Minggu, 17 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Laba Bersih Sebulan Rp 2,7 M

Pabrik Pil PCC di Semarang

Selasa, 05 Dec 2017 13:19 | editor : Baskoro Septiadi

KELAS KAKAP: Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso menunjukkan mesin produksi pil PCC di pabrik Jalan Halmahera No 27 disaksikan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dan Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo.

KELAS KAKAP: Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso menunjukkan mesin produksi pil PCC di pabrik Jalan Halmahera No 27 disaksikan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dan Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID – Omzet pabrik pil Paracetamol, Caffeine, Caresoprodol alias PCC di Jalan Halmahera No 27 Karang Tempel, Semarang Timur sangat menggiurkan. Djoni, 38, pemilik pabrik tersebut mengaku mengeruk keuntungan bersih hingga Rp 2,7 miliar per bulan. Ia mengklaim baru tiga bulan menjalankan bisnis ilegalnya tersebut.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso mengatakan, pihaknya berhasil mengungkap dua  pabrik pembuatan pil PCC ilegal di Semarang dan Solo. Selain menyita barang bukti, petugas mengamankan pemilik pabrik bernama Djoni di Semarang, dan Sri Anggono alias Ronggo di Solo.“Kami amankan barang bukti 10 item.  Yang sudah jadi (pil) siap edar sebanyak 13 juta butir,” katanya saat jumpa pers di lokasi penggerebekan Jalan Halmahera No 27 (4/12).

Pria yang akrab disapa Buwas ini mengatakan, sebelum digerebek, pabrik di Semarang memproduksi 9 juta butir pil PCC dalam setiap harinya. Djoni mengaku baru menjalankan bisnis ilegal itu selama tiga bulan.  “Kalau ketangkap, bilangnya baru tiga bulan. Kalau kita telusuri, korbannya sudah banyak. Dimungkinkan sudah lama,” ujarnya.

Ia membeberkan, pemilik pabrik telah memiliki pangsa pasar atau agen-agen besar yang mayoritas berada di Kalimantan. Dalam buku catatan yang berhasil disita petugas, tertulis setiap pelanggan ada yang memesan 1 dus hingga 40 dus.

“Pelanggannya ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi. Satu orang ada yang pesan 50 dus atau 1 juta butir. Ini ada catatannya tidak bisa dipungkiri. Pemesannya ada yang berstatus haji. Ada yang namanya Aril. Rata-rata paling sedikit 2 koli. Ada 20 dus dan 40 dus," katanya sambil membaca buku catatan milik Djoni.

Pil PCC yang disita ada yang berwarna kuning terbungkus plastik. Ini paket hemat yang dijual Rp 3 ribu per butir. Ada juga paket mahal  warna putih pipih besar yang terbungkus aluminium foil. Per butir dijual seharga Rp 5 ribu- Rp 6 ribu.

Buwas menjelaskan, harga pil PCC warna kuning lebih murah, dan yang putih lebih mahal, karena kualitasnya hampir sama dengan narkotika.  “Sebulan, laba bersihnya mencapai Rp 2,7 miliar. Menurut saya, mereka ini semua biadab, lihat saja mereka gemuk kan, ketawa-ketawa. Sementara kegemukan mereka ini dari hasil penderitaan anak-anak kecil dengan cara membunuh generasi anak cucu kita,” tegasnya.

Pada penggererebekan itu, 11 orang berhasil diamankan. Yakni, Kristanto, 28; Zaenal, 34, dan Heri, 28, ketiganya warga Pandeglang, Banten. Kemudian Ade Ridwan, 40; Hartoyo, 44, dan  Ade Ruslan, 53, ketiganya warga Tasikmalaya. Selain itu, Budi, 32, asal Jatim; Sutrisno, 26, Suroso, 35, dan Ahmad, 51, warga Rembang; Panuwi, 60, asal Kudus, dan Kristiono, 35, warga Pemalang,

“Mereka karyawan yang digaji Rp 5 juta hingga Rp 9 juta. Keterlibatan para karyawan ini masih tetap diselidiki. Jika terbukti tahu pekerjaannya adalah membuat obat terlarang, maka akan diproses hukum lebih lanjut,” tegasnya.

Adapun barang bukti yang diamankan, di antaranya mesin pencetak pil PCC, mesin pres, mesin pengaduk, mesin pengering, pil PCC sudah dicetak dan dipres sebanyak 1,71 juta butir, pil PCC cetak sebanyak 5,41 butir, bahan baku mentah siap untuk dicetak sebanyak 156 kg dengan estimasi bisa menghasilkan 4 juta– 5 juta butir pil PCC, carisoprodol 20 zak, tepung 5 karung, 17 drum paracetamol, dan 1 unit mobil Daihatsu Luxio.

Sedangkan barang bukti yang diamankan dari mes karyawan di Jalan Gajah Timur Dalam 1 No 2 Semarang, antara lain 1 juta pil PCC, 1.390 pil warna kuning yang disebut Nova, 8 karton pil Angiofen sebanyak 72 ribu butir, 53 dus pil Carisoprodol merek Sumadril berisi 5.300 butir, serbuk warna kuning pembuatan pil Nova sebanyak 27 kg dengan estimasi menghasilkan 1 juta butir pil; 180 rol aluminium foil obat merek Zenith Carnophen seharga @ Rp 5 juta,  1 unit mobil Nissan  Evalia, dan 1 unit sepeda motor Honda VCX warna putih.

“Bahan-bahan ini sudah jelas semuanya ilegal. Bahan baku sama yang di Kepri (Kepulauan Riau). Ada Paracetamol. Ini didatangkan dari India dan China. Bahan-bahan ini sudah jelas semuanya ilegal” tegasnya. 

Buwas mengatakan, kasus peredaran pil PCC yang sudah dilarang ini telah banyak menimbulkan korban jiwa. Bahkan, menurut Buwas, berkali-kali terjadi di luar Pulau Jawa, terutama di Kalimantan.“Yang lalu itu di Kendari, ada yang meninggal dunia. Korbannya ada anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebanyak 62 orang,” terangnya.

Menurutnya, peredaran pil PCC di Sampit, Kalimantan Tengah sudah sangat mengkhwatirkan. Karena target pasarnya anak-anak. Pengaruh pil PCC ini sama halnya dengan tembakau gorilla.“Kalau berlebihan ya seperti Flaka, buktinya kemarin ada yang seperti zombie, ada yang loncat dan meninggal. Ini di balik penggunaan obat-obatan dari jaringan ini. Mereka membuat obat-obatan ini, karena nilai jualnya bisa menyamai narkotika lainnya,” bebernya. 

Pada kasus ini, lanjut dia, penanganan lebih lanjut akan dilakukan oleh penyidik Direktorat 4 Bareskrim Polri yang di-backup BNN pusat, dengan tujuan agar jaringan kasus ini bisa terungkap tuntas. 

“Saya akan terus memberantas ini sampai tuntas. Masuknya barang ini bagaimana, dari mana, pakai fasilitas apa. Akan kita telusuri dan kita kembangkan. Nanti kita juga akan menelusuri aliran uang yang ada di tabungan pemilik. Itu nanti dari petugas Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU),” tegasnya.

Buwas menyebutkan, pil PCC yang diproduksi di Semarang dan Solo dibuat dengan ngawur. Petugas BNN belum menemukan indikasi pemiliknya memiliki latar belakang bidang farmasi. Pelaku utama, yakni Djoni membuat berdasarkan perkiraan dan pengalaman karena diduga ia bukan pemain baru.

“Tidak ada hubungan farmasi, ngawur-ngawur. Berdasar perkiraan dan pengalaman. Dia bukan pemain baru karena pintar meracik. Ini dari berbagai bahan," katanya. “Ini memerlukan keahlian yang bisa didapat dari pendidikan atau pengalaman. Secara pendidikan formal belum ada,” imbuhnya.

Pantauan koran ini, rumah mewah yang digunakan pabrik pil PCC di Kota Semarang dibagi menjadi beberapa bagian. Mulai dari ruang pengolahan bahan mentah hingga pengemasan. Buwas pun menunjukkan proses pembuatan obat terlarang itu. Ia mengajak koran ini masuk dari pintu samping dan langsung ada tumpukan bahan baku di ruangan pertama yang ditemui. Ia menjelaskan, bahan baku itu dibawa ke ruang pengolahan berisi mesin pengoplos, mesin pengayak, dan tempat pengering. “Ada 3 jenis bahan dituang di situ, diolah dan dicampur. Setelah dicampur diayak, jadilah tepung halus, lalu dikeringkan," bebernya di ruang pengolahan.

Buwas juga menunjukkan ruang berikutnya yang berisi mesin pencetak butiran obat. Bahan baku yang sudah diolah dan dikeringkan berupa bubuk dimasukkan dari atas mesin. “Dicetak di sini. Sekali cetak 35 butir (per detik) kemudian diangkut ke ruangan sebelah,” jelasnya.

Ruangan berikutnya merupakan tempat pengemasan. Butiran obat dikemas dalam kaplet berisi 10 butir. Produsen PCC menggunakan merek obat yang cukup ternama untuk dipalsukan. "Sehari bisa 9 juta butir," katanya sambil menunjukkan obat yang sudah dikemas kaplet.

Ruangan  yang digunakan untuk tempat produksi dilengkapi peredam suara berwarna kuning. Fungsinya agar para tetangga tidak tahu ada aktivitas mesin di rumah yang disewa tersangka Djoni itu.

"Di dalam mesin cetak canggih sudah khusus, kedap suara. Jadi, di sini tidak kena (suaranya),  tertutup. Sehingga yang ada di sini tidak mengetahui, karena mereka sudah tertutup, jadi tidak ketahuan," ujarnya.

Buwas sempat menanyai apakah para pelaku pernah mencicipi obat yang dibuat? Djoni mengaku pernah dan digunakan untuk mengobati pegal-pegal, sedangkan Ronggo belum pernah sama sekali. “Pernah Pak, buat pegal-pegal,” ujar Djoni.

Diketahui, PCC asli sebenarnya obat untuk mengobati masalah otot dan pegal-pegal dengan kandungan Carisprodolum 200 mg, Acetaminophenum 150 mg, dan caffeium 32 mg. Namun kandungannya disalahgunakan. Bahkan semua jenis obat PCC dari berbagai produsen sudah dilarang produksi sejak 3 tahun lalu.

PT Zenith Pharmaceutical bahkan sudah menarik produk Carnophen tersebut sejak 27 Oktober 2009, dan tidak lagi memproduksinya setelah ada surat dari Badan POM No: PO.02.01.1.31.3997 dan HK.00.05.1.31.3996. Jadi ,bisa dipastikan PCC mengatasnamakan "Zenith" tersebut palsu.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Direktur TPPU BNN, Andi Faisal, mengaku telah mengumpulkan profil tersangka. Namun ia belum dapat menyebutkan berapa jumlah aset yang dimiliki tersangka.

“Penyelidikan kami optimalkan untuk mengetahui seberapa besar aset yang didapat. Harus diketahui juga pendekatan dalam penyidikan tindak pidana asal dan TPPU itu berbeda. Tindak pidana asal itu follow the suspect, mengejar kepada tersangka. Kalau TPPU itu follow the asset, follow the money. Mengejar ke mana aset dan uang yang dicuci, tidak menutup kemungkinan akan dibuang ke luar negeri,” jelasnya.

Pengusutan TPPU tersebut dilakukan untuk memberantas peredaran gelap narkotika. Andi mengibaratkan darah yang ada di dalam tubuh pelaku kejahatan narkotika, aliran darahnya harus dimatikan dengan cara merampas asetnya.

“Harapannya setelah kita lakukan penegakan hukum pemberantasan narkotika dengan TPPU, tindak pidana itu akan tereliminasi menjadi sedikit. Cara ini sudah menjadi idola di dunia Barat untuk memberantas narkotika,” imbuhnya.

Kepala Pelaksana Harian (Plh) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang, Woro Pujihastuti, menambahkan, akan meneliti terlebih dahulu kandungan pil tersebut. Soal peredaran bahan baku PCC, pihaknya akan menelusuri lebih lanjut. Tapi ia menduga bahan baku dikirim tidak melalui izin resmi alias ilegal.

(sm/mha/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia