Senin, 11 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Features
Selamatkan Petani Tembakau-2

Harga Tak Menentu, Minta Stop Impor Tembakau

Senin, 27 Nov 2017 11:12 | editor : Ida Nor Layla

Petani tembakau, Mashari, menunjukkan tembakau rajangan yang siap dijual.

BELUM SEJAHTERA: Petani tembakau, Mashari, menunjukkan tembakau rajangan yang siap dijual. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-DEMAK. Daun tembakau telah menjadi kebutuhan pokok industri rokok yang mendunia. Namun para petani penanam “daun emas” ini belum sepenuhnya menikmati hasil panen yang memuaskan lantaran harga tembakau sering anjlok. 

Petani tembakau asal Dukuh Cogeh, Desa Tlogorejo, Kecamatan Karangawen, Demak, Mashari, 47, mengatakan, harga jual tembakau dari hasil panen petani sering jatuh, hingga mengakibatkan banyak petani tembakau merugi. "Harga tembakau tidak stabil, sering turun. Kadang hasilnya tidak sesuai dengan jerih payah saat menanam di sawah," keluhnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/11).

Ia mengaku menjadi petani tembakau sejak 2010. Pada musim tanam kali ini, ia telah memulai menanam sejak Juni - Juli 2017 lalu pada saat musim kemarau. Sebagian besar para petani di daerahnya sudah mulai memetik hasilnya. Mashari sendiri telah memetik 10 kali daun tembakau. Setidaknya di lahan seluas 250 meter persegi itu terkumpul 100 kg tembakau dalam bentuk rajangan. "Saya metik pertama 50 kg. Kalau dirajang ya cuma jadi 5 kg. Total semuanya yang sudah saya jual 43 kg dan 29 kg. Sudah dapat Rp 2 juta," akunya.

Tembakau hasil jerih payahnya tersebut dijual kepada tengkulak. Penjualan pertama tembakau seberat 43 kg dihargai Rp 27.500 per kg. Sedangkan yang 20 kg hanya dihargai Rp 20 ribu per kg. "Kalau harga normalnya di daerah sini ya Rp 35 ribu per kg. Kalau daerah lain kurang tahu. Ini yang sisa 5 kg saja paling hanya dihargai Rp 10 ribu per kg," ujarnya.

Harga jual tembakau kepada tengkulak tidak pernah naik. Justru seringnya turun. Bahkan, pada musim panen tembakau tahun lalu, ia hanya mendapatkan Rp 100 ribu.  "Panen hanya dapat Rp 100 ribu. Ya, karena pas panen musim hujan sudah tiba. Jadi, daunya alum, tidak ada panas. Padahal yang bagus itu panennya pas musim panas. Bisa untuk njemur juga," katanya.

Anjloknya harga tembakau ini sering dikeluhkan petani. Sebab, hasilnya tidak sebanding dengan jerih payah mulai proses penyemaian hingga pengrajangan. Bahkan, hasil yang diperoleh sering tidak bisa mengembalikan modal menanam tembakau.

Safii, petani tembakau tetangga Mashari juga mengeluhkan serupa. Ia menanam tembakau di lahan seluas 500 meter persegi sejak 2005. Tahun ini, tanaman tembakau telah dipanen sejak September 2017 lalu. Ia telah memetik sebanyak 8 sampai 9 kali.

"Waktu metik pertama, saya jual ke tengkulak,  harganya Rp 30 ribu per kg. Sekarang kalau musim hujan begini ya paling tinggi Rp 15 ribu. Memang tanam tembakau kadang ya rugi, beli pupuk saja sampai 2 kuintal, Rp 400 ribu," terangnya.

Para petani berharap kepada pemerintah ikut membantu menstabilkan harga tembakau. Selain itu, pemerintah juga secepatnya menghentikan impor tembakau. "Supaya tidak mematikan petani tembakau seperti kami. Stok tembakau dari petani kan banyak, kenapa harus impor tembakau? Kualitas daun tembakau lokal juga tidak kalah dengan tembakau impor," keluhnya. 

(sm/mha/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia