Sabtu, 16 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Akibat Cuaca Buruk, Produksi Pangan Merosot

Senin, 04 Dec 2017 11:46 | editor : Ida Nor Layla

Yuni Astuti, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng

Yuni Astuti, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng (ISTIMEWA)

RADAREMARANG.ID-SEMARANG. Siklon Tropis Cempaka yang menerjang Jateng akhir November lalu membuat produksi pangan di Jateng terancam menurun. Yang paling terpengaruh terutama komoditas pertanian dan ikan.

Dari data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, sudah ada 13.182 hektare lahan pertanian di sejumlah wilayah terancam gagal panen akibat diterjang banjir. Seperti di Kabupaten Wonogiri, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Cilacap, Grobogan, dan Demak.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, Yuni Astuti menjelaskan, komoditas pangan yang terancam gagal panen antara lain padi, semai padi, jagung, bawang merah, kacang panjang, terong, kacang tanah, pepaya, cabai, dan ketela.

"Yang paling banyak terdampak banjir adalah padi. Paling banyak ada di Kabupaten Wonogiri disusul Kabupaten Sragen. Luasannya masing-masing mencapai ribuan hektare," terangnya, Minggu (3/12/2017).

Untuk padi totalnya ada 12.865,6 hektare, semai padi ada 197.02 hektare, jagung 51 hektare, bawang merah 1,5 hektare, kacang panjang 6 hektare, terong 2 hektare, kacang tanah 5 hektare, pepaya 15 hektare, cabai 2 hektare, dan ketela 38 hektare.

Selain pertanian, produksi ikan laut juga terancam menurun. Sebab, Siklon Tropis Cempaka membuat gelombang laut utara dan selatan Jateng meninggi. Nelayan pun diimbau untuk libur melaut sementara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng, Lalu M Syafriadi mengatakan, kondisi alam yang berdampak pada tingginya gelombang di laut bahkan hingga mencapai enam meter, sangat berbahaya bagi nelayan ketika melaut.

"Kami mengimbau masyarakat nelayan untuk tidak melaut. Karena ini semata-mata faktor cuaca yang tidak mendukung. Di satu sisi cuaca sedang memperbaiki dirinya," jelasnya.

Selain membahayakan lanjutnya, dalam kondisi siklus alam yang ada saat ini, sebenarnya juga sedang dimanfaatkan oleh sejumlah spesies ikan laut tertentu untuk berkembang biak. Karena itu, sebaiknya berikan waktu bagi ikan tersebut untuk bereproduksi.

"Memang ada spesies-spesies ikan tertentu justru pada kondisi seperti ini mereka berkembang biak. Jadi ini siklus alam. Berikan waktu bagi mereka untuk berkembang biak dulu," katanya.

Sementara pada fase ini, kata Lalu, nelayan diimbau untuk melakukan aktivitas lain. Semisal memperbaiki jaring, memperbaiki kapal, dan menyiapkan alat-alat tangkap ikan lain.

Dijelaskan, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi nelayan selama cuaca buruk, pihaknya meminta pemerintah kabupaten/kota mengucurkan dana hasil retribusi dari tempat pelelangan ikan. "Dana itu untuk masa paceklik seperti ini," katanya.

Dana tersebut, lanjut Lalu, bisa digunakan untuk membantu para nelayan yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk. Sehingga, kebutuhan keluarga nelayan sehari-hari bisa tetap tercukupi. "Entah berupa uang maupun bahan makanan. Itu kan sebenarnya tabungan mereka yang bisa diberikan saat paceklik seperti sekarang," tegasnya. 

(sm/amh/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia