Jumat, 15 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Features
Lebih Dekat dengan Komunitas SUCKS

Asah Kemampuan Open Mic Seminggu Dua Kali

Senin, 27 Nov 2017 10:54 | editor : Ida Nor Layla

Sebagian anggota Komunitas Stand Up Comedy Kota Semarang (SUCKS) saat berkumpul.

KOMIKA SEMARANG: Sebagian anggota Komunitas Stand Up Comedy Kota Semarang (SUCKS) saat berkumpul. (DOKUMEN SUCKS FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-SEMARANG. Setiap orang memiliki kepuasan jika dapat membuat lawan biacaranya tertawa. Hal itu juga menjadi dambaan para komika atau sebutan bagi para pelaku stand up comedy. Di Semarang, para  komika ini tergabung dalam Komunitas Stand Up Comedy Kota Semarang (SUCKS). Seperti apa?

KEPINTARAN mengolah kata dan membaca suasana sangat diperlukan oleh para komedian yang mengandalkan penyampaian dari materi yang dibawakannya. Bagi komunitas Stand Up Comedy Kota Semarang, hadir di tengah penonton dan berhasil memantik tawa digunakan untuk mengembangkan kepercayaan diri dan sebuah prestasi.

“Materi di stand up comedy harus informatif. Biasanya banyak mengambil dari pengalaman pribadi. Seringnya tentang keresahan,” ungkap anggota SUCS angkatan pertama, Obin Robin.

Komunitas para komika ini terbentuk pada 2011. Diketuai oleh Gondrong, saat ini SUCKS telah memiliki anggota sebanyak 60 komika yang memiliki latar belakang beragam mulai usia SMP hingga yang telah berusia 50 tahun. Menjadi komika, tidak bisa serta merta seperti para komika anggota SUCKS yang rutin berlatih dalam kegiatan open mic. Tentunya di hadapan para penonton di sebuah kafe. “Kami open mic seminggu dua kali. Tiap Kamis dan Minggu,” terangnya.

Ia yang juga penyiar di C Radio Semarang itu menuturkan, penggemar stand up comedy sempat menurun. Tak hanya komikanya, namun juga penontonnya. Ia menceritakan pada 2016, komedi yang disampaikan secara monolog di Semarang benar-benar sepi. Tidak ada agenda open mic yang biasanya bisa dibanjiri penonton.

Beruntung, kondisi itu tak bertahan lama. Sebab, pada awal 2017, stand up comedy di Semarang mulai bangkit, bahkan dikenal hingga kancah nasional. Paling baru ialah Yoga Ya Yugo. Komika asal Semarang yang berhasil masuk delapan besar SUCA (Stand Up Comedy Academy) 3 Indosiar.

“Sebelumnya da Rizal Ganyos. Dia 15 besar di acara Kompas TV. Kemampuan yang baik mendukung pencapaian yang baik. Potensi mereka tentu memacu komika lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, stand up comedy tidak sekadar melucu semata. Sebelum pentas, komika harus mengalami proses panjang lebih dulu. Diawali dengan menyusun cerita berupa naskah tertulis, berlatih untuk menguasai materi, hingga karakter yang digunakan dalam penyampaian.

“Kebanyakan komika baru hanya pengin lucu dan tidak menuliskan yang seharusnya ditulis. Akhirnya mereka tampil tanpa ekspresi dan penekanan materi. Minimnya penguasaan materi membuat komika mengalami kegagalan dalam memantik tawa penikmatnya,” beber alumni FISIP Undip 2012 ini.

Grogi, sambungnya, bukan sebuah halangan. Pasalnya, keadaan tersebut pasti dialami semua komika. Bahkan, komikus kelas nasional seperti Ernest Prakasa dan Dodit Mulyanto pun pasti mengalami perasaan grogi.

“Bahan ada yang muntah-muntah sebelum pentas, menelepon orang tuanya, mendengarkan lagu, dan sebagainya,” imbuhnya.

Bagi Obin, stand up comedy juga sekaligus menjadi pembelajaran bagaimana ber-public speaking. Komika harus mempunyai cara berkomunikasi yang baik dengan penontonnya. Ia mencontohkan, 30 detik pertama adalah hal yang paling penting.

“Kalau sudah mampu membentuk suasana di 30 detik pertama, sampai akhir akan lebih mudah. Harus banyak pengalaman panggung. Kepercayaan diri akan diraih,” tuturnya.

Prestasi, terang Obin, tolok ukurnya adalah panggung. Banyaknya panggung akan membentuk rasa percaya diri di hadapan penonton.

“Di panggung penonton tertawa itu menjadi nomor satu. Karena itu hasil kerja kita sebelumnya, dalam menulis dan membaca. Bisa masuk kontes nasional dan memenangkan lomba itu juga prestasi yang baik dan akan memicu orang lain,” pungkasnya.

(sm/tsa/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia