Minggu, 21 Jan 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Bus-Bus Tuyul Legendaris yang Pernah Berjaya

Minas Sisakan Satu Trayek, Umbul Mulyo Kini Mangkrak

Cover Story

Selasa, 09 Jan 2018 13:07 | editor : Baskoro Septiadi

NDONGKROK: Puluhan armada bus Umbul Mulyo kini mangkrak di garasi yang terletak di Jalan Sukun Raya, Banyumanik, Semarang. Dulu bus ini sempat berjaya dengan menguasai sejumlah trayek di Kota Semarang dan sekitarnya.   

NDONGKROK: Puluhan armada bus Umbul Mulyo kini mangkrak di garasi yang terletak di Jalan Sukun Raya, Banyumanik, Semarang. Dulu bus ini sempat berjaya dengan menguasai sejumlah trayek di Kota Semarang dan sekitarnya.   (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Keberadaan bus kota berukuran ¾ atau dikenal dengan ‘bus tuyul’ dulu menjadi primadona warga Kota Semarang saat bepergian. Hampir semua jalanan protokol Kota Atlas dilewati bus berkapasitas normal 27-33 penumpang ini. Namun sejak beroperasi bus rapid transit (BRT) Trans Semarang pada 2009, dan maraknya transportasi aplikasi online, bus-bus tuyul mulai kehilangan penumpang dan terpinggirkan.

Bahkan, tak sedikit yang sudah tidak beroperasi. Armada bus yang sudah reyot pun dibiarkan ndongkrok di pool.”IKI akiku piye, mben isuk kok kudu mancing sik. Mben esuk otong-otong aki yo lempoh,” keluh seorang sopir tua kepada pengelola PO Minas.

Keluhan tentang kondisi bus, sepinya penumpang, dan hal-hal lainnya menjadi lazim disampaikan para sopir bus. Pendapatan para sopir pun kian hari kian turun. Bahkan bisa jadi, para sopir harus berhutang setoran saking sepinya penumpang.

Kondisi ini sangat jauh berbeda saat bus 3/4 ini masih menjadi primadona di Semarang. Jika muncul keluhan, mungkin keluhan karena saking banyaknya penumpang tak bisa terangkut semua. Bahkan dulu, bus bukan mencari penumpang, justru penumpanglah yang rela antre menunggu kedatangan bus yang sempat mencapai puncak kejayaan pada 2000-an hingga sebelum diluncurkannya BRT Trans Semarang pada 2009.

Bus Nasima dulu menguasai sebagian besar trayek di Semarang. Saat itu, bus ini melayani trayek Terboyo-Bandungan, Terboyo-Ambarawa, Terboyo-Gedawang, Terboyo-Gunungpati, Terboyo-Boja, Terboyo-Penggaron, Terboyo-Elisabeth, PRPP- Klipang, dan PRPP-Bukitsari. Sempat juga membuka trayek Terboyo- Pringapus Kabupaten Semarang.

Namun dari sejumlah trayek yang pernah dilewati roda-roda kekar bus ini, sekarang tinggal satu taryek yang masih tersisa. Yakni, taryek Terboyo-Elisabeth. Itupun sekarang sudah sepi penumpang. Karena para awak bus harus bersaing dengan primadona baru angkutan masal sekarang, BRT Trans Semarang.

”Banyak sopir yang ngeluh dan khawatir, jika nantinya sisa trayek ini jadi dilalui BRT. Tapi, kami selalu berikan motivasi pada mereka untuk tetap bekerja saja, tanpa khawatir,” jelas Sardi, pria yang saat ini dipercaya mengurus PO Minas saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di pool Minas Jalan Padi Raya Kav III Perumahan Genuk Indah, Semarang.

Kekhawatiran ini mungkin tidak pernah ada di masa kejayaan bus yang hingga sekarang masih melekat di ingatan para penumpang setianya. Di masa kejayaan, bus bus inilah yang setia mengantarkan warga Semarang ke berbagai tempat tujuan. Bus inilah yang setiap harinya dapat disaksikan lalu lalang di Kota Atlas bersama sejumlah bus-bus lain, seperti Dana Perkasa, Sumber Laris, Fery Jaya, Rata Kencana, dan sejumlah bus milik perorangan.

”Dulu waktu jaya, armadanya bisa mencapai 200-an lebih. Mengenai pendapatan, jika sehari setor Rp 100 ribu, bisa dikalikan jumlah armada. Itu tahun 2000-an,” jelas Sardi, pria yang saat ini dipercaya sang pemilik untuk mengurus PO Minas.

Tak heran, jika bekerja di PO Nasima –nama sebelum berganti menjadi PO Minas --saat itu menjadi idaman bagi sejumlah orang. Saking banyaknya peminat, Nasima sangat selektif dalam memilih karyawannya.

Sardi sempat menjelaskan sejarah pergantian nama Nasima menjadi Minas. Dijelaskan, awalnya perusahaan bus ini bernama PO Nasima. Namun setelah berganti kepemilikan pada 2002, nama bus pun ikut berganti menjadi Minas. Tidak jauh berbeda, karena ternyata Minas merupakan singkatan dari "Milik Nasima".

”Pemilik sebelumnya sekarang bikin PO sendiri. Namanya D'Nasima, tapi hanya untuk bus pariwisata,” jelas Sardi yang bekerja di PO Minas sejak 2002.

Ditambahkan, 200 lebih armada bus Nasima saat itu ditampung di beberapa pool. Selain di Genuk Indah, pool Nasima lainnya di Mijen, Bandungan, dan Manyaran. ”Kalau ditampung di sini semua ndak muat. Dulu ada bagian operasional yang mengatur saat bus parkir, ya karena penuh sesak. Biasanya bus yang berangkat awal, diparkir di barisan depan,” kenangnya.

Dari 200-an lebih armada, kini hanya tersisa 10 armada di pool Genuk Indah. Itupun tidak semuanya masih beroperasi. Hanya 6-7 armada yang masih kuat ‘mengaspal’ bersaing dengan BRT Trans Semarang yang fasilitasnya terus ditingkatkan.

Kini, orang akan melihat bus legendaris ini dengan beberapa bagian yang sudah mulai keropos termakan usia. Keraguan tentu ada, dengan penampilan bus tua yang terbilang cukup memprihatinkan. Alas jebol, kursi dengan busa terurai, kaca pecah bagian depan, menjadi pemandangan biasa bus yang ternyata hingga kini masih memiliki penumpang setia. Namun demikian, para mekanik selalu memperhatikan aspek keselamatan penumpang.

“Penampilan boleh berkurang, tapi standar keselamatan tetap tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan kelayakan selalu dilakukan setiap hari untuk memastikan bus dalam kondisi layak mengantarkan penumpang ke tempat tujuan,” kata Nuryanto, 57, montir PO Minas.

Nuryanto mengaku setiap hari harus memeriksa bagian ondersteel bus. Terutama fungsi rem, per, terot-terot, stir, laker, dan bagian lainnya yang penting untuk diperhatikan.”Bagian-bagian ini yang harus diperiksa setiap harinya. Terutama fungsi pengereman, kadang rem nyeplos, itu harus diperhatikan,” jelas ayah dua anak yang sudah bergabung di Nasima sejak 1990, dan sempat dua kali menjadi kepala bengkel ini.

Menurut dia, bus harus setiap hari diperiksa. Tidak boleh tidak, demi keselamatan penumpang. Namun untuk mesin, ia katakan, memiliki waktu yang cukup lama. Sekali turun mesin, dapat digunakan dalam kurun waktu 3-5 tahun.

”Untuk bus tua sekali bongkar bisa digunakan 3-5 tahun. Bisa dibayangkan kalau mobil sekarang itu mesin bisa dipakai hingga 5-10 tahun. Hanya kalau bagian seperti rem, ban, dan lain-lain kan memang harus diperiksa setiap hari,” jelas pria ramah yang mulai terlihat kerutan di wajahnya karena termakan usia.

Ia turut mengisahkan, di masa kejayaan, bus ini memiliki sedikitnya 33 montir beserta pembantunya. Kini, satu dari dua digit itu sudah menghilang. Sehingga, termasuk dirinya, saat ini jumlah montir hanya tersisa 3 orang. Ia juga sempat menjadi saksi perkembangan armada dari 18 menjadi 285 unit, yang kemudian kini hanya tersisa 8 unit saja.

”Saya sudah 27 tahun di sini. Sempat merasakan masa kejayaan dan masa sekarang. Bagaimanapun saya bersyukur bisa mengalaminya. Kerja berat, tapi disyukuri,” jelas montir senior ini. ”Saya ini orangnya kecil, tapi nangani mesin besar-besar,” candanya.

Selain Nasima atau Minas, sejumlah bus tuyul yang melayani rute dalam kota, saat ini juga ibarat hidup segan mati tak mau karena tergilas oleh zaman. Padahal pada masa jayanya pada 2000an, beberapa PO seperti Umbul Mulyo, Minas, Rata Kencana, Dana Kencana dan lain sebagainya menjadi tranportasi andalan warga Semarang untuk bepergian.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, nama-nama bus terkenal zaman dulu itu kini sulit ditemukan atau bahkan hampir punah. Bus ¾ warna kuning khas Rata Kencana pun kini beralih nama. Kondisinya jangan ditanya, tua berkarat dan nyaris tidak layak jalan. Bahkan di beberapa bagian bodi bus tampak lubang mengga termakan zaman alias keropos.“Sekarang cari penumpang sedikit susah, banyak yang memilih naik BRT Trans Semarang yang lebih murah dan ada AC-nya,” keluh Suryanto, salah satu sopir bus tuyul di Terminal Mangkang.

Pada masa jayanya bus ¾,  lanjut dia, seluruh tempat duduk selalu penuh sesak penumpang. Bahkan penumpang rela antre ataupun memilih berdiri untuk sampai ke tujuan.  Bus yang disopirinya memiliki rute Mangkang –Penggaron. “Sekarang mereka menang milih, karena banyak pilihan alat transportasi. Selain BRT juga di daerah sudah banyak yang punya motor, jadi lebih memilih naik motor ketimbang bus,” tuturnya.

Sementara itu, bus kota yang pernah jaya di masanya, yakni Umbul Mulyo kini juga sudah mati suri. Dulu bus ini memiliki rute Terminal Terboyo – Jalan Kaligawe – Jalan R Patah – Jalan Dr Cipto – Jalan Kompol Maksum – Jalan MT. Haryono – Jalan Sriwijaya – Jalan Veteran -  Jalan Dr Sutomo – Jalan MGR Soegijapranata  Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Siliwangi - Krapyak – Jalan Gatot Subroto - Gunungpati – Jalan Imam Bonjol – Jalan Kol Sugiyono - Tawang – Pengapon.  Puluhan armada bus Umbul Mulyo kini sudah tidak beroperasi. Bahkan bus mangkrak di garasi Jalan Sukun Raya Banyumanik. Garasi bus tersebut terkunci dan tidak berpenghuni.

“Memang saat sudah lama banget tidak beroperasi, Mas, yang jaga juga datangnya malem,” ucap Sismanto, warga sekitar pool Umbul Mulyo di Jalan Sukun Raya.

Ia mengaku, tidak tahu pasti sejak kapan bus Umbul Mulyo sudah tidak beroperasi lagi. “Sekitar sejak 3 tahunan ini kayaknya, namun pastinya tidak tahu,” katanya.

Dulu bus Umbul Mulyo menjadi primadona bagi warga Gunungpati. Bus bercat putih dengan tulisan biru tersebut menjadi salah satu pilihan warga yang berdomisili di Kelurahan Nongkosawit, Kandri, Sadeng, Pongangan dengan pemberhentian akhir di Terminal Pasar Gunungpati. “Sejak jembatan Kalipancur diperbaili 5 tahun lalu, bus tersebut sudah tidak melayani rute Gunungpati, karena harus memutar jauh. Praktis warga hanya mengandalkan angkot Daihatsu saja,” ujar Astri Kowati, warga Nongkosawit. 

(sm/cr4/den/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia