Rabu, 13 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Berita Daerah

Pedagang 7 Pasar segera Direlokasi

Senin, 04 Dec 2017 11:20 | editor : Ida Nor Layla

Puluhan pasar tradisional di Kota Semarang akan direvitalisasi agar bisa mengikuti perkembangan zaman.

REVITALISASI PASAR : Puluhan pasar tradisional di Kota Semarang akan direvitalisasi agar bisa mengikuti perkembangan zaman. (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-SEMARANG. Sebanyak 48 pasar tradisional di Kota Semarang terus dilakukan penataan secara bertahap. Keberadaan pasar tradisional tersebut apabila tidak tergarap secara serius terancam mati, karena tergerus perkembangan zaman. Sebagian telah dilakukan revitalisasi, baik pembangunan infrastruktur maupun penataan manajemen pasar. Namun sebagian besar masih menunggu giliran.  

Dinas Perdagangan Kota Semarang saat ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) terkait penataan pasar tradisional tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu dekat, Dinas Perdagangan Kota Semarang akan merelokasi pedagang di tujuh pasar tradisional.

“Kami akan merelokasi pedagang tujuh pasar, yakni Srondol Kulon, Pasar Waru, Pasar Suryokusumo, Pasar Klitikan, Pasar Simongan, Pasar Yaik Baru, dan Pasar Kanjengan. Kami targetkan pertengahan Februari harus sudah masuk semua di tempat relokasi,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Minggu (3/12/2017).

Dari ketujuh rencana relokasi tersebut, satu di antaranya akan memindah ribuan pedagang Pasar Yaik Baru ke kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) paling lambat Februari 2018. Begitu juga pedagang kaki lima di Jalan Barito yang terdampak pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), direlokasi paling lambat Februari sudah masuk ke Pasar Klitikan Penggaron.  “Sedangkan enam pasar lain pada pertengahan Januari (2018) harus sudah masuk ke tempat relokasi,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, Pasar Srondol Kulon yang saat ini kondisinya memprihatinkan karena pedagangnya tersisa 15 pedagang, akan segera dilakukan pembangunan. Pasar tersebut akan dipertahankan dan ‘disulap’ menjadi pasar pusat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Pasar ini dinilai masih memiliki potensi besar.

"Pasar Srondol Kulon akan diubah konsepnya, menjadi pasar pusat UMKM. Nantinya berbagai klaster seperti klaster batik, keramik, bunga, dan lain-lain akan dipusatkan di pasar tersebut. Kami menyiapkan anggaran Rp 12 miliar. Kami berharap, Pasar Srondol Kulon akan menjadi salah satu pasar unggulan,” katanya.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto, menilai program revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang hingga sejauh ini masih jauh dari maksimal. Menurut dia, revitalisasi pasar cenderung masih sebatas megah infrastrukturnya saja. Faktanya, sejumlah pasar tradisional yang telah dibangun bertingkat malah justru banyak kios-kios mangkrak.  “Sebetulnya, program revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang telah dicanangkan sejak 2010 silam. Tetapi hingga kini belum menggembirakan. Mengapa roh pasar tradisional itu malah justru mati? Tentu ini ada bottleneck (komponen yang tidak bekerja optimal, Red)," kata Wachid.

Sementara itu, Pemkot Semarang segera menyiapkan tahap lanjutan pembangunan Pasar Johar Baru. Beberapa titik pembangunan di pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara ini akan berjalan secara pararel. Di antaranya, pembangunan gedung di lahan eks Kanjengan, Pasar Johar Cagar Budaya, dan selanjutnya dalam waktu dekat adalah perobohan Pasar Yaik Baru.    “Pedagang Pasar Johar di Yaik Baru ini harus pindah di MAJT, karena Yaik tahun depan (2018) sudah ada anggaran Rp 50 miliar. Pak Wali Kota janjinya dulu mau bangun Pasar Johar cagar budaya dulu baru dipindah? Persoalannya begini lho, kita ini dapat berkah. Ada anggaran percepatan dari pemerintah pusat. Masak membangun harus menunggu dua tahun lagi lha wong dananya sudah ada,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Dikatakannya, pembangunan Pasar Johar Baru semakin cepat semakin baik. Sehingga persoalan pedagang Pasar Johar semakin cepat tuntas dalam waktu dekat. “Pedagang tidak terombang-ambing seperti hari ini di MAJT. Jadi, semua pihak harus memaklumi (relokasi) itu. Nanti ada penolakan dengan demo, ya monggo. Yang kami lakukan bukan untuk pribadinya Hendi. Saya, Hendi, tidak punya kios di Johar. Tapi, Hendi, sebagai wali kota berkomitmen bahwa Pasar Johar harus dibangun secepatnya,” ungkapnya.  

Orang nomor satu di Kota Semarang ini berjanji pembangunan Pasar Johar bisa diselesaikan 2019. Artinya, pembangunan terakhir di anggaran 2019 telah mampu dituntaskan. “Selesai bulan Desember 2019. Sehingga awal 2020 sudah bisa ditempati pedagang. Ini ‘Bandung Bondowoso’ lho. Bayangkan nggak gampang lho nyari duit Rp 720 miliar itu. Nilai itu hanya untuk pembangunan Pasar Johar, makanya harus didukung,” katanya.

(sm/amu/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia