Minggu, 17 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Features
Lebih Dekat dengan Klub Motor IM3Boys

Semangati Kaum Difabel Tetap Kuat dan Percaya Diri  

Selasa, 05 Dec 2017 13:30 | editor : Baskoro Septiadi

KOMPAK: Anggota Klub IM3Boys saat kopi darat di depan Mal Tamansari Salatiga.   

KOMPAK: Anggota Klub IM3Boys saat kopi darat di depan Mal Tamansari Salatiga.   (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Klub motor biasanya bergantung merek dan jenis motor yang dikendarai. Beda dengan klub IM3Boys, yang merupakan kepanjangan dari Ikatan Motor Roda Tiga Boyolali-Salatiga. Anggotanya adalah para penyandang disabilitas. Seperti apa?

BELASAN sepeda motor terparkir rapi di depan Mal Tamansari Salatiga, kemarin malam. Layaknya klub motor yang tengah kopdar, para pengendaranya tidak banyak yang beranjak dari motornya.
Hal mencolok yang membedakan dari klub motor lain adalah jumlah roda tiap kendaraan.

Di klub motor tersebut, setiap motor memiliki roda tiga buah. Ada yang beroda samping seperti sidespan di Vespa. Ada juga yang belakangnya berubah menjadi dua roda, seperti sepeda roda tiga milik anak – anak.

Itulah gambaran Klub IM3Boys yang tengah mengadakan kopi darat (kopdar) untuk memperingati Hari Difabel Internasional (HDI) yang jatuh pada 3 Desember.

“Kita ini berkumpul untuk memperingati HDI. Anggotanya berasal dari Salatiga, Kabupaten Semarang dan Boyolali,” terang Suharyono, 58, Ketua Klub IM3Boys kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, klubnya sebenarnya sudah berdiri sejak 4 Maret 2011 silam. Namun jarang diketahui publik. Menurutnya, setiap bulan selalu diadakan pertemuan yang diikuti sekitar 25 anggotanya. Pertemuan rutin dilakukan dengan anjangsana dari satu anggota ke anggota yang lain. “Dari anjangsana itu, kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain dan lebih akrab,” katanya.

Selain itu, sama dengan klub lain, mereka juga melakukan touring ke luar kota, seperti Jogjakarta. Hal itu dilakukan jika cuaca bagus dan disepakati seluruh anggota. Namun syarat kelengkapan berkendara seperti SIM D yang khusus bagi kaum difabel dan perlengkapan di sepeda motor harus dipenuhi.

Seperti malam kemarin, mereka melakukan konvoi keliling Kota Salatiga. Hal itu dilakukan untuk menyosialisasikan keberadaan kaum difabel di Salatiga. Selain itu, mereka berharap agar pemkot lebih memperhatikan dan memberikan akses bagi kaum difabel seperti di kantor – kantor pelayanan publik. “Kita juga mensosialisasikan agar anak – anak yang menyandang disabilitas harus lebih percaya diri dan kuat,” papar Suharyono.

Anggota klub, Suhartoyo, 45, menambahkan, jika dalam membuat sepeda motor roda tiga membutuhkan biaya antara Rp 3,5 juta sampai Rp 4,5 juta. Selain itu juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan atau jenis disabilitasnya. “Sehingga fungsi utama membantu transportasi bisa dirasakan,” katanya.

Menurut dia, motor matic memang lebih praktis jika dibuat, namun memiliki kekurangan di kekuatan mesin, utamanya saat menanjak. “Saya sebelumnya menggunakan motor manual, dan sekarang saya ganti yang matic. Namun tenaganya bagus yang manual,” jelas Sardi, salah satu anggota yang sudah mengalami disabilitas sejak kelas 3 SD. “Untuk manual, rantai memang agak boros dan harus diganti yang besar,” tambahnya.

(sm/sas/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia