Jumat, 15 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Travelling

Jalan-Jalan dan Belajar Sejarah di Pecinan Semarang

Senin, 04 Dec 2017 07:00 | editor : Pratono

BELAJAR TOLERANSI: Peserta Widya Mitra Heritage Walk 2017 saat berkunjung di Gedung Boen Hian Tong, Minggu (3/12/2017).

BELAJAR TOLERANSI: Peserta Widya Mitra Heritage Walk 2017 saat berkunjung di Gedung Boen Hian Tong, Minggu (3/12/2017). (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID—Banyak cerita yang bisa didapat dari kawasan Pecinan Semarang. Sekitar 50 orang mengikuti acara jelajah sejarah sejumlah tempat di Pecinan, Minggu (3/12/2017).

Dalam acara Widya Mitra Heritage Walk 2017 ini, peserta diajak berkunjung ke Rumah Kopi, pasar Gang Baru, pembuatan rumah kertas, pembuatan bongpay, Tjiang Residence, gedung pertemuan Boen Hian Tong, rumah perkumpulan kaligrafi, gedung Tjap Kodok, Gedung Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) dan Kelenteng Hwie Wie Kiong.

Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau yang juga dikenal dengan Rasa Dharma merupakan salah satu bagian dari perkembangan Pecinan Semarang. Boen Hian Tong diyakini sebagai perkumpulan Tionghoa tertua di Semarang, berdiri pada 1876.

Yang menarik, di dalam gedung ini terdapat satu bentuk penghormatan pada Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau yang dikenal sebagai Gus Dur. “Di Boen Hian Tong terdapat Sinci Gus Dur,” tutur Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim. Sinci adalah papan kayu bertuliskan nama leluhur yang sudah meninggal dan diletakkan pada altar penghormatan. Nama-nama yang tercantum dalam sinci akan selalu didoakan oleh warga.

Ketua RT di lingkungan Gang Besen Heru Fenas menjelaskan, gedung Tjap Kodok dulu merupakan tempat tinggal pemilik pabrik ubin yang terkenal di Pecinan Semarang. Nama Tjap Kodok berasal dari merek ubin yang diproduksi. Rumah 2 lantai di Gang Besen yang saat ini sedang direnovasi tersebut sering digunakan sebagai lokasi syuting film nasional.

Heru ingin rumah tersebut bisa memberikan manfaat bagi kawasan Pecinan Semarang. Misalnya digunakan sebagai museum Pecinan. “Saya sudah mengusulkan agar dijadikan cagar budaya ke Pemerintah Kota Semarang, tapi tidak pernah mendapatkan tanggapan,” jelas salah satu pendiri Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) ini.

Tempat yang memiliki sejarah tak kalah menariknya adalah gedung Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Gang Tengah. Ketua Yayasan Widya Mitra Semarang Widjajanti Darmowijono menjelaskan, THHK berdiri pertama kali pada 1900 di Batavia sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anak Tionghoa. Sementara di Semarang, THHK mulai dibuka pada 1904. Pembukaan lembaga pendidikan Tionghoa ini akhirnya menginspirasi kelompok-kelompok lain untuk membuka sekolah yang terpisah dengan lembaga pendidikan pemerintah Hindia Belanda.

(sm/ton/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia