Rabu, 13 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Features
Selamatkan Petani Tembakau-3

Petani Tembakau Kurang Diperhatikan

Senin, 27 Nov 2017 11:15 | editor : Ida Nor Layla

Petani tembakau di Temanggung sedang menjemur tembakau yang sudah dirajang dan siap dijual.

HARGA TIDAK MENENTU: Petani tembakau di Temanggung sedang menjemur tembakau yang sudah dirajang dan siap dijual. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-SEMARANG. DPRD Jateng menilai pemerintah pusat, Pemprov Jateng maupun kabupaten/kota belum sepenuhnya memihak petani tembakau di Jateng. Hal itu terbukti masih dibukanya kran impor dengan berbagai dalih yang kemudian membuat petani tembakau kelimpungan.

Dewan meminta agar pemerintah bisa lebih memperhatikan petani tembakau di Jateng. Karena kontribusinya sangat besar, apalagi jika tembakau sudah dijadikan rokok. Pasti akan dikenai pajak cukai dan pajak rokok yang nilainya triliunan rupiah.

"Saya kira memang perhatian untuk petani tembakau masih minim, tak terkecuali di Jateng," kata Anggota Komisi B DPRD Jateng, Achsin Ma'ruf kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menambahkan, Jateng merupakan salah satu sentra penghasil tembakau yang sangat berkualitas. Misalnya, di Temanggung, Kendal, Kabupaten Semarang, Boyolali, Demak, dan Wonosobo. Hasil produksinya ternyata juga sangat banyak, dan jelas dengan kualitas yang bagus.

"Kalau ini digarap serius, saya kira pasti kebutuhan tembakau tercukupi. Petani enggan menanam karena ketika panen dibenturkan dengan kebijakan impor yang membuat harga tembakau lokal anjlok," ujarnya.

Politisi PAN ini menambahkan, pemerintah jangan hanya mau enaknya saja. Pemprov maupun daerah harus bisa berkomitmen melindungi petani tembakau. Apalagi kultur sebagian masyarakat tak bisa dilepaskan dari kretek yang sudah berlangsung turun-temurun. "Harus ada sikap tegas, jangan mengeluarkan kebijakan melarang, tapi nyatanya butuh dari pajaknya," tegasnya.

Dewan mengaku banyak mendapatkan keluhan dari petani tembakau di Jateng. Pihaknya akan memanggil dinas terkait untuk mengetahui lebih detail berapa produksi yang dibutuhkan, dan berapa hasil produksi petani tembakau. Dengan begitu, jelas akan mempermudah untuk mengeluarkan kebijakan terkait dengan sektor pertembakauan.

"Bagaimanapun petani tembakau harus dilestarikan, jangan kemudian ada kebijakan peralihan tanaman. Karena ini merupakan salah satu ciri khas dan sudah banyak berkontribusi untuk pendapatan daerah," tambahnya.

(sm/fth/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia