Rabu, 17 Jan 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Tak Nyaman, Penumpang BRT Harus ke Tengah Jalan

Kamis, 04 Jan 2018 13:15 | editor : M Rizal Kurniawan

DIKELUHKAN : Penumpang terpaksa tidak naik dan turun lewat shelter BRT yang ada di kawasan Johar. Sebab, jalur BRT tersebut dipenuhi kendaraan parkir.

DIKELUHKAN : Penumpang terpaksa tidak naik dan turun lewat shelter BRT yang ada di kawasan Johar. Sebab, jalur BRT tersebut dipenuhi kendaraan parkir. (sigit adrianto/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.ID - Shelter Bus Rapid Transit (BRT) di depan BPD pasar Johar tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bus tidak dapat merepat ke shelter karena banyak mobil terparkir di sekitar shelter BRT.

Untuk naik ke bus, penumpang harus ke tengah jalan dan melalui pintu depan bus. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, tempat duduk shelter BRT justru dipakai oleh orang untuk tidur.

Salah satu penumpang BRT, M Nor Alim, warga Mangkang menyesalkan kondisi ini. Dirinya merasa kurang nyaman karena harus menunggu bus di tengah jalan. Bahkan beberapa kali ia harus terlewat bus karena kesulitan koordinasi dengan petugas shelter BRT.

”Kurang nyaman. Ini kan harusnya ada atau tidak ada penumpang busnya berhenti di shelter walaupun sebentar. Ini malah penumpangnya harus melambaikan tangan untuk membuat busnya berhenti,” ujar pria ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

”Ini naik BRT malah seperti naik metromini,” imbuhnya setengah bercanda.

Saidah, penumpang lain juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mau tidak mau dirinya juga harus berdiri di tengah jalan menunggu BRT datang jika tidak mau menumpang bus selanjutnya karena terlewat.

”Selain harus di tengah jalan, bahaya, ini juga harus panas-panasan. Harusnya itu ditertibkan parkir yang ada di sekitar shelter,” keluhnya sesekali mengusap keringat di dahi.

Aldo Candra, petugas shelter BRT mengatakan bahwa hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Menurutnya, parkir akan tertib ketika ada petugas dari Dishub. Namun demikian, parkir akan kembali menutup jalur BRT menuju shelter jika dishub tidak ada di tempat. ”Ini justru merepotkan. Karena untuk menaikkan penumpang saya harus ke tengah memberi kode kepada supir ada atau tidaknya penumpang,” ujarnya.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari pihak terkait.

(sm/cr4/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia