Sabtu, 24 Feb 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Liem Thian Joe, Penulis Buku Riwajat Semarang

Arsip Kongkoan Jadi Sumber Riwajat Semarang

Minggu, 11 Feb 2018 09:00 | editor : Pratono

KARYA PENTING : Buku Riwajat Semarang cetakan 1933 dan Riwayat Semarang cetak ulang 2004.

KARYA PENTING : Buku Riwajat Semarang cetakan 1933 dan Riwayat Semarang cetak ulang 2004. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Setiap penelitian sejarah Kota Semarang, buku Riwajat Semarang : Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kong Koan tak bisa dilepaskan dari salah satu sumber data. Buku ini lahir dari tangan seorang wartawan, Liem Thian Joe.

Liem Thian Joe

Liem Thian Joe (Istimewa)

CHARLES A Coppel dalam buku Konglomerat Oei Tiong Ham suntingan Yoshihara Kunio menuliskan, Liem Thian Joe lahir di Parakan Kabupaten Temanggung. Tanggal kelahirannya tak diketahui pasti. Bahkan tahun kelahiran ditulis 1895 atau 1897.

Mulanya Liem Thian Joe mendapat pendidikan di sekolah-sekolah Melayu dan Jawa sebelum pindah ke sekolah Tionghoa Hokkian selama 10 tahun. Pendidikan Liem Thian Joe berlanjut ke sekolah Tiong Hwa Hak Tong di Ngadirejo Temanggung.

Setelah lulus, ia sempat menjadi pedagang di Ngadirejo. Tapi bakat menulis, akhirnya mengantarkan Liem Thian Joe ke dunia jurnalistik. Pada 1920-an, ia bergabung ke harian peranakan Tionghoa Warna Warta di Semarang. Liem Thian Joe pada saat itu disebutkan juga menulis untuk harian Perniagaan yang terbit di Batavia atau sekarang menjadi Jakarta.

Pada awal 1930-an, Liem Thian Joe keluar dari Warna Warta dan menjadi penyunting di harian Djawa Tengah dan majalah bulanannya Djawa Tengah Review, masih di Semarang. Kemudian, ia juga sempat menjadi kontributor edisi minggu koran Sin Po di Jakarta.

Selama bekerja di Djawa Tengah Review, karya fenomenal Liem Thian Joe muncul. Secara rutin ia menulis sejarah Semarang dari edisi Maret 1931 sampai Juli 1933. Liem Thian Joe sungguh beruntung karena masih sempat mengakses dokumen-dokumen berbahasa Tiongkok yang tersimpan di kantor Kongkoan sebelum dirampas polisi Kolonial Hindia Belanda.

Liem Thian Joe mencatat berbagai peristiwa penting yang terjadi di Semarang. Misalnya pembangunan rel kereta api pertama di Indonesia, berdirinya berbagai kelenteng di Pecinan, lahirnya Kongkoan, hotel Tionghoa pertama, kedatangan Raja Siam (Thailand) ke Semarang, surat kabar pertama di Semarang. Ia juga mencatat momen-momen pergerakan nasional seperti pemogokan buruh serta rapat-rapat umum menggalang perlawanan terhadap kolonial. Asal mula nama-nama kampung di Semarang tak lupa dari catatannya.

Tulisan inilah yang kemudian dibukukan menjadi Riwajat Semarang : Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kong Koan pada 1933. Buku setebal 334 halaman yang diterbitkan Boekhandel Ho Kim Yoe di Semarang dan Batavia ini, sekarang menjadi rujukan para penulis sejarah Kota Semarang. Pada 2004, buku Riwayat Semarang dicetak ulang dengan penyesuaian bahasa terkini oleh penerbit Hasta Wahana Jakarta.

Penulis buku The Chinese of Semarang : A Changing Minority Community in Indonesia, Donald Earl Willmott memberikan apresiasi khusus pada Liem Thian Joe. Pada buku yang diterbitkan Cornell University Press di 1960, Willmott mempersembahkan buku tersebut untuk Liem Thian Joe, selaku sejarawan Semarang, wartawan dan kawan yang telah meletakkan fondasi masa lalu pada penelitian tersebut.

Selain Riwajat Semarang, Liem Thian Joe juga menulis Boekoe Peringetan 1907-1937 Tiong Hwa Siang Hwee Semarang pada 1937, meski namanya tidak tercantum di buku tersebut. Buku lainnya adalah Poesaka Tionghwa yang diterbitkan di Semarang pada 1952. Liem Thian Joe meninggal dunia di Semarang pada 1963.

Pemerhati Sejarah Semarang, Tri Subekso, menilai, Riwajat Semarang merupakan buku penting bila bicara tentang sejarah Semarang. “Salah satu referensi utama di antara data dan literatur tentang Semarang yang tidak banyak,” ujar lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Buku Riwajat Semarang ditulis berdasar arsip-arsip dan catatan di sekitar 1930-an, menjadikannya sumber sejarah yang sangat berharga untuk merekonstruksi sejarah Semarang. Selama ini sejarawan atau penulis kesulitan menemukan arsip Semarang, salah satunya karena peristiwa terbakarnya Gedung Papak pada sekitar 1954 yang memusnahkan arsip-arsip berharga.

“Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sejarah Semarang, buku Riwajat Semarang bisa dipadukan dengan arsip-arsip mutakhir, juga data-data arkeologi yang pada masa itu belum ditemukan atau belum dijadikan bahan untuk rekonstruksi peristiwa masa lalu Semarang,” jelas tutur pria yang sedang menempuh pendidikan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.

(sm/ton/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia