Senin, 23 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang
Rencana Penutupan Lokalisasi Sunan Kuning

PSK Sunan Kuning Sewa Rumah Rp 100 Juta

Kamis, 04 Jan 2018 08:00 | editor : M Rizal Kurniawan

MENGGODA:  Sejumlah penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat belanja sayur  keliling.

MENGGODA: Sejumlah penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat belanja sayur keliling. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID - Rencana penutupan Resosialisasi Argorejo RW 4, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, sebetulnya bukan kabar baru bagi para penghuni kampung yang dikenal dengan nama Lokalisasi Sunan Kuning ini. Sebelumnya, wacana penutupan sudah beberapa kali dihembuskan, namun selalu gagal. Nah, kabar penutupan lokalisasi kali ini membuat sejumlah penghuni lokalisasi terbesar di Kota Semarang ini khawatir.

Mereka menyatakan menolak apabila penutupan lokalisasi ini benar-benar dilakukan oleh Kementerian Sosial dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pada 2018 ini. “Memang, kabar rencana penutupan itu sudah lama. Hampir semua warga sudah tahu. Beberapa waktu lalu malah sudah diminta tanda tangan. Kami menolak kalau dilakukan sekarang (2018),” kata salah satu warga di Argorejo, sebut saja Mami, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (3/1).

Mengapa menolak? Sebab, rata-rata penghuni Argorejo mengontrak rumah di kawasan tersebut. Para penghuni rumah hiburan di Argorejo hampir semuanya pendatang. “Ada yang dari Jepara, Wonogiri, Gunungkidul, Solo dan lain-lain. Mereka di sini mengontrak rumah. Mengapa menolak? Ya, karena kalau mendadak digusur mengalami kerugian besar. Sebab, biaya kontrak rumah di sini terbilang mahal, yakni berkisar Rp 100 juta per tahun. Pemilik rumah yang asli biasanya membeli rumah di tempat lain,” bebernya.    

Jika rencana penutupan itu benar dilakukan, ia tidak bisa berbuat banyak. Mau tidak mau harus mengikuti program pemerintah. “Tetapi setidaknya kami meminta keringanan hingga 2019, ‘kersane angsal duit rumiyin’ (biar mendapat uang dulu),” kata Mami.

Di lokasi Argorejo, sedikitnya terdapat 177 wisma karaoke, dikelola oleh 158 mucikari dan sebanyak 487 wanita pekerja seks komersial (PSK) tersebar di 6 RT, dengan lahan seluas 3,5 hektare. Tidak hanya itu, bisnis prostitusi ini memiliki mata rantai ekonomi ribuan orang. Sedikitnya ada 240 tenaga operator karaoke, puluhan tukang laundry, toko kelontong dan ratusan pedagang kaki lima (PKL). Data tersebut adalah yang tercatat oleh pengurus Resosialisasi Argorejo.

Selain itu, masih terdapat ratusan wanita yang bekerja sebagai pemandu karaoke freelance yang tidak terdata oleh pengurus. Diperkirakan, transaksi uang per hari rata-rata tak kurang dari Rp 500 juta. Dalam satu bulan, terdapat transaksi keuangan kurang lebih Rp 15 miliar di tempat lokalisasi ini.  

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, mengatakan, pihaknya setuju dan mendukung rencana penutupan Lokalisasi Argorejo tersebut. “Semangatnya adalah kebijakan Presiden RI Joko Widodo. Kami sangat menghormati dan mendukung penuh terkait kebijakan itu. Kami bersepakat bahwa tindakan ini harus komprehensif, persuasif dan solutif. Bukan represif, karena akan menimbulkan persoalan. Sehingga upaya itu diiringi dengan solusi-solusi bagi para penghuni,” kata Agung.

Dikatakannya, rencana tersebut kembali ke Pemerintah Kota Semarang untuk membuat program bersama pemerintah pusat agar terealisasi secara maksimal. “Kalau di kota-kota lain bisa, saya pikir di Semarang bisa. Saya sendiri optimistis dan mendukung. Ada paket-paket program yang kemudian menjadi bekal operasional diberikan oleh pemerintah pusat. Artinya, penutupan tidak dilakukan secara semena-mana,” katanya.

Aktivis dan Pemerhati Sosial, Paskalis Abner, menilai, soal penutupan lokalisasi itu sebetulnya menjadi masalah kedua. Masalah pertama dan utama adalah bagaimana rencana pemerintah untuk menutup lokalisasi itu benar-benar telah ditelaah, dianalisis dan tidak tergesa-gesa. “Tidak hanya melihat aspek kepentingan pemerintah saja. Tidak hanya aspek moral saja, tetapi juga memertimbangkan banyak aspek lain. Persoalannya bukan semata-mata moral, tetapi juga ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Apakah selama ini belum ada upaya? Sudah. Bukan tidak ada upaya. Tetapi upaya selama ini belum serius,” ujarnya.

Jangan sampai penutupan lokalisasi hanya dilatarbelakangi oleh kemauan pihak tertentu atas alasan politik. “Saya sudah cukup lama berkecimpung, membantu, mendampingi teman-teman di lokalisasi termasuk masyarakat yang ada di situ. Para penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV-AIDS yang ada di sana. Mereka perlu dilibatkan sebelum pada akhirnya mengambil keputusan final mengenai rencana penutupan itu,” katanya.

Paskalis menyoroti rencana penutupan Lokalisasi Argorejo tersebut, kenapa pemerintah tidak memikirkan soal bagaimana orang-orang di lokalisasi tersebut agar bisa mengembangkan hidup lebih lanjut tanpa harus bekerja sebagai pekerja seks?  “Lebih tepatnya alihfungsi, bukan penutupan. Ini yang tidak mudah. Saya khawatir, pemerintah ini hanya membunuh api kecil. Sedangkan api yang besar tidak diselesaikan,” tandasnya.  

Ia menyontohkan, penutupan lokalisasi di Surabaya. Apakah setelah lokalisasi setelah ditutup, kemudian bisnis prostitusi tersebut berhenti? Ternyata tidak. Mungkin tempatnya itu memang benar-benar tutup. Tetapi prostitusi tetap berlangsung di lain tempat. “Di luar sana justru semakin merebak. Nah, justru yang seperti ini malah semakin tidak bisa dipantau dan tidak bisa didampingi, karena mereka tumbuh subur di mana-mana. Di Surabaya masih ada tuh,” katanya.  

Menurut dia, menutup lokalisasi bukan menjadi solusi yang bijaksana. Seharusnya, mereka diberikan pendampingan secara maksimal. Semua stakeholder dilibatkan, tokoh agama, LSM, pemerintah daerah, pusat, harus bisa bersinergi. “Peningkatan skill digerakkan dan dilakukan pendampingan secara maksimal. Supaya mereka lambat laun bisa berpikir mandiri, membuka warung, buka salon, dan lain-lain. Di Surabaya, pelaku prostitusi dikasih Rp 5 juta tidak jalan. Uangnya malah habis untuk kebutuhan. Abis itu mereka kembali lagi melakukan prostitusi di tempat lain. Coba didata baik-baik,” ujarnya.

  Salah satu pendamping di Wisma Mawar Merah di Jalan Argorejo 1, Endang, mengakui telah mendapat informasi adanya rencana penutupan tersebut. Informasi yang diperolehnya, penutupan tersebut akan dilakukan pada tahun 2019. "Ya sudah dengar, setiap ada kegiatan kan dikasih tahu sama pengurus Resos, kalau mau ada penutupan tahun 2019," ungkap Endang.

Warga asal Bandungan Kabupaten Semarang ini mengakui, para penghuni di Resos Argorejo telah mendapat pelatihan keterampilan sebagai bekal setelah nanti dientaskan. Keterampilan tersebut di antaranya menjahit dan potong rambut alias salon. "Kalau memang terjadi, di sini sudah ada persiapan, diberi pelatihan keterampilan tataboga, menjahit, salon, kemarin bikin tas. Jadi anak-anak disini sudah diberi pelatihan, kalau memang benar-benar ditutup ya sudah siap. Tapi memang untuk sementara ini masih ditolak," tegasnya.

Selain itu, Endang juga mengakui pendapatan pada awal tahun lalu menginjakan kakinya di tempat tersebut mendapat tamu 5 sampai 7 orang setiap harinya. Sedangkan tarif sekali kencan, rata-rata kisaran Rp 50 sampai Rp 75 ribu dengan potongan sewa kamar Rp 10 ribu.

"Kalau sekarang ya tergantung kamarnya, kalau bagus ya Rp 35 ribu, kalau biasa seperti ini ya Rp 20 ribu. Kalau melayani tamu ya yang masih cantik, muda antara Rp 120 ribu sampai Rp 200 ribu," jelasnya.

Terpisah, Camat Semarang Barat, Sumardjo, menjelaskan rencana penutupan tersebut akan dimajukan pada 2018. Namun demikian, pihaknya belum mengetahui secara pasti jadwal penutupan. "Informasi 2018, akhir atau awal belum tahu, itu pusat," tegasnya.

Terkait sosialisasi yang dilakukan, Sumardjo menjelaskan saat ini pihaknya telah bekerjasama dengan Dinas Sosial Kota Semarang memberikan pembinaan dan pelatihan dan keterampilan secara rutin sebagai bekal nantinya. "Sementara ini bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Semarang, mengadakan pelatihan-pelatihan dan pembinaan secara rutin dilaksanakan yang berhubungan dengan kemampuan masing-masing penghuni resos," katanya.

(sm/amu/mha/mim/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia