangunan dan pengembangan di daerah atas juga harus dipantau. Menurut Iswar, perlu ada sinergi antara Pemkot Semarang, Pemkab Kendal dan Pemkab Semarang serta pihak swasta terkait pengembangan, khususnya di daerah resapan. "Sebab, curah hujan yang tinggi, air langsung dilepaskan ke bawah secara langsung. Akibatnya akan terjadi banjir bandang," tuturnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pengembang perumahan untuk membangun embung sesuai dengan kapasitas pembukaan lahan yang dilakukan. Namun fokusnya tetap dilakukan normalisasi secapatnya oleh pemerintah pusat. "Untuk menangani banjir saat ini tentunya adalah normalisasi. Harapannya segera dan jangan menunggu terlalu lama," tegasnya.

Ketika disinggung apakah banjir terjadi salah satunya akibat dampak proyek Tol Semarang - Batang, pihaknya enggan berkomentar. Namun, menurut Iswar, seiring adanya perubahan fungsi lahan, pastinya akan mempengaruhi debit air, terutama jika dilakukan di lahan serapan. "Yang jelas setiap pembangunan jangan mengesampingkan area yang terbangun, jadi harus ada hitungan berapa kapasitas daya tampung air hujan. Perubahan fungsi ini, jelas mempengaruhi fungsi resapan," katanya.

(sm/den/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia